DetikNews
Selasa 16 Mei 2017, 15:18 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Merelakan Hari Buku Nasional

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Merelakan Hari Buku Nasional Iqbal Aji Daryono (Dokumentasi pribadi)
Jakarta - Saya memandangi rak besar itu dengan perih. Beberapa buku saya ambil, saya bersihkan dari debu yang hinggap, juga dari tempelan butir tanah sisa serangan rayap beberapa tahun silam.

Ini sebuah ziarah. Rumah itu kosong lama, seiring domisili sementara kami di Perth. Pernah adik kami menempatinya sekian waktu, namun sekarang kosong lagi. Makanya, ketika sepuluh hari lalu saya mudik sekejap, rasanya ziarah ke makam desa untuk menjumpai peristirahatan bapak saya, anak kedua saya, dan sahabat saya yang meninggal tahun lalu, kurang sempurna tanpa ziarah ke kuburan buku-buku.

Saya mengingat sekian jejak sejarah unik pada hampir setiap biji buku di situ. Sebagian buku Pramoedya merupakan buku-buku awal yang saya beli di Palasari, Bandung, jauh waktu sebelum pasar itu terbakar. Beberapa karya klasik terbitan Pustaka Jaya saya beli di Manahan, Solo, juga jauh hari sebelum tempat menyenangkan itu disantap api. Banyak pula buku yang saya borong di Pasar Shopping Jogja, bertahun-tahun sebelum tempat itu dirombak menjadi Pasar Buku Taman Pintar yang tidak lagi beralas tanah becek.

Bukan cuma tempat belinya yang saya ingat. Momen-momen emosional pun berkelebat lagi saat saya menatap buku-buku itu satu persatu. Coba lihat karangan Paulo Coelho yang itu. Itu saya dapatkan sebagai hadiah dari seorang gadis, dalam sebuah rangkaian dialektika-afeksi yang agak rumit dan memusingkan. Juga buku biru tentang sosok Arung Palakka, yang nafsu saya memburunya sampai-sampai muncul dalam mimpi di sela tidur saya.

Tak terkecuali satu mahakarya sejarawan Takashi Shiraisi. Pernah saya menemukannya di sebuah pameran, saat buku itu sedang langka-langkanya dan saya sangat menginginkannya. Lalu saya bertanya kepada Mahfud Ikhwan (waktu itu dia belum jadi sastrawan termasyhur) di samping saya. "Fud, menurut prediksimu, kira-kira aku jadi menikah sama Si Anu enggak ya?"

Mahfud mengernyit. "Kenapa memangnya? Kok tiba-tiba tanya begitu?"

"Anu," saya menatap buku berjudul Zaman Bergerak di lapak depan saya. "Dia punya buku ini. Kalau aku jadi sama dia, kan aku nggak perlu beli."

Mahfud menyambutnya dengan umpatan spesial bercita rasa Lamongan, tanpa peduli bahwa pikiran saya barusan itu benar-benar muncul di tengah compang-campingnya situasi moneter dompet mahasiswa.

Saya kembali menatapi buku-buku sendu di rak saya. Bersama rekan-rekannya yang lain di gudang, kalau cuma seribu judul saja sudah pasti lebih. Satu gambaran yang akan membawa Anda kepada sebuah jebakan imaji, bahwa saya adalah seorang pembaca buku yang rakus, seorang yang khusyuk mabuk tenggelam di kedalaman palung kata-kata, seorang cerdik cendekia pencinta ilmu yang bijak bestari blablabla.

Malang sekali, Anda keliru. Sangat keliru. Andai Anda berdiri di samping saya sepuluh hari lalu, bukan mustahil terdengar di telinga Anda sayup-sayup isakan tangis itu. Ratapan terluka dari berjilid-jilid kertas berisi gagasan-gagasan dahsyat, namun belasan tahun diabaikan dalam kesunyian yang menyayat. Ya, mereka merintih pedih, mengemis-ngemis minta dibaca.

Di antara semua koleksi buku saya, mungkin baru sepertiga yang saya baca. Atau bahkan kurang. Saya bukan jenis manusia yang kuat duduk diam berlama-lama untuk mengeja kata demi kata. Selain itu, Anda juga tahu: kecepatan dalam berbelanja buku berada pada level yang jauh di atas kecepatan untuk membacanya.

Karena itulah, ketika di masa bujangan saya kalap membeli buku-buku itu, dan sahabat saya Gus Indi Aunullah bertanya apakah benar saya mau membaca semuanya, saya tatap mata filsuf nahdliyin itu dengan dingin sembari menjawab, "Ini semua bukan untukku. Tapi untuk istri dan anak-anakku." Saya yakin Gus Indi merinding mendengarnya.

Jawaban saya itu lebih terasa sebagai apologi yang culas, apalagi pada masa yang suram itu belum terang benar apakah akan ada perempuan yang berkenan menjadi istri saya. Namun tetap saja itu jenis jawaban yang lumayan menenteramkan. Lebih-lebih sejak saya membaca buku Freakonomics tulisan Levitt & Dubner. Di situ digambarkan bahwa menurut sebuah hitungan statistik, anak-anak cerdas di Amerika tumbuh bukan dari orangtua yang tekun membacakan buku, atau yang memberikan pelajaran khusus ini-itu. Anak-anak cemerlang, secara sangat sederhana, muncul dari keluarga dengan koleksi buku yang melimpah. Itu saja.

Meski kurang jelas apakah statistik suguhan Levitt dan Dubner mengandung relasi kausalitas ataukah sekadar koinsidensi, tak ayal dalam pikiran saya tumbuh pula imajinasi. Saya punya banyak buku, yang bertebaran di setiap sudut rumah. Anak-anak saya pasti akan memiliki referensi visual yang kaya dengan tampilan buku-buku. Mereka akan melihat buku di mana-mana, melihat banyak tema bisa mereka akses melalui buku-buku, melihat ayah-ibu mereka setiap saat bersentuhan dengan buku-buku.

Buku akan menjadi satu bagian terpenting dalam dunia kecil mereka, sejak bayi merah hingga di usia ketika mereka siap menentukan pilihan intelektual mereka sendiri. Betapa indahnya. Betapa hebatnya.

Bayangan seperti itu menyalakan semangat saya untuk terus membeli dan membeli. Kalaulah ini konsumtif, bukankah sah untuk saya klaim sebagai konsumtivisme intelektual?

Semangat berlandas khayalan demikian bertahan sangat lama. Hingga akhirnya saya betulan menikah, punya anak, lalu mengamati segala hal yang dilakukan anak saya saban harinya.

Hasilnya adalah sesuatu yang berbeda. Ternyata, anak saya tidak terlalu menggilai buku-buku. Memang beberapa hari dalam sepekan ia mendapat PR membaca dari gurunya, dan kadangkala ia pun tampak senang dengan tugas-tugasnya. Tapi saya melihat, persentase terbesar dari pengetahuan yang ia dapatkan dan ia tampilkan bukanlah dari buku-buku.

Berkali-kali dalam percakapan kami, anak saya bercerita tentang hal-hal yang tak kami ketahui. Tentang sains, tentang ungkapan-ungkapan khas bahasa Inggris, atau tentang hal-hal tak terduga lainnya. Sekali dua kali memang ia berkata mendapatkan hal-hal itu dari buku. Namun jauh lebih sering ia menyebut "Youtube", atau "Internet", atau minimal acara-acara untuk anak di televisi sebagai sumbernya.

Kami orangtua yang biasa-biasa saja. Kami paham, ada banyak hal berbahaya di internet. Mewanti-wanti anak agar tidak terlalu bebas dalam mengakses internet jelas kami lakukan. Namun untuk melakukan pengawasan setiap waktu atas apa yang ia tonton atau ia baca dari layar iPad, jujur saja kami tak kuasa.

Meski demikian, syukurlah, sampai detik ini tak pernah ada hal mengkhawatirkan yang ia munculkan sebagai produk aktivitasnya berinternet. Yang ada justru kejutan-kejutan menyenangkan, yang membuat saya pelan-pelan mengakui bahwa kita telah tiba di tubir zaman.

Beberapa pekan lalu, saat saya menulis di kolom ini terkait Hari Buku Sedunia, saya ngotot bahwa pada masa transisi ini peran buku masih sangat vital. Buku masih sangat penting sebagai instrumen yang kita gunakan untuk mengakses kedalaman, menyantap sajian ide yang komprehensif, serta memahami konstruksi gagasan yang utuh dan bukan semata remah-remah.

Ada nuansa konservatisme di situ, memang. Namun ada bagian yang perlu diberi titik tekan, bahwa tuntutan tersebut hanyalah untuk fase transisi ini, masa ketika produktivitas dipegang oleh mereka yang lahir pada era 80 hingga 90-an.

Selebihnya, anak-anak kita akan berbicara dengan bahasa generasinya. Mereka adalah digital native, anak-anak dengan titik start yang jauh berbeda dengan kita. Kita pasti resah, sebagaimana setiap perubahan selalu melahirkan gelisah. Namun yakinlah, akan muncul semacam kemampuan beradaptasi yang jauh melampaui kecemasan-kecemasan kita. Bukan sekadar digital wisdom sebagaimana digagas Marc Prensky, tapi jauh lebih kompleks lagi. Dengannya, anak-anak kita menjalankan prosedur alami yang sangat berbeda dengan kita, saat mereka mengunyah buah pengetahuan dan mengisap sari-sarinya.

"Karena simbol menggantikan ingatan, tulisan akan membuat kita menjadi pemikir dangkal, sehingga kita tidak bisa mencapai kedalaman intelektual yang akan mengantarkan pada pengetahuan dan kebahagiaan sejati." Socrates merengek dengan kalimat itu hampir 2500 tahun lalu, sebagaimana dikisahkan oleh Plato dalam Phaedrus-nya. Pemikir agung itu ketakutan melihat hadirnya tulisan dan buku-buku, sesuatu yang masih asing pada zamannya.

Hari ini dan hari-hari sebelum ini, kita menertawai rengekan Socrates itu. Terbukti kekhawatiran lelaki galau dari Athena itu keliru belaka. Maka kita juga mengerti, bahwa ketika kita sekarang merengek dengan kalimat senada sebagai bentuk ketakutan kita akan jauhnya anak-anak kita dari buku, semua itu akan sama kelirunya.

Esok pagi adalah tanggal 17 Mei, Hari Buku Nasional. Saya tidak yakin apakah satu dekade ke depan anak-anak kita masih akan merayakannya. Bahkan bisa jadi, mereka memang tidak lagi perlu merayakannya.

Iqbal Aji Daryono praktisi media sosial, dan suka menulis di mana saja. Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi.


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed