DetikNews
Senin 29 Mei 2017, 12:26 WIB

Kolom

Pri dan Nonpri vs Toleransi

Sidik Nugroho - detikNews
Pri dan Nonpri vs Toleransi Foto: Avitia Nurmatari
Jakarta - Pada 10 Desember 1980, Prof. Dr. Hamka, Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) kala itu mengeluarkan pernyataan sehubungan dengan "gangguan serius terhadap stabilitas dan keamanan nasional". Dalam pernyataan itu ia menyebutkan bahwa gangguan itu adalah masalah warga negara Indonesia (WNI) keturunan Tionghoa yang beberapa kali "mudah 'meletus' tanpa segera dapat diketahui latar belakangnya, tujuan pokoknya, maupun sasaran-sasaran yang terselubung di baliknya".

Pernyataan itu diakhiri dengan keyakinan Hamka atas sikap umat Islam yang menganggap pembauran bukanlah sesuatu yang baru, pun "Islam tidak membeda-bedakan asal-usul, ras, maupun keturunan seseorang". Pernyataan Hamka itu termuat dalam buku bunga rampai pemikiran berjudul Nonpri di Mata Pribumi, disunting H. Junus Jahja, diterbitkan Yayasan Tunas Bangsa, Jakarta, 1991. Buku yang memuat berbagai pandangan tentang etnis Tionghoa itu diwarnai pemikiran lima puluh tokoh pribumi.

Istilah 'pribumi' dan 'nonpribumi' (kadang disebut 'nonpri' saja) sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia yang pernah hidup pada saat Presiden Soeharto berkuasa, atau yang mempelajari sejarah. Pada zaman itu terjadi beberapa perlakuan diskriminatif terhadap warga nonpri yang notabene adalah Tionghoa.

Dr. Sarlito Wirawan Sarwono (alm.), yang tulisannya juga dimuat dalam bunga rampai itu, bersimpati kepada anak temannya keturunan Tionghoa yang susah bergaul dengan teman-temannya di sekolah, juga teman Tionghoa-nya yang lain yang KTP-nya diberi kode tertentu. Ia menyesal dan bertanya: "Mengapa masalah-masalah itu timbul pada teman-teman keturunan Cina? Kenapa tidak timbul pada teman-teman keturunan Arab yang juga keturunan asing?"

Pendidikan Kebhinekaan

Ada kisah yang hidup dalam ingatan banyak orang tentang seekor burung. Burung yang suka bernyanyi, tapi tak pandai membaca; burung yang suka terbang ke sana kemari, tapi tak mengenal tata krama. Burung itu ditangkap, dikandangkan, dididik oleh orang-orang yang ditunjuk raja, yaitu pandai emas, penulis naskah, dan pandai besi.

Setelah melewati beberapa proses pemeliharaan dan pendidikan agar menjadi cerdas, burung itu tak berubah. Ke dalam tubuhnya bahkan dimasukkan lembar demi lembar buku yang disobek. Namun, burung itu tetap bodoh di mata raja—tak bisa membaca, tak mengenal tata krama. Sampai akhirnya ia mati. Menjelang akhir dikisahkan: "Raja mengelus burung itu. Burung itu tidak mengeluarkan suara, lemah ataupun keras. Hanya bunyi kering halaman-halaman buku yang dibalik-balik yang terdengar di perutnya".

Itulah kisah The Parrot's Tale karya Rabindranath Tagore yang pertama kali terbit pada 1918. Oleh banyak kalangan, cerita itu dinilai memuat kritik dan ideologinya tentang pendidikan; bahwa pendidikan semestinya dikembangkan dari nilai-nilai dalam masyarakat, bukan pengaruh asing. Dengan kata lain, kearifan lokal dan budaya yang diwariskan leluhur pada masa lalu memegang peran penting sebagai dasar pengembangan pendidikan.

Soewardi Soerjaningrat adalah pendiri Taman Siswa yang mempelajari karya-karya Tagore. Sosok yang akrab disebut Ki Hajar Dewantara itu memulai Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Ia membuat kurikulum sendiri, coraknya nasionalis dan universal. Perguruan itu terus bergerak dan melebarkan sayap pada tahun-tahun berikutnya, sekolah-sekolahnya berdiri di beberapa kota di Jawa dan Sumatra.

Selain terpengaruh oleh pemikir pendidikan dari luar, kentalnya unsur kebatinan dalam gaya pendidikan Ki Hajar Dewantara juga terpengaruh Perkumpulan Selasa Kliwon. Perkumpulan yang dipimpin Pangeran Soeryamataram itu disebut sebagai penggagas berdirinya Taman Siswa.

Dalam Asas-asas dan Dasar-dasar Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan "berkewajiban memelihara dan meneruskan dasar-dasar dan garis-garis hidup yang terdapat dalam tiap-tiap aliran kebatinan dan kemasyarakatan". Tujuannya "untuk mencapai keluhuran dan kehalusan hidup dan kehidupan menurut masing-masing aliran yang menuju ke arah adab kemanusiaan".

Maraknya kebencian yang membawa-bawa etnis atau agama, juga masuk serta berkembangnya paham dan aliran-aliran dari luar yang intoleran, sudah sepatutnya menjadi bahan refleksi bersama. Kita memerlukan suatu pandangan yang nasionalis dan universal tentang kemanusiaan seperti pandangan Ki Hajar Dewantara—baik pribumi, maupun nonpribumi, keduanya sama-sama berhak tinggal di bumi.

Pancadarma adalah lima dasar penting yang diletakkan Ki Hajar Dewantara di Taman Siswa. Kelima asas itu adalah kemerdekaan, kebangsaan, kemanusiaan, kebudayaan, dan kodrat alam. Kelima asas itu, yang mirip dengan Pancasila, telah menyalakan semangat nasionalisme kaum muda yang dididiknya pada masa lalu.

Bila ditelusuri dan digali lagi, perjuangan dan ajaran Ki Hajar Dewantara pun kini bisa berperan penting sebagai upaya mendidik batin. Itulah yang tampaknya terabaikan. Banyak guru dan sekolah yang mungkin lebih suka berlomba-lomba mencetak prestasi dan meraih piala; tapi lupa, di bangsa ini, hari demi hari, persoalan yang kerap datang menghampiri adalah luka-luka batin.

Selain itu, radikalisme kian mewabah. Radikalisme mewabah tak hanya di sekolah, namun juga di tempat-tempat ibadah. Radikalisme, yang bertitik tolak dari ajaran-ajaran aliran agama dari luar, yang tak bercirikan semangat nasionalisme, kini dipelajari banyak kalangan. Paham-paham itu bersifat intoleran, tak sesuai Pancasila, dan berpotensi merusak kebinekaan di Indonesia.

Dimulai dari Keluarga

Toleransi bukan barang baru, dibutuhkan manusia sejak zaman dahulu. Perbedaan bahasa adalah satu di antara banyak perbedaan lain yang tak terelakkan ketika manusia makin memenuhi bumi. Kehidupan di bumi, tempat kaki berpijak, akan menjadi indah jika kita menerima orang lain apa adanya. Tidak perlu ada keangkuhan yang membuat kita tercerai-berai.

Di mana ada keangkuhan, segala perbedaan jadi tak indah, hanya membuat resah. Keresahan, kebencian, dan ketakutan akibat perbedaan dapat muncul atau justru ditepis dari dalam keluarga.

Film A Time to Kill (1989) yang diangkat dari novel John Grisham menyoroti keadilan yang timpang karena perbedaan ras. Film yang novelnya diilhami novel legendaris To Kill a Mockingbird karya Harper Lee itu mengajak merenungi bahwa rasisme dimulai dari keluarga, lalu merangkak ke dalam suatu masyarakat yang terbiasa hidup homogen. Jikalau sebuah keluarga kulit putih menanamkan pada anak di keluarga itu bahwa orang kulit hitam sama dengan hewan, si anak akan butuh waktu lama menghapus pemikiran itu.

Dengan banyaknya isu ras dan agama yang dimainkan dalam politik, dan seringnya politik dibahas dalam kehidupan sehari-hari, masihkah orangtua peduli untuk mengembangkan sikap toleran dalam keluarga?

Sikap toleran juga akan menjadi kunci bagi terciptanya kehidupan politik yang sehat. Pertarungan dalam politik jadi akan lebih menarik manakala yang dipertentangkan adalah perspektif para kandidat dalam mengelola kebijakan publik, pelayanan masyarakat, atau isu-isu lainnya. Isu ras dan agama, di mana saja, lebih sering memecah-belah.

Isu ras dan agama yang bertujuan menerbitkan kebencian pada salah satu pihak tidak akan menarik bagi publik yang memahami bahwa napas utama politik adalah pertarungan kepentingan.

Pada akhirnya, sikap toleran akan membuat seseorang memandang orang lain sama seperti ia memandang dirinya sendiri. Oei Seng Hat adalah nama teman penyair Sitor Situmorang yang ia tulis dalam puisinya Untuk Ivana dan Tan Joe Hoek. Dalam puisi itu, sang penyair menulis sudah mengenal Oei selama hampir lima puluh tahun di Tanah Batak. Sahabat masa kecilnya itu kemudian menjadi anggota marga Napitupulu, tapi tak mengubah nama dengan mengikutkan nama marga.

Lingkungan yang multikultural di keluarga dan masyarakat membuat sang penyair hidup dalam sikap toleran. Sebuah bait puisi itu kiranya menjadi renungan bersama:

Kini kita punya marga yang tunggal
Marga Indonesia kesatuan
dihibahkan oleh sejarah pengabdian
tak kenal warna, tak kenal darah

Sidik Nugroho Novelis dan guru yang belakangan suka membuat tulisan reflektif tentang pendidikan dan sosial. Novel terakhirnya Ninja dan Utusan Setan (Gramedia Pustaka Utama, Januari 2017)
(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed