DetikNews
Senin 12 Juni 2017, 14:35 WIB

Kolom Ramadan

Gus Dur, Musuh Bersama, dan Kita

Candra Malik - detikNews
Gus Dur, Musuh Bersama, dan Kita Candra Malik (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Ketika semakin banyak yang merindukan Gus Dur, saya akhirnya mengatakan, "Kau, aku, dia, kalian, mereka, kita adalah Gus Dur. Ya, kita semua yang seharusnya jadi Gus Dur, bukan hanya meneriakkan rindu dan menunggu."

Itu pula yang saya seru kepada anak-anak muda di Cirebon dalam dialog publik bertajuk Begadang Inshomniyah, beberapa malam yang lalu. Tapi, sebenarnya mengapa kita rindu pada sosok KH Abdurrahman Wahid?

Saya yakin, kita memiliki jawaban masing-masing. Namun, sadarkah kita bahwa tak hanya beliau yang kita rindukan? Di alam bawah sadar, kita merindukan pula sosok musuh bersama. Karena musuh bersama itulah, kita bersatu dan bersama melawan.

Ya, memang tidak semua maju melawan. Tapi, setidaknya, terang terlihat musuh bersama kita ialah penguasa yang zalim. Nah, selepas era Reformasi, sudah tidak jelas lagi siapa musuh siapa kawan. Tapi, nanti dulu.

Siapakah sesungguhnya musuh bersama yang kita rindukan kini untuk menstimulan persatuan? Apakah penguasa yang zalim? Atau, kebencian yang menjadikan kita berbuat tidak adil?

Di Subang, dalam Begadang Inshomniyah pula, seorang pemerhati sosial mengatakan, "Kita perlu hati-hati, kini agama-agama lokal bangkit lagi dan lembaga-lembaga adat dijadikan kedok." Terlepas dari benar atau tidaknya sinyalemen itu, saya kira kita perlu kritis.

Tahukah apa beda antara kita dan Gus Dur? Saya menanggapi, "Tapi, mengapa Gus Dur bahkan sampai dielu-elukan dan sangat dicintai para pemeluk agama lokal, penganut kepercayaan, dan masyarakat adat?"

Orang-orang tercenung. "Karena Gus Dur mampu mengambil batas antara wilayah privat dan publik. Dia membela hak beragama dan berkeyakinan setiap orang seraya berpesan: mari kita jaga bersama Tanah Air dan bangsa Indonesia."

Petuah Ali bin Abu Thalib RA memang kontekstual. "Ia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan," teguhnya. Kurang lebih, itulah yang diperjuangkan Gus Dur hingga beliau teramat dicintai banyak kalangan.

Gus Dur memperjuangkan hak hidup manusia, yang di dalamnya terkandung hak hidup sesuai agama dan keyakinan, dengan mengikatkan rasa persaudaraan.

Pada masa kepresidenannya, Gus Dur berjasa memperjuangkan Kong Hu Chu hingga mendapatkan pengakuan dari negara sebagai agama resmi. Hingga akhir hayatnya, Gus Dur bahkan masih mempraktikkan seni silaturahmi paling tinggi, yaitu tidak memusuhi siapa pun yang memusuhinya.

Beliau mengerti benar adagium "seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak."

Kini, hari-hari ini, justru kita sendiri yang terus-menerus mengembangkan rasa curiga dan kebencian. Mengutuk ujaran kebencian dan permusuhan dengan cara menunjukkan kebencian dan permusuhan pula. Melawan caci-maki dengan olok-olok. Menganggap siapa yang jatuh ke jurang kehinaan karena pernah salah, tak akan pernah bisa bangkit lagi untuk berbuat benar.

Kita suka menghukum seumur hidup. Sekali lagi, siapa sesungguhnya musuh bersama kita? Apakah penguasa yang zalim ataukah kebencian yang menjadikan kita berbuat tidak adil? Mungkin terlalu berlebihan menjadikan seseorang sebagai teladan dalam segala hal, apalagi jika itu justru menimbulkan fanatisme dogmatis.

Sebab, bukan hanya kita yang menyebut musuh sebagai bigot, mereka juga sah-sah saja menjuluki kita demikian, bukan? Atau, jangan-jangan, musuh bersama kita adalah ketidakjujuran?

Holland Taylor, sahabat Gus Dur, mengentak batin saya dalam Halaqah Internasional Gerakan Pemuda Ansor di Ponpes Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, yang mengangkat tema "Islam untuk Kemanusiaan", pekan terakhir Mei lalu. Holland menegaskan,"Kita harus mengerti pokok masalah dan jujur terhadap masalah." Sudahkah kita jujur?

Soal perang, misalnya. Sebagian dari kita menganggap perang sebagai perang belaka --dengan segala syak wasangka yang diyakininya-- dan, tentu saya tulis ini dengan empati mendalam atas penderitaan para korban perang. Sebagian lagi berjuang melawan perang, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga, serta harta benda --dan, saya tulis ini dengan penghormatan yang setinggi-tingginya pada pejuang dan syuhada.

Sebagian lainnya terus mengampanyekan perdamaian dengan mengupayakan aksi gencatan senjata dan aksi-aksi diplomasi lain. Sisanya memperjualbelikan senjata dan amunisi. Rasanya, kita bisa menebak siapa yang mengerti pokok masalah tapi tidak jujur terhadap masalah, yang bisa jadi malah berpura-pura tidak memahami akar persoalan.

Tapi, toh selalu ada yang mengail di air keruh, atau mengolah air keruh untuk dijual sebagai air minum.

Jika musuh bersama itu adalah penguasa zalim atau kebencian yang menjadikan kita berbuat tidak adil atau ketidakjujuran, benarkah kita rindu kepada salah satu di antara ketiganya? Bukankah selayaknya kita merindukan pemimpin yang adil dan berpihak pada keadilan, kasih sayang yang peduli dan tidak memecah-belah, serta kejujuran?

Benarkah kita sudah benar-benar memahami pangkal persoalan, dan jujur terhadap persoalan bangsa dan negara ini?

Alih-alih terus-menerus menyalahkan setan sebagai musuh yang nyata, kita sebaiknya memohon perlindungan pada Allah dari godaan dan keburukan nafsu-nafsu kita sendiri. Sebab, kezaliman, kebencian, dan ketidakjujuran, bahkan masih ditambah dengan kesombongan, bisa berkumpul pada diri seseorang.

Duh, jangan-jangan orang itu adalah kita. Na'udzu billahi min dzalik. Jangan!

Candra Malik budayawan sufi



(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed