DetikNews
Jumat 19 Mei 2017, 11:28 WIB

Kolom

Sejak Kau Mendua

Arie Saptaji - detikNews
Sejak Kau Mendua Arie Saptaji/Ilustrasi: Edi Wahyono (detikcom)
Jakarta - Judul kolom ini saya comot dari tulisan pada tenda warung angkringan di kawasan Sekip, Bulaksumur, Yogyakarta. Biar tidak dikira hoax, saya sertakan fotonya.

"Itu berdasarkan kisah nyata, Pak?" saya bertanya sambil menyeruput wedang campur jahe-serai-jeruk-kayu-manis-gula-aren hangat nan nikmat.

Laki-laki berkulit gelap itu tersenyum. Mengangguk. "Iya, ada ceritanya itu."

Ia mengakui latarnya ada dua: kisah romantis dan konflik bisnis. Saat muda ia pernah diduakan oleh gadis idamannya. Lalu, ketika membangun bisnis dengan teman, perkongsian mereka bubar karena temannya kemudian bermitra dengan orang lain. Sejak enam tahun lalu ia menjalankan bisnis angkringan sendiri dengan memasang tagline yang mengundang senyum itu. Sehari-hari ia dibantu istrinya dan diganggu dua bocah laki-laki mereka.

"Berdiri sejak kau mendua"—kisah move on yang menarik, bukan? Kegagalan—baik dalam percintaan maupun bisnis—tak perlu jadi dalih untuk cengeng. Sebaliknya, kegagalan bisa jadi lecutan untuk bangkit berdiri dan mandiri, tegak dan terus berkarya.

Move on dapat diterjemahkan dengan beranjak. Namun, makna sampingannya bermacam-macam: melupakan, meninggalkan, menghapuskan, memaafkan, memulai kembali lembaran baru. Istilah ini kerap dilontarkan untuk memotivasi mereka yang mengalami kegagalan atau kekalahan.

Selain kegagalan hidup pada umumnya, belakangan move on kerap digunakan dalam ranah politik. Pendukung calon yang kalah dalam pilkada dinasihati untuk segera move on, tidak terus nyinyir meratapi kegagalan idolanya. Lalu mereka membalas, "Kami baru tiga hari, sedangkan kalian sudah tiga tahun belum ke mana-mana!"

Begitulah. Ada yang sudah bisa sumringah tegar mengenang kegagalan masa lalu seperti bakul angkringan tadi. Ada pula yang masih berkutat di situ-situ saja. Tak kunjung move on. Kenapa mesti serumit itu?

Sejak Kau MenduaFoto: Arie Saptaji
Film Eternal Sunshine of the Spotless Mind (Michel Gondry, 2014) menggarap isu move on secara menggelitik. Judulnya saja sudah menggoda, salah satu judul film terindah sepanjang masa. Mengucapkannya pelan-pelan bikin mabuk, melambungkan imajinasi dalam ketakjuban magis: langgeng, jernih, tak bercela –citra-citra elok yang tepatnya bukan dari dunia ini, yang mesti dihayati dalam ruang pengharapan. Cocok dengan persoalan cinta yang diangkatnya.

Eternal Sunshine mengobrak-abrik konvensi cerita cinta. Film ini tidak bertutur tentang cowok bertemu dengan cewek, cowok bertengkar dengan cewek, berpisah lantas, setelah beberapa liukan plot, akur lagi. Film ini ingin orisinil, memaparkan apa yang belum sempat dituturkan. Film ini bertutur tentang apa yang mungkin sempat diinginkan oleh orang-orang yang pernah jatuh cinta, tetapi terlampau rumit membayangkannya: ya, apa yang terjadi seandainya kita bisa menghapuskan kenangan akan si dia?

Saat kita jatuh cinta terjadilah pertukaran. Warna rambutku menjadi bagian dari kenanganmu. Kecanggunganmu menjadi bagian dari kejemuanku. Itulah yang terjadi. Seperti dialami Joel (Jim Carrey) dan Clementine (Kate Winslet) setelah pertemuan tidak istimewa di Montauk, sebuah daerah berpantai, pada sebuah musim dingin yang memboyakkan dan mengajak Anda membolos kerja. Mereka segera jatuh cinta. Namun, setelah sekian lama, mereka menemukan: bahwa perbedaan satu sama lain rasanya terlalu melelahkan untuk dikelola.

Clementine pun memilih move on dengan mendatangi Lacuna Inc. Apakah lacuna? Kata bahasa Latin ini kalau tidak salah berarti rongga, hampa, ceruk–bayangkanlah kolam atau danau. Secara kiasan, bisa dimaknai sebagai kekurangan, kerugian, atau kesenjangan. Secara medis, bisa mengacu pada perusakan otak–prosedur yang dijalani Clementine untuk menghapuskan kenangan akan Joel dari benaknya.

Ketika mengetahuinya, seriklah hati Joel. Apalagi yang bisa dilakukannya kecuali mengikuti jejak Clementine? Mendatangi Lacuna, ia pun menyusul menjalani prosedur penghapusan pikiran.

Dalam keadaan tak sadar, saat kenangan berbaur dengan impian, berlangsunglah keganjilan. Di tengah jalan, nyatanya, Joel tak pengin menghapuskan seluruh kenangan akan Clementine. Masih ada senyum yang hendak ia ingat, masih ada kehangatan yang masih mau ia dekap. Bisakah ia menembus lapisan kesadarannya sendiri dan menghentikan prosedur yang bekerja secara dingin itu?

Kenangan kita akan orang lain rupanya baru separuh cerita. Percuma kalau kita menghapuskannya secara sepihak karena masih ada kenangan orang lain akan kita. Percuma–karena orang itu bisa menyembunyikan Anda ke sudut-sudut kenangannya, ke tempat-tempat yang belum pernah Anda kunjungi. Begitulah, Joel berpetak umpet dengan komputer untuk menghidupkan kembali kenangan akan dirinya pada diri Clementine–atau kira-kira seperti itu.

Yang jelas, cinta rupanya lebih rumit daripada sekadar kenangan. Ia bukan seperti lembaran-lembaran naskah yang dengan gampang bisa kita pilih untuk kita arsipkan atau kita bakar. Kenangan mungkin melekat di otak, di pikiran, tetapi di manakah dia berakar? Getar-getar yang berpendar bukan di pikiran, tetapi menyuruk jauh di dalam relung hati. Barangkali.

Kalau begitu? Eternal sunshine of the spotless mind agaknya kita alami justru dengan merengkuh seluruh kenangan. Ia bukan lagi ditentukan oleh kenangan-kenangan itu, melainkan oleh cara kita memandang kenangan-kenangan itu. Spotless mind adalah ketika lembaran yang bernoktah terkenang sebagai bersih cemerlang. Ketika nada-nada sumbang terngiang sebagai harmoni sebuah orkestra. Ini bukan kebutaan atau ketulian: melainkan karena kita memilih untuk tetap mencintai meskipun menyadari segala noktah dan nada sumbang yang mungkin menggayuti hubungan kita.

Dengan perkelindanan yang begitu pelik, move on memang tak segampang menggoreng tahu bulat. Tak bisa dadakan.

Saya teringat obrolan kecil di dinding Facebook seorang penyair. Si penyair tengah merana patah hati. Seorang sahabat dekat sudah beberapa kali mendorongnya beranjak, menata kembali kepingan hatinya, dan memulai babak hidup yang baru. Setelah sekian lama, nyatanya si penyair masih bergeming.

"Mau sampai kapan kamu begini?" tanya sahabatnya.

"Apakah kamu percaya akan cinta sejati?" si penyair balik bertanya.

Sahabatnya terdiam. Mengerutkan kening. Bingung dengan pertanyaan yang terkesan asal menghindar itu.

Lalu, sambil mengembuskan napas, ia menjawab, "Percaya."

"Kalau begitu, katakan padaku, bagaimana caranya beranjak dari cinta sejati?"

Arie Saptaji penulis, penerjemah, editor, dan penyimpan kenangan. Sedang menyiapkan sebuah novel dan kumpulan puisi.



(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed