DetikNews
Rabu 17 Mei 2017, 14:10 WIB

Kolom

Persiapan Masuk Perguruan Tinggi dan Nasihat Lainnya untuk Calon Mahasiswa

Ardhie Raditya - detikNews
Persiapan Masuk Perguruan Tinggi dan Nasihat Lainnya untuk Calon Mahasiswa Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Lupakan sejenak urusan kegaduhan politik. Kini, saatnya kita mencermati perjuangan anak-anak bangsa yang tengah berusaha masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN). Sebagaimana diketahui bersama setidaknya ada tiga pintu masuk menuju PTN. Yakni, SNMPTN, SBMPTN, dan jalur Mandiri.

Pintu pertama telah ditutup. Hasil SNMPTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri) telah diumumkan beberapa waktu lalu. Berdasarkan informasi resmi panitia SNMPTN, dari 517.166 pendaftar hanya 101.906 yang dinyatakan lolos seleksi di 78 PTN. PTN terbanyak yang menerima jumlah para mahasiswa SNMPTN tersebut antara lain Universitas Halu Uleo (3.174 orang).

Disusul berikutnya Universitas Brawijaya (3.083 orang), Undip (2.484 orang), Universitas Negeri Padang (2.390 orang), Unpad (2.369 orang), ITB (2.354 orang), Universitas Jember (2.301 orang), Universitas Negeri Malang (2.268 orang), Universitas Sumatera Utara (2.221 orang), dan IPB (2.172 orang).

Tapi, SNMPTN bukanlah satu-satunya pintu masuk menuju pendidikan tinggi. Mereka yang tidak lolos SNMPTN jangan berkecil hati. Untuk masuk PTN, masih bisa mengikuti jalur SBMPTN. Jika belum beruntung juga, jalur mandiri di setiap PTN masih terbuka untuk diikuti.

Beda dengan Sekolah

Ada sesuatu hal yang harus disiapkan para calon mahasiswa terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke pendidikan tinggi. Karena, tradisi berkuliah dan bersekolah sangat berbeda. Jika di dalam persekolahan para siswa cenderung bergantung terhadap modul pelajaran, maka di perkuliahan tidak demikian adanya. Kemampuan membaca, berefleksi, dan menulis sangatlah dijunjung tinggi keberadaannya.

Universitas sebagaimana dikatakan Bourdieu (1998) dalam Homo Academicus merupakan arena pengetahuan dan perebutan modal untuk mereproduksi kelas sosial. Di sanalah setiap civitas akademik dituntut belajar memahami dan mendalami pengetahuan warisan dunia.

Tidak hanya para dosennya, setiap mahasiswa dihadapkan pada praktik pembelajaran yang sama. Relasi antara dosen dan mahasiswanya dibangun berdasarkan struktur pengetahuan dan pengabdian terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Para mahasiswa akan disuguhkan dengan segudang materi perkuliahan yang sebelumnya tidak terjamah dalam kurikulum persekolahan.

Teori dan metodologi adalah mata kuliah yang tak bisa dihindari mahasiswa. Baik mahasiswa di jurusan ilmu sosial humaniora maupun di jurusan eksakta. Karena, di dalam universitas para insan akademik ini diasah cara berpikirnya secara logis untuk menganalisis berbagai persoalan kehidupan manusia.

Agar tidak menjadi para akademikus menara gading, maka pengetahuan mereka kemudian diujikan melalui serangkaian penelitian dan praktik lapangan. Orientasinya adalah pengetahuan yang mereka dapat bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kultur pendidikan tinggi itu akan terus hidup secara bermartabat bila tradisi membaca buku menjadi gaya hidup. Masalahnya, mahasiswa sekarang cenderung malas melakukannya. Gaya hidup yang dipuja mereka pada umumnya adalah gaya hidup modernitas. Mereka akan merasa bangga memamerkan produk teknologi terbaru atau tren fashion populer terkini dari mancanegara.

Mereka tengah terjakiti kepanikan moral. Hal ini membuat mereka terbius kesadarannya. Mereka menjadi latah dan merasa bersalah bila tidak mampu meniru gaya hidup budaya konsumtif. Baik budaya konsumtif yang diternakkan oleh media massa maupun yang direproduksi para teman sebayanya.

Menurut Cohen (2002) dalam Folk Devils and Moral Panics, kepanikan moral di kalangan anak-anak muda itu mengandung nilai ritual "satanik". Ketika mereka tergantung secara total, baik secara mental maupun pikiran, terhadap benda-benda berselera kelas atas tersebut, maka berpotensi menciptakan efek kejahatan.

Tak heran jika ada kasus pencurian dan peredaran narkoba yang melibatkan mahasiswa karena alasan memenuhi tuntutan gaya hidup modernitas. Bahkan, ada juga di antara mereka yang nekad bunuh diri karena tidak mampu mengikuti ritual keilmuan selama perkuliahan.

Tak hanya itu, hampir separuh waktu anak muda diisi dengan kebiasaan menonton industri hiburan. Baik berupa film, musik, fashion, maupun program pencarian bakat yang umumnya produk impor dari dunia barat. Sehingga, selera budaya Barat ini tanpa sadar mengendap dan menjadi gaya hidup kesadaran dan keseharian mereka.

Bukan Gengsi-gengsian

Anak muda di Indonesia dalam proyeksi BPS tahun ini diperkirakan berjumlah 62,4 juta jiwa. Artinya, 25% dari total penduduk Indonesia adalah generasi muda, termasuk siswa dan mahasiswa. Keberadaan mereka akan terus meningkat di waktu mendatang. Bahkan, akan menjadi modal besar ketika negeri ini memasuki zaman bonus demografi.

Itu sebabnya, para orangtua harus sedini mungkin menyadarkan anak-anaknya yang hendak berkuliah. Mereka harus terus mengingatkan bahwa kuliah bukan untuk gengsi-gengsian. Apalagi, bersenang-senang karena jauh dari pantauan keluarga. Niat utama kuliah yang layak disosialisasikan adalah menuntut ilmu bagian dari ibadah sosial. Selebihnya, hanyalah bonus.

Tak cukup di situ. Berbagai jurusan di universitas selayaknya membuka diri terhadap materi ilmu sosial humaniora. Sehingga, para mahasiswa eksakta tak melulu berurusan dengan angka-angka dan uji klinik semata. Mereka perlu disadarkan secara sosial humaniora bahwa diskursus keilmuan bukan sekedar merekayasa benda-benda.

Sebab, di luar kelas tengah menunggu segudang persoalan kemanusiaan yang perlu diperhatikan dan diselesaikan bersama-sama.

Ardhie Raditya dosen pendidikan kritis dan kajian budaya di Departemen Sosiologi Unesa



(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed