DetikNews
Senin 19 Juni 2017, 15:16 WIB

Kolom

Yang Tak Bisa Membunuh KPK Akan Membuatnya Lebih Kuat

Jamil Massa - detikNews
Yang Tak Bisa Membunuh KPK Akan Membuatnya Lebih Kuat Jamil Massa (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Gadis kecil itu sedang ogah-ogahan berlatih pedang. Seorang kawan, yang juga pengawal ayahnya, baru saja tewas dalam suatu bentrokan melawan keluarga Lannister. Ayahnya sendiri, Eddard Stark, ikut terluka. Keluarga Stark dan Lannister memang sudah tidak akur sejak lama. Dan, gadis kecil itu merisaukan keselamatan ayahnya.

Namun, rusaknya suasana hati seorang murid tidak boleh menjadi alasan guru libur mengajar, begitu pikir Syrio Forel. Guru pedang yang eksentrik itu memaksa Arya Stark, sang cantrik mengangkat pedang-pedangan kayunya. Mereka harus tetap berlatih dalam kondisi apa pun. Syrio menuntut Arya belajar fokus pada pertarungan. Menjaga pikiran tetap dalam keadaan bebas beban saat berhadap-hadapan dengan lawan.

"Jika kau bersama masalahmu ketika pertarungan sedang berlangsung, maka akan ada lebih banyak masalah untukmu," nasihat Syrio di sela-sela latihan.

Pertarungan pedang adalah sebuah seni bela diri. Sebuah usaha untuk menjaga nyawa tetap dikandung badan. Syrio lantas mengetes, "Kau menyembah dewa yang mana?"

"Dewa-dewa yang lama, dan dewa-dewa yang baru," jawab Arya.

"Hanya ada satu dewa yang nyata," tukas Syrio, "Namanya Kematian, dan hanya ada satu hal yang harus kita katakan kepadanya: tidak hari ini."

Tak Putus Dirundung Malang

Dialog itu muncul dalam musim pertama serial Game of Thrones, drama peplum produksi HBO yang diangkat dari novel berjudul A Song of Ice and Fire karangan novelis Amerika Serikat, George R.R. Martin. Tayang sejak April 2011, serial ini sedang menanti musim ketujuhnya, dan pertikaian antarklan bangsawan di antara dua benua rekaan, Westeros dan Essos, memasuki babak baru.

Para penonton terbelah. Klan Stark yang menjadi tempat Arya menginduk bisa dikatakan memiliki banyak simpatisan. Kemalangan demi kemalangan, yang mengubah Stark dari wangsa paling berkuasa di Utara Westeros menjadi keluarga yang berpesai-pesai seperti kain tua, memancing siapa pun terharu dan memberi dukungan dari depan layar kaca.

Rangkaian tragedi dimulai ketika Eddard Stark dicurangi musuh-musuh politiknya, lalu dituduh jadi pengkhianat negara dan dipancung di alun-alun ibukota. Catelyn Stark, sang istri, disayat lehernya saat menghadiri sebuah pernikahan. Robb Stark, putera sulungnya, tewas ditikam di ulu hati. Talisa Stark, istri Robb, ditikam dalam keadaan hamil muda. Terakhir, Rickon Stark, si bungsu, tewas dipanah dari belakang.

Yang tersisa pun hidup tak kalah malangnya. Jon Snow si anak tiri ditikam bergantian oleh anak buahnya sendiri sebelum dihidupkan kembali oleh sebuah mantra kuno. Sansa Stark, puteri kedua, dua kali dipaksa menikah; pertama dengan lelaki katai yang tak ia cintai, kedua dengan lelaki penyiksa yang juga tak ia cintai.

Bran Stark, anak ketiga, harus berkelana dalam kelumpuhan, kesepian, dan mimpi-mimpi buruknya sendiri. Sementara Arya Stark, puteri keempat, harus mengendap-endap sampai ke kota-kota yang jauh untuk menghindarkan diri dari orang-orang yang ingin mencelakainya.

Meski harus melewati tahun-tahun yang rengsa, kadar ketabahan para Stark tak pernah susut. Perlahan mereka bangkit, memunguti remah-remah dukungan dari klan-klan yang tersebar di wilayah utara, kemudian merebut kembali kastil mereka untuk bersiap dengan perang lain yang telah membayang.

'Ketabahan' adalah satu kata kunci mengapa serial ini begitu digandrungi bahkan oleh para pesohor dunia, dari Barack Obama sampai Chris Martin. Kata kunci yang lain adalah 'kelicikan' yang lekat dengan keluarga Lannister, serta 'kharisma' yang identik dengan keluarga Targaryen.

Dalam satu dan lain bentuk, ketabahan keluarga Stark mengingatkan saya pada upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Betapa tabah negeri ini hidup dalam guncangan kasus-kasus korupsi berskala besar; naik turun dalam daftar peringkat negara terkorup; dan lembaga pemberantas korupsinya berulangkali dilemahkan.

Korupsi menjadi musuh bersama, tapi cuma dalam bentuk wacana di permukaan. Sementara di kedalaman, berbagai muslihat dan modus operandi direncanakan untuk merayakan rasuah. Fakta-fakta disembunyikan dan dikaburkan, sehingga upaya pemberantasan korupsi berjalan terbentur-bentur seperti seorang penderita rabun ayam.

Setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangani kasus besar, baik itu yang melibatkan politisi, pejabat, maupun swasta, selalu saja ada sandiwara aneh yang dipentaskan di Jakarta. Pada 2009, saat bau sangit kasus Century mulai menggoyang kesadaran publik, ditangkaplah Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah, dua pimpinan KPK waktu itu, dengan sangkaan penyalahgunaan wewenang.

Pada 2015, lagi-lagi dua pimpinan KPK, Abraham Samad dan Bambang Widjojanto, serta seorang penyidik, Novel Baswedan dijerat kasus yang berbeda-beda. Abraham atas kasus pelanggaran Pasal 36 Ayat (1) junto Pasal 66 UU No 30 tahun 2002 terkait pertemuannya dengan petinggi PDIP, dan satu kasus pemalsuan dokumen kependudukan yang terlalu imut serta kurang gawat bila dibandingkan dengan kasus-kasus korupsi yang ditangani Abraham.

Bambang disangka mengarahkan saksi memberi keterangan palsu pada sidang sengketa pilkada Kotawaringin Barat di Mahkamah Konstitusi. Sementara Novel Baswedan dijerat dengan kasus penganiayaan saat menjabat Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Bengkulu. Bambang dengan kasus berumur 5 tahun. Novel dengan kasus berumur 11 tahun! Dan, kasus-kasus ini ditangani setelah KPK berupaya mengusut kasus rekening gendut Polri dan Simulator SIM.

Yang terbaru, di awal Mei lalu, atas usul lima fraksi, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) membentuk Panitia Khusus (Pansus) angket KPK. Ini menyusul pengusutan kasus korupsi KTP Elektronik yang diduga menimbulkan kerugian negara sebesar Rp 2,55 Triliun; meskipun DPR kerap menampik relevansi dua kejadian ini.

Apapun itu, setelah melalui sebuah kajian ilmiah, 132 pakar hukum tata negara, termasuk mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D telah mengeluarkan fatwa bahwa pengajuan hak angket kepada KPK kali ini cacat hukum. Namun, DPR tak menggubris hasil kajian itu. "Enggak ada urusan, jalan terus…" kata ketua Pansus Agun Gunandjar Sudarsa.

Dihujani hook dan jab ganas bertubi-tubi, kelihatannya ajaib melihat KPK tak terkanvaskan sampai hari ini. Namun, itu bukan hal mustahil sebab sejak jauh-jauh hari Friedrich Nietzsche sudah mengatakan: "That which does not kill us, makes us stronger." Apa yang tidak bisa membunuh kita, akan membuat kita lebih kuat. KPK dapat pula belajar dari keluarga Stark, yang begitu tabah dalam bertahan dan melawan.

Ketabahan yang Terukur

Di antara semua kualitas ketabahan yang ditunjukkan keluarga Stark, ketabahan milik Arya adalah yang paling menarik. Pertama, ia tumbuh besar dalam lingkungan berubah-ubah yang tidak terlindungi. Jauh berbeda misalnya dengan saudarinya Sansa yang meskipun berstatus tawanan, hidup dalam kemewahan dan perlindungan kerajaan. Faktor lingkungan ini yang kemudian mengeraskan tekad dan jiwa Arya, sekaligus memperluas wawasan dan mengasah kemampuannya dalam bertahan hidup.

Kedua, adalah keterukurannya. Secara sederhana, ketabahan Arya Stark adalah ketabahan yang terukur. Ia memiliki daftar prioritas berisi nama orang-orang yang kepada mereka ia hendak membuat perhitungan. Mencentangi satu per satu nama-nama dalam daftar itulah yang ia anggap sebagai tujuan terpenting dalam hidupnya.

Dan sebaliknya, mengingat bagaimana ayah, ibu, dan saudara-saudaranya, Arya Stark mengerti bahwa untuk membalas dendam pertama-tama ia harus menjaga nyawanya sendiri tak enyah dari badan. Dengan modal dendam dan nyawa ia menyusun rumusannya sendiri soal siapa kawan siapa lawan. Kapan harus berbelas dan kapan berkonfrontasi tanpa ampun. Mana keahlian yang berguna dan mana omong kosong yang buang-buang waktu.

Ketika ditolak memasuki House of Black and White, ia menunggu di depan pintu. Gedung itu adalah tempat yang ciamik untuk belajar seni menyamar dan membunuh. Namun, penghuni gedung menolak kedatangan Arya. Maka ia pun menunggu, dalam lapar dan hujan.

Sekilas adegan itu akan mengingatkan kita pada sinetron-sinetron romantis atau melodrama Korea; seseorang akan terus menanti sebelum pintu dibukakan. Namun, Game of Thrones bukan drama semacam itu. Arya tabah menunggu, tapi ketabahannya terukur. Cuma sehari semalam, sebelum ia kemudian meninggalkan tempat itu, dan memutuskan untuk mencari keahlian lain yang lebih menghargai hasrat kesumatnya.

Itulah sikap yang membuat penonton mudah jatuh cinta pada Arya Stark. Dalam pemeringkatan yang dibuat situs ranker.com, Arya Stark menempati posisi nomor 2, hanya kalah dari Daenerys Targaryen.

Namun popularitas, dengan segala biasnya, kita tahu, bukanlah makanan bergizi bagi otot-otot perjuangan, termasuk perjuangan melawan korupsi. Pun nasib tidak ditentukan oleh besar kecilnya dukungan penonton, sebagaimana ditunjukkan dengan sangat menggemaskan oleh George R.R. Martin, yang gemar membunuh setiap tokoh favorit dalam setiap seri bukunya.

Mengingat itu, maka hal yang paling penting untuk dijaga KPK adalah nyawanya sendiri, yang tak lain adalah semangat menyelamatkan bangsa dan negara dari kejahatan korupsi. Lalu identifikasilah siapa kawan siapa lawan, kapan harus berbelas dan kapan berkonfrontasi tanpa ampun, mana keahlian yang berguna dan mana omong kosong yang buang-buang waktu.

Selama KPK tetap bertahan dan melawan, seraya berpegang kuat pada tujuan yang benar, persepsi publik terhadapnya tidak akan pernah rusak. KPK tidak perlu khawatir kekurangan dukungan. Orang-orang akan tetap berdiri, bukan hanya di belakang, tapi di depan dan di sekelilingnya. Mereka akan senantiasa bergandengan tangan menghadapi kaki tangan koruptor yang hendak jadi dewa kematian.

Lalu, kepada para dewa kematian palsu itu, hanya ada satu hal yang harus dikatakan: "Tidak hari ini!"

Jamil Massa menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Tinggal di Gorontalo dan mengagumi Tyrion Lannister


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed