DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 07 Juli 2017, 16:28 WIB

Kolom Kalis

Jilbab Metal Voice of Baceprot: Bagaimana Perempuan Melawan

Kalis Mardiasih - detikNews
Jilbab Metal Voice of Baceprot: Bagaimana Perempuan Melawan Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - "Perempuan gagah itu adalah perempuan yang berani berdiri di atas stage dengan percaya diri hingga mampu menggerakkan para metalhead." Begitulah bunyi status Facebook band metal asal Garut, Voice of Baceprot (VoB).

VoB terdiri dari tiga personel. Firdda Kurnia lantang bernyanyi lagu-lagu Metallica dan Slipknot, juga lagu ciptaan pribadi berjudul The Enemy of Earth is You bersama dua temannya, Eusi Siti Aisyah (drummer) dan Widi Rahmawati (bassist). Trio jilbab asal kota dodol di Jawa Barat ini mendefinisikan kelompok musik mereka sebagai band pelajar perempuan yang mencoba menyuarakan kegelisahan hati akan dunia remaja yang kian hari kian kehilangan warnanya.

Mengapa VoB penting kita bicarakan? Atau, mengapa kita berkepentingan menduga bahwa jilbab yang kebetulan dikenakan VoB dapat digunakan sebagai alat politik wacana perempuan?

Pada sebuah konser beberapa band lawas tersohor beberapa tahun lalu di stadion Maguwoharjo, Yogyakarta pandangan saya menangkap serombongan perempuan yang menawarkan produk rokok. Layaknya profesi sales promotion girl (SPG), mereka memakai pakaian cukup ketat dan terbuka. Padahal, udara malam itu cukup dingin. Mereka berjalan dari satu gerombolan laki-laki ke gerombolan lainnya. Sebagian membeli, sebagian tidak, tetapi yang pasti kedatangan mereka selalu ditingkahi dengan siulan atau disambut dengan unsur-unsur sapaan yang tak sopan.

Sudah sejak lama perempuan pekerja yang terpaksa berpakaian menarik semacam itu distigma bukan berdasarkan profesi yang dijalani, termasuk kepada SPG kosmetik, aksesoris, hingga mobil mewah di hotel bintang lima. Padahal, mereka perempuan biasa. Mereka mencari nafkah. Salah satu sumber stigma itu kadang-kadang berasal dari agama.

Jika kita menggunakan perspektif teks Islam untuk membahas perempuan, akan mudah kita jumpai paradoks bahwa muslimah sebagai sumber fitnah utama. Akan tetapi di sisi lain, ia juga disanjung sebagai tiang negara.

Ada beberapa ustaz laki-laki yang begitu hobi menguliti perempuan, namun sayangnya tidak diimbangi dengan upaya mengedukasi laki-laki. Dalil induk yang digunakan adalah "lelaki merupakan pemimpin bagi kaum perempuan."

Dalil itu menimbulkan konsekuensi lanjutan seperti, istri wajib patuh kepada suami, istri wajib menyerahkan tubuhnya kepada suami ketika diminta, tugas istri adalah di dalam rumah, istri dilarang keluar rumah kecuali atas izin suami, suami boleh memukul istri, kerelaan Tuhan tergantung kerelaan suami pada istrinya, hingga wacana poligami sebagai ketetapan agama.

Wasiat-wasiat itu termaktub dalam kajian Islam klasik mulai dari Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Syaikh Nawawi Banten dalam Uqud Al Lujain hingga Syarh Qurrah Al Uyun karya Idris al Hasani. Semua sumber tersebut adalah karya babon yang diajarkan secara turun-temurun di pesantren dan lembaga-lembaga kajian keagamaan dan diajarkan oleh para ulama yang berkapasitas ilmu mumpuni.

Dalam mazhab yang cukup ketat, seperti Maliki dan Hambali, tafsir atas prosesi pernikahan bahkan benar-benar serupa jual-beli, alias dibelinya perempuan oleh laki-laki dengan menggunakan mahar. Kata kunci seperti tugas, kewajiban dan larangan yang selalu muncul mengikuti subjek perempuan pada diskursus fikih ibadah, mau tak mau menghasilkan implikasi dalam kehidupan sehari-hari maupun hidup bermasyarakat, yakni perempuan adalah subjek kedua setelah laki-laki.

Bukan, saya tidak hendak mengajari perempuan untuk melawan. Tetapi, seiring berkembangnya kapitalisme dunia global yang mau tak mau melibatkan perempuan ke ruang publik karena kurangnya sumber daya untuk menjalankan kantong-kantong produksi, implikasinya terkadang berubah menjadi nanggung ketika dipertemukan dengan nilai agama, semisal: karena laki-laki saja tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi, kini perempuan boleh bekerja.

Tetapi, di pengajian tertentu ibu rumah tangga tetap dianggap lebih mulia menurut agama. Atau, perempuan berkarya itu baik, tetapi mereka yang menjaga diri di rumah adalah perempuan terhormat.

Alih-alih memuliakan perempuan, materi seperti itu justru memunculkan chaos internal antarsesama perempuan. Stereorip negatif terus dilekatkan kepada mereka yang bekerja sebagai SPG, front-office, polisi, seniman dan pekerjaan ruang publik lainnya. Akan lebih lengkap jika teks agama itu bertemu dengan kata "ora ilok" yang diusung oleh nilai lokalitas.

Seorang agamawan dengan ekonomi berkecukupan kadang tidak peduli bahwa di balik pekerjaan yang dilakoninya, ternyata perempuan itu berjuang untuk suaminya yang sakit kanker, atau anak-anaknya di rumah yang ingin terus bersekolah. Sedangkan, tanpa stereotip pun posisi perempuan buruh seringkali sudah berat.

Di daerah, para perempuan penjaga toko masih banyak yang mendapat gaji setara dengan harga beras sekilo saja. Mereka berdiri sepuluh jam per hari, tanpa uang makan dan bonus lainnya. Konon, para pemilik modal menganggap perempuan bekerja hanya sebagai sosok yang membantu tambahan penghasilan suami, hingga gajinya pun cukup dianggap bukan pokok, namun sebagai nominal tambahan saja.

Yang lebih berbahaya lagi, stereotip negatif adalah semacam legitimasi bagi seseorang untuk memandang rendah orang lain, hingga orang tersebut dianggap boleh digoda, diperkosa, dan bermacam tindak kekerasan lainnya. Pola kekerasan terhadap perempuan semakin kompleks dengan beragam pola dan tingkat variasinya, serta lebih cepat dari kemampuan negara untuk merespons.

Di Twitter, misalnya, teman-teman laki-laki masih sering iseng memotret bagian tubuh tertentu dari perempuan, dan mereka unggah disertai dengan kalimat canda. Tanpa sadar, hal itu telah menjadi bagian dari pelabelan negatif pada perempuan. Kekerasan dan kejahatan cyber semakin rumit pola kasus kekerasannya, mulai dari pembunuhan karakter, pelecehan seksual melalui serangan di dunia maya yang dirasakan dan berdampak langsung dan berjangka panjang pada korban.

Tiga gadis berjilbab berada di panggung untuk memainkan musik metal di ruang publik di Indonesia, sesungguhnya bukan sekadar simbol seorang penampil, tetapi memiliki identitas lain sebagai perempuan, muslimah, dan berjilbab. Identitas fisik, gender sekaligus identitas keagamaan itu membuat aksi mereka dianggap menantang stereotip oleh banyak viewer yang mengapresiasi mereka di kanal Youtube yang justru kebanyakan berasal dari luar negeri, juga liputan dari media seperti The Guardian dan Reuters.

Mansour Fakih, seorang ilmuwan sosial yang juga santri, sudah sejak lama mengawali kajian gender Islam lewat buku-bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial hingga Diskursus Gender Perspektif Islam. Organisasi seperti Fatayat NU, Rahima, Puan Amal Hayati, Woman Crisis Center Balqis, dan Fahmina juga telah memiliki tawaran-tawaran tafsir terbaru yang lebih kontekstual dan menawarkan keseimbangan.

Mulai banyak sarjana perempuan Islam santri yang mengkaji kitab-kitab fikih dari perspektif perempuan hingga mitos-mitos tentang perempuan yang selama ini ada dalam kitab klasik yang tidak direkontektualisasi karena kesakralannya bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Dua tokoh pesantren yang terus berjuang menghapus stereotip negatif terhadap perempuan dan memperjuangkan kesetaraan gender antara lain adalah Sinta Nuriyah Wahid dan Buya Husein Muhammad. Seperti tokoh-tokoh itulah, Voice of Baceprot, sebagai bagian dari perempuan yang menguasai panggung, dapat menjadi alat bersuara.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed