DetikNews
Selasa 16 Mei 2017, 13:20 WIB

Kolom

Pendidikan Siaga Bencana dalam Keluarga

Siti Muzzayana - detikNews
Pendidikan Siaga Bencana dalam Keluarga Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Pada 26 April lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginisiasi Hari Kesiapsiagaan Bencana. Tujuannya untuk mempromosikan kegiatan latihan kesiapsiagaan bencana pada tanggal 26 April agar dijadikan sebagai titik tolak kesiapsiagaan nasional yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Dan, tujuan khusus lain yaitu meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi risiko berdasarkan potensi bencana di daerah masing-masing.

Indonesia berada di jalur cincin api sehingga sering terjadi gerakan sesar yang sewaktu-waktu dapat mengalami patahan yang mengakibatkan gempa. Tak hanya gempa, Indonesia juga berpotensi terjadi bencana lain seperti banjir, tanah longsor, tsunami, kebakaran hutan, puting beliung dan lainnya.

Pada 2016 saja, menurut BNPB ada 2.343 bencana yang terjadi di Indonesia. Dari semua bencana tersebut 92% berupa banjir, tanah longsor dan puting beliung. Oleh karena itu, sangat diperlukan edukasi dan kesiapsiagaan warga sebelum terjadi bencana atau disaster preparedness, khususnya bagi anak-anak.

Merujuk penelitian dari Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA), korban jiwa dalam suatu bencana lebih banyak terjadi pada anak-anak karena kemampuan mereka menyelamatkan diri, dan pengalaman terhadap bencana yang minim. Melihat fakta tersebut, peran keluarga sangat penting untuk pendidikan bencana pada anak mengingat bahwa keluarga adalah tempat pertama pendidikan bagi anak. Keluarga harus berperan aktif dalam pembelajaran anak sejak dini mengenai bencana.

Belajar dari Jepang

Jika di Indonesia pendidikan manajemen bencana belum familiar, beda halnya dengan Jepang. Di Jepang, pemerintah telah memasukkan pendidikan bencana dalam kurikulum pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah. Tak heran jika di Jepang kesiapsiagaan warganya terhadap bencana sudah menjadi budaya.

Ada tiga hal sederhana yang bisa dilakukan di lingkup keluarga dari pendidikan mitigasi bencana atau disaster education di Jepang. Yaitu pra-bencana, saat terjadi bencana, dan pascabencana.

Pertama tentang tahap pra-bencana, orangtua bisa memberi informasi pada anak sesuai dengan tingkatan anak tentang pengetahuan mengenai suatu bencana. Di tengah era keberlimpahan dan kemudahan fasilitas informasi seperti sekarang ini, mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai bencana sangat mudah ditemukan. Setelah itu, langkah yang dilakukan selanjutnya melakukan analisis risiko bencana apa yang akan terjadi di daerahnya, tanda dan ciri-ciri potensi bencana yang akan terjadi.

Tahap kedua yaitu saat terjadi bencana; dalam tahap ini orangtua memberi pemahaman tentang perlindungan jika bencana terjadi. Yakni, tindakan yang harus dilakukan saat melihat tanda-tanda akan terjadinya bencana yang tujuannya agar anak bisa mengetahui jalur evaluasi bencana untuk menuju tempat yang aman. Selain itu, juga membekali anak melalui practical training bagaimana melindungi dirinya dan bagaimana mereka bisa merespons bencana tersebut secara tepat dan cepat. Misalnya, menunjukkan tempat yang harus dihindari saat bencana terjadi.

Dan terakhir adalah pascabencana. Dalam fase ini, orangtua bisa membekali anak pengetahuan bagaimana sikap dalam menghadapi masa setelah bencana. Contohnya, memberikan pengarahan tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat berada di pengungsian agar tidak terpisah dari keluarga. Selain itu, orangtua harus bisa memberikan trauma healing agar kondisi anak tidak terguncang saat berhadapan dengan bencana.

Jadi Budaya

Di sisi lain, ada beberapa masalah klasik yang dihadapi masyarakat Indonesia dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana seperti kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap bencana dan risikonya. Juga, kurangnya kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi ancaman yang ada di sekitarnya, atau belum adanya pelatihan secara terpadu dan periodik karena kewaspadaan terhadap bencana belum menjadi budaya.

Hari Kesiapsiagaan Bencana yang diinisiasi oleh BNPB dengan tagline "Siap, untuk Selamat!" merupakan pesan utama bersama yang akan diusung dalam proses penyadaran kampanye ke depan. Menurut BNPB, pentingnya bersiap diri menghadapi kedaruratan bencana, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, menciptakan budaya aman dan mengurangi korban jiwa akibat bencana menjadi pertimbangan untuk mendorong kampanye.

Pendidikan bencana sebenarnya sangat kompleks, sehingga memerlukan upaya secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidisipliner, multisektor, dan peran serta seluruh masyarakat secara aktif. Namun, hal tersebut bisa dimulai dilakukan secara sederhana dalam lingkup keluarga agar anak-anak yang terbiasa bersinggungan dengan bencana mampu membuat keputusan ketika bencana terjadi, sehingga mereka mengerti bagaimana cara menyelamatkan diri.

Siti Muzzayana Fresh Graduate Teknik Geomatika Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta




(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed