Kolom

Yang Tua yang Berkarya

Arie Saptaji - detikNews
Jumat, 26 Mei 2017 10:52 WIB
Arie Saptaji/Ilustrasi: Edi Wahyono (detikcom)
Jakarta - Tumpuan daya pikat film Ziarah (BW Purba Negara, 2016) tidak lain adalah penampilan Ponco Sutiyem. Berusia 95 tahun, petani asli Gunung Kidul, belum pernah mengecap pendidikan atau pelatihan seni peran, ia tampil menyentuh hati sebagai Mbah Sri. Ziarah mengikuti perjalanan Mbah Sri mencari makam suaminya, yang dikabarkan gugur pada saat Agresi Militer Belanda II. Kelak jika ajal menjemput, ia ingin diistirahatkan di samping belahan jiwanya.

Pada kerutan-kerutan di wajah Mbah Sri, terbayang lapisan luka dan cinta—bukan hanya luka dan cinta dalam kehidupan pribadi Mbah Sri, melainkan juga luka dan cinta dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Penampilan Mbah Ponco begitu wajar, lembut, pedih, dan otentik—membekaskan kesan yang sulit terhapus dari benak penonton. Tak heran dewan juri ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 terpikat sehingga menganugerahkan Special Jury Award kepadanya.

Ponco Sutiyem mewakili warga lanjut usia (lansia) yang secara tak terduga menampilkan karya cemerlang. Penampilannya mengingatkan pada Geraldine Page dan Jessica Tandy. Dalam Driving Miss Daisy (1989), Jessica berperan sebagai perempuan keras kepala yang ingin tetap mandiri pada masa tuanya. Dalam The Trip to Bountiful (1985), Geraldine berperan sebagai Carrie Watts yang nekat berziarah sendiri ke kampung halamannya.

Mereka sama-sama meraih Oscar sebagai aktris terbaik—Geraldine pada usia 61 tahun dan Jessica pada usia 80 tahun. Keduanya sudah lama malang-melintang di belantara Hollywood, sedangkan Mbah Ponco baru pertama kali berakting di depan kamera.

Masa lansia atau masa pensiun biasanya identik dengan sindroma purna-kuasa. Mereka yang pernah melewatinya mengakui hadirnya 4S: perasaan-perasaan sepuh (tua), sepi (menyendiri), sepo (hambar), dan sepah (terbuang). Ibaratnya, masa kelayuan yang suram.

Maklumlah jika sebagian orang lantas pasang kuda-kuda, mencoba menghadapinya dengan gagah. Di penerbitan tempat kerja saya dulu, bacaan untuk kaum lansia distempel sebagai bacaan "usia indah". Melewati masa paruh baya usia kepala empat, orang menghibur diri sebagai memasuki masa Jelita (Jelang Lima Puluh Tahun). Kepala lima, kita tergolong dalam kelompok Dialita (Di Atas Lima Puluh Tahun). Kepala enam, kita pun memasuki kategori usia Sweetdakan (pelesetan dari kata bahasa Jawa sewidak atau enam puluh).

Nyatanya, seperti pada Mbah Ponco, masa lansia tak mesti menghentikan kesempatan berkarya. Sejarah mencatat banyak orang baru—atau masih terus—menelurkan karya penting ketika sudah lansia. Strauss masih menggubah komposisi apik sampai usia 80-an. Goethe mulai menggarap Faust pada usia 63 dan merampungkannya pada usia 82. Kol. Harland Sanders merintis Kentucky Fried Chickens pada usia 62. Suparto Brata terus aktif menulis sampai tutup usia pada 83 tahun.

Dan, jangan lupa, Jussuf Kalla, wakil presiden kita, sudah berusia 75, dan kita masih menyaksikan kegesitan sepak terjangnya.

Dulu di dekat Pasar Kranggan, Yogyakarta, ada simbok bakul lupis terenak di dunia. Saya salah satu pelanggannya. Suatu pagi, betapa kecewa saya, ia tidak berjualan lagi.

Teman saya, sesama penggemar lupis, keheranan. "Lho, kenapa?"

"Kata bakul yang lain, ia dilarang oleh anaknya. Tidak boleh kerja lagi."

"Wah, salah itu anaknya. Malah tertekan nanti orangtuanya. Orang yang sudah tua itu bukan tidak boleh bekerja lagi, tetapi perlu ganti pekerjaan. Kita harus terus bekerja, tidak perlu pensiun."

Saya manggut-manggut. Barangkali memang semestinya begitu.

Yang Tua yang BerkaryaFoto: Film Ziarah
Akira Kurosawa, maestro film Jepang, menawarkan perspektif menarik tentang masa pensiun melalui film terakhirnya, Madadayo (1993), yang diangkat dari kisah nyata Hyakken Uchida. Pada usia 60 tahun, Uchida pensiun sebagai profesor, berhenti mengajar, dan menikmati masa purna-tugasnya dengan menjadi penulis. Namun, alih-alih mandeg, roda kehidupannya justru kembali berputar secara menggetarkan.

Madadayo berarti "Belum!" Profesor tua itu menyerukannya pada setiap perayaan ulang tahun sesudah pensiun. Kematian boleh mendekat, toh ia terus merangsek maju. Selama hayat masih dikandung badan, ia belum mau berhenti berkarya.

Uchida adalah sosok pengajar yang membangkitkan rasa kagum, hormat, dan cinta para mahasiswanya. Mereka menyebutnya "emas murni" alias "profesor sejati". Film ini memaparkan bagaimana para mantan mahasiswa menumpahkan cinta dan penghormatan mereka, justru setelah sang profesor pensiun.

Murid-murid ini menyiapkan rumah mungil baginya untuk menikmati masa pensiun. Mereka mengunjungi profesor itu di pondok kecil yang tersisa setelah rumahnya terbakar dalam serangan udara. Mereka menyelenggarakan baginya pesta ulang tahun unik yang kemudian menjadi tradisi. Mereka membangunkan rumah yang lebih besar untuknya. Mereka kalang-kabut ikut mencari kucingnya yang hilang.

Sampai profesor itu berumur 77 tahun, dan di tengah pesta masih berteriak, "Madadayo!" Kita menyaksikan seseorang yang hidupnya justru marak pada masa lansia, seseorang yang memanen buah manis kehidupannya.

Menyaksikan Uchida, tidak salah kalau kita membandingkannya dengan sosok Kurosawa sendiri–seorang empu yang telah melahirkan deretan adikarya, tetapi masih keras kepala berteriak, "Madadayo!" Pesan Uchida pada akhir film tampaknya merupakan kredo Kurosawa dalam berkarya: kerjakanlah sesuatu yang benar-benar kaucintai, yang kauanggap sebagai harta karun tak ternilai harganya. Kurosawa merampungkan Madadayo pada usia 83 tahun.

Jepang memiliki tradisi "national living treasures". Tokoh dengan bakat dan pengalaman istimewa seperti Hyakken Uchida dijadikan semacam monumen nasional, yang dihormati dan diteladani. Mereka berkembang menjadi bangsa yang terbiasa menghargai keunggulan. Dalam salah satu adegan, seorang pria batal menjual tanah di depan rumah Uchida karena pembeli akan membangun gedung berlantai tiga yang akan membuat rumah profesor tak mendapatkan sinar matahari.

Lain ladang lain belalang, lain negara lain caranya memperlakukan kaum pensiunan. Seorang teman menceritakan pertemuannya dengan lima orang veteran di Bandung beberapa tahun lalu. Usia mereka waktu itu sudah 80-an dan mereka mengaku ikut berjuang bersama Badan Keamanan Rakyat pada masa Perang Kemerdekaan. Namun, pada usia senja, mereka terpaksa mengamen bersama. Mereka masih harus terus berjuang untuk menopang perekonomian keluarga yang lebih sering morat-marit.

Pagi itu, dengan iringan harmonika biru, suara sengau mereka dengan bergetar menyanyikan Manuk Dadali. Bagi para veteran ini, tidak ada masa pensiun—mereka masih harus terus bergelut mengais rezeki untuk sekadar menyambung hidup. Seandainya mereka berseru "Madadayo!" tentulah dalam makna yang amat berbeda: "Belum—belum ikut menikmati buah manis kemerdekaan!"

Arie Saptaji penulis, penerjemah, editor. Mengisi masa Jelita dengan menyiapkan sebuah novel dan kumpulan puisi

(mmu/mmu)