DetikNews
Senin 12 Juni 2017, 13:00 WIB

Catatan Agus Pambagio

Kesiapan Indonesia Menyambut Era Energi Bersih

Agus Pambagio - detikNews
Kesiapan Indonesia Menyambut Era Energi Bersih Agus Pambagio (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Era energi bersih atau clean energy untuk transportasi yang berasal dari bahan bakar non fosil sepertinya sudah mendekati kenyataan. Ketergantungan masyarakat dunia terhadap bahan bakar minyak untuk transportasi akan berkurang dan pada akhirnya pada 2050 lebih 50% kendaraan yang berkeliaran di dunia ini sudah menggunakan sumber energi listrik yang berasal dari pembangkit yang menggunakan energi terbarukan, seperti angin dan matahari.

Hal itu dibahas dalam forum Clean Energy Ministerial (CEM) 8 Meeting di Beijing, China yang berlangsung pada 6 – 8 Juni 2017. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh 25 negara itu, saya hadir sebagai salah satu anggota delegasi RI mewakili publik.

Pada pertemuan tersebut dibahas beberapa hal terkait dengan teknologi energi bersih. Salah satunya diaplikasikan untuk kendaraan bermotor (electric vehicle). Bagaimana memperoleh energi listrik yang murah dan tidak bergantung pada sumber energi fosil, namun mendapatkan daya yang besar. Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dibahas bersumber pada tenaga surya, angin, bio masa, air dll.

Daya listrik yang dihasilkan selain dapat mendukung program kendaraan listrik untuk transportasi, juga digunakan untuk kebutuhan industri, bisnis dan rumah tangga.

Berbagai Penelitian dan Pengembangan (R&D) terus dilakukan secara masif dengan anggaran superbesar hingga miliaran US dolar di China, Amerika, dan Eropa. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Jangankan anggaran R&D untuk energi bersih, anggaran untuk pembangunan infrastruktur saja tidak cukup. Celakanya, penelitian energi bersih dengan aplikasi pada mobil listrik dikriminalisasi, sehingga pelakunya masuk bui. Ingat kasus Dahlan Iskan?

Sumber daya EBT di Indonesia memang banyak dan beragam tapi jika tidak disediakan anggaran yang cukup untuk R&D, maka EBT yang ada tidak akan banyak manfaatnya bagi masyarakat. Matahari akan tetap semakin panas tanpa banyak dimanfaatkan untuk energi. Angin akan tetap berembus tanpa menghasilkan apa-apa. Biomasa hanya membusuk tak berguna. Air juga akan langsung terbuang ke laut atau menjadi penyebab banjir dan rob.

Artinya, sampai hari ini Indonesia belum siap, meskipun di Rencana Umum Energi Nasional, EBT ditetapkan sebesar 23%. Bagaimana mencapainya? Mari kita bahas ringan-ringan saja.

Perkembangan Kendaraan Listrik Dunia dan Posisi Indonesia

Dari berbagai presentasi dan diskusi dengan delegasi beberapa negara di CEM 8, ternyata negara yang sudah mengembangkan clean energy secara masif mempunyai anggaran R&D yang besar pula. Demikian pula dengan persiapan peraturan perundang-undangannya yang nantinya akan menjadi dasar kebijakan publik dalam pengembangan implementasi energi bersih.

Sebagai negara yang sudah meratifikasi Paris Agreement (PA) dan menjaga supaya kenaikan suhu bumi, sebagai dampak efek gas rumah kaca, tidak lebih dari 1.5 derajat Celcius pada tahun 2100, Indonesia sangat berminat untuk mengembangkan teknologi energi bersih. Namun, karena ada keterbatasan pada anggaran, Indonesia harus melakukan R&D bersama negara-negara lain, antara lain dengan China supaya dapat berpartisipasi pada pengembangan teknologi dan kebijakan energi bersih.

Peran sektor energi Indonesia di dalam penurunan emisi 29%, seperti yang disampaikan oleh Presiden Jokowi di pertemuan COP 21 - UNFCCC Paris akhir 2015 lalu, sebesar 11%. Untuk itu teknologi energi bersih menjadi penting untuk dikembangkan. Pengembangan energi matahari, angin, biomasa, air dan panas bumi merupakan EBT yang diandalkan oleh Indonesia supaya dapat menurunkan emisi sebesar 29% secara business as usual atau 41% dengan bantuan internasional di tahun 2030.

Saat ini Kementerian ESDM sedang gencar-gencarnya menjadikan semua pembangkit listrik bekerja secara efisien supaya ada penghematan penggunaan energi fosil. Memang, pengembangan dan penggunaan EBT sebagai energi primer semua pembangkit sepertinya masih banyak kendalanya.

Kemungkinan dalam 10-15 tahun mendatang, penggunaan energi fosil, seperti batubara dan minyak diesel untuk pembangkit tenaga listrik masih banyak digunakan. Namun, untuk efisiensi, pembangunan pembangkit baru dengan batu bara dan gas bumi harus dibangun di atau dekat mulut tambang.

Di Forum CEM 8 juga membahas smart grid atau jaringan listrik cerdas karena bisa berkomunikasi dua arah dengan konsumen. Sehingga, penggunaan listrik menjadi lebih efisien. Dengan adanya smart grid dimungkinkan listrik murah dari EBT untuk masuk ke grid dan dijual murah ke konsumen. Dengan adanya smart grid, keberadaan mobil listrik menjadi semakin andal dan ramah lingkungan dibandingkan dengan mobil regular yang ada.

Saat ini hambatan penjualan mobil listrik masih pada keandalan daya listrik dan penyimpannya (baterei) serta lokasi pengisiannya. Jika smart grid berjalan baik dan teknologi unit penyimpanannya andal, maka saat itu mobil bertenaga fosil akan perlahan tapi pasti habis dan otomatis konsumsi energi fosil juga menurun.

Selain membahas smart gride, electric vehicles Forum CEM 8 juga membahas driveless car atau mobil tanpa pengemudi, seperti yang sedang dikembangkan oleh Uni Emirates Arab di Masdar City dan beberapa negara termasuk China. Melalui kampanye The EV30@30 diharapkan pasar mobil listrik tanpa pengemudi akan merebut 30% pasar kendaraan listrik dunia pada tahun 2030.

Pertanyaannya, Indonesia bagaimana? Ingin terlibat dalam gabungan R&D atau hanya mau jadi konsumen ?

Langkah Pemerintah untuk Berpartisipasi di Energi Bersih

Di tengah terus meningkatnya kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang saat ini 1,6 juta barel/hari sementara target produksi BBM pada APBN 2017 hanya 815.000 barel/hari, maka pengembangan EBT yang lebih efisien sangat diperlukan untuk mengurangi impor BBM.

Selain itu untuk memenuhi janji kita di PA, Indonesia memang harus melakukan R&D sektor EBT secara menyeluruh (hardware dan software) supaya Indonesia mampu mengembangkan teknologi energi bersih. Sehingga, Indonesia kelak tidak hanya sebagai konsumen tetapi juga produsen energi bersih.

Kerja sama di R&D dengan negara yang sudah maju seperti China, Amerika dan negara-negara Eropa merupakan keniscayaan daripada harus melakukan R&D sendiri. Selain mahal juga akan menghadapi banyak tekanan politik yang masif karena anggaran habis dipakai untuk R&D energi bersih.

Bersamaan dengan itu, pemerintah juga sudah harus mulai mengembangkan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan untuk menyongsong era energi bersih. Jangan menunggu lagi. Dengan kekayaan EBT yang ada di Indonesia, gunakan strategi cerdas untuk ikut berperan dalam perkembangan dunia yang kelak akan menguntungkan Indonesia yang kebutuhan energi primernya terus meningkat.

Indonesia juga harus siap ketika industri migas kita akan terus turun, sementara kebutuhan terus meningkat. Siapkan implementasi EBT dengan serius.

Agus Pambagio Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed