DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 05 Mei 2017, 15:06 WIB

Kolom

Membaca adalah Kegemaran Sia-sia?

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Membaca adalah Kegemaran Sia-sia? Rakhmad Hidayatulloh Permana/Foto: Rizky Ceasari
Jakarta - Bagi saya membaca adalah bentuk kebahagiaan lain selain tidur dan makan. Tapi, bagi sebagian orang-orang di sekitar saya, kegemaran saya itu adalah laku sia-sia. Tentu saja, pada beberapa poin mereka memang benar. Sebab, tujuan saya membaca hanya karena ingin membaca.

Saya tak berharap dengan membaca lantas tiba-tiba akan jadi kaya mendadak. Atau, dengan membaca lantas saya akan secara ajaib menjadi bocah jenius yang mampu memenangi olimpiade sains tingkat internasional. Saya tak berharap mendapatkan manfaat semacam itu. Meskipun, banyak pula buku yang menjanjikan hal-hal seperti itu.

Saya pernah dibikin runyam oleh beberapa orang di kantor ketika mereka tahu bahwa saya suka membaca buku.

Pada sebuah pagi yang lengang, bos saya tiba-tiba memarahi saya. Tak ada angin tak ada hujan, ia langsung nyerocos. "Kamu itu jangan baca terus. Ini tuh dunia nyata. Bukan dunia mimpi kayak buku-buku yang kamu baca," katanya dengan nada sedikit menghardik. Seolah-olah ia juga sudah membaca buku yang saya baca.

Saya diam saja dan menundukkan kepala. Saya tetap profesional dan tak memasukkan kata-katanya ke dalam hati. Belakangan saya ketahui, bos saya ini satu dari banyak orang Indonesia dari jenis yang percaya bahwa semua akar kekacauan yang terjadi di negeri ini berasal dari PKI —Partai Komunis Indonesia.

Ada pula rekan kerja yang menganjurkan saya untuk membakar semua buku-buku koleksi saya. Katanya, buku-buku itulah yang jadi biang keladi semua masalah saya ketika di kantor. Rekan saya yang satu ini sebenarnya bukan seorang pembenci buku. Ia menyukai buku primbon dan berlangganan majalah Misteri setiap minggunya.

Ia juga seorang penggemar hal-hal berbau mistis dan klenik. Ia pernah merayu saya untuk membeli madat turki. Benda itu, menurut penuturannya, adalah sejenis jimat pengasihan yang mampu membuat si pemakai disukai banyak orang. Ia mendapatkan madat turki itu dari guru spiritualnya yang berasal dari Cirebon. Harganya setara dengan dua boxset tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Katanya, agar saya tak melulu diomeli oleh bos.

Namun, syukurlah, saya tak membeli madat turki itu dan tetap menghargainya karena telah bersimpati. Saya juga pernah di-bully habis-habisan setelah ketahuan membawa novel Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma ke kantor. Niat awalnya, saya akan membaca buku itu waktu jeda istirahat secara sembunyi-sembunyi. Belum tuntas membaca satu lembar halaman, saya sudah ketahuan. Alhasil, seperti dugaan, akhirnya saya jadi bahan olok-olok orang sekantor.

Mereka bilang saya itu aneh, dan mereka menuduh saya sebagai penganut sebuah ajaran sesat. Mereka betul-betul mengira novel Seno itu sebagai sebuah kitab (suci) dalam artian harfiah. Memang, jika dilihat dari desain sampulnya yang hardcover dan judulnya, novel itu mirip seperti kitab suci. Padahal buku itu hanya sebuah novel kibul tentang epos Ramayana yang dikarang oleh penulisnya.

Sayang sekali, mereka terlalu gegabah menilai buku hanya dari judul dan sampulnya. Semenjak kejadian itu, saya berjanji tak akan membawa buku apapun ke kantor. Kecuali, buku agenda.

Setelah serangkaian kejadian itu, saya sempat merasa putus asa, dan sempat berpikir bahwa mereka seutuhnya benar. Buku-buku yang saya baca, sebagian besar memang terkesan sebagai buku-buku aneh. Buku-buku yang tak menawarkan manfaat konkret bagi kehidupan.

Buku jenis sastra dan filsafat, misalnya. Buku-buku sejenis itu hanya akan membuat alam pikiran saya mengambang di semesta hampa, pikir saya kala itu.

Namun, untunglah saya bisa membunuh setan pembenci buku dalam kepala saya, yang tiada putusnya menggoda saya agar masuk ke golongan manusia semacam itu.

Beberapa bulan setelah orang-orang kantor mengolok-olok kegemaran saya membaca, akhirnya saya memutuskan untuk membuat surat pengunduran diri. Saya keluar dari kantor itu dengan hati lempang dan bahagia. Barangkali, saya memang tak (bisa) berjodoh dengan para pembenci buku.

Pekerjaan perkantoran juga sering membikin kepala saya penat, dan saya jadi hanya punya sedikit waktu untuk membaca. Meskipun, saya juga bersedih karena tak bakal ada lagi gaji rutin yang masuk ke rekening saya setiap tanggal 25.

Setelah tak bekerja di sana, saya memutuskan untuk memulai sebuah usaha saja. Saya mencoba memulai usaha budidaya ikan kolam deras, yang sebenarnya sudah dirintis oleh paman saya sejak lama. Saya terbantu karena ada beberapa petak kolam menganggur milik paman yang bisa saya manfaatkan.

Saya pun membeli beberapa jenis bibit ikan dan pakan dari sisa tabungan saya. Ada ikan nila merah yang warnanya indah dan mengemaskan. Ada ikan lele yang gemar mengambang seperti ikan mati. Ada juga ikan bawal yang terkadang juga memangsa temannya sendiri. Ketika itulah saya jadi teringat lagi dengan para pembenci buku.

Kegiatan rutin saya kini telah jauh berbeda. Saya tak lagi berkutat dengan tumpukan dokumen, tapi kini saya harus bertungkus lumus dengan air sungai dan ikan-ikan. Pagi-pagi betul saya sudah mencari keong untuk pakan lele. Siang hari setelah makan, saya bisa tidur siang.

Sore harinya saya membaca buku—mungkin buku puisi Kolam karya Sapardi Djoko Damono—sembari menaburkan bulir-bulir pelet untuk ikan-ikan nila. Berharap mereka makan lahap dan lekas gemuk. Agar saya bisa menjual mereka, dan berdatanganlah pundi-pundi rupiah. Untuk makan dan membeli buku tentunya.

Ikan-ikan itu asyik berenang dan sesekali mencaplok makanannya. Ikan-ikan itu tak akan pernah berkomentar soal kegemaran saya membaca buku. Pernah, ketika saya membaca buku tentang budidaya ikan lele, salah seorang petani ikan—yang juga sering membatu saya—penasaran dengan buku itu.

Nanti saya pinjam ya, katanya. Seketika saya pun menyodorkan buku tadi dengan hati riang. Ternyata, justru di tempat seperti ini saya diselamatkan dari para pembenci buku.

Saya pikir, para pembenci buku yang ada di kantor dulu adalah orang-orang yang sudah kepalang pusing dengan beban pekerjaannya. Mereka setiap hari dipaksa harus memolototi berlembar-lembar dokumen yang berisi angka dan huruf. Sehingga, wajar saja jika mereka menyimpan kebencian pada buku.

Saya pun akhirnya sadar, tak sepatutnya membenci para pembenci buku itu. Saya seharusnya mengasihani mereka. Biarlah mereka tetap membenci buku. Saya tetap membaca dan berbahagia.

Saya jadi ingat seloroh dari seorang dramawan Norwegia, Henrik Ibsen, "Jika kau membongkar kebohongan hidup dari orang kebanyakan, maka kau telah merampas juga kebahagiaannya." Saya mencoba mencerna kalimat itu dan merenungkannya.

Saya menangkap beberapa poin. Kebahagiaan sejatinya adalah himpunan kebohongan yang tidak kita sadari. Kita tetap melakukan banyak hal yang kita sukai meskipun itu bohong dan sia-sia. Seperti kegemaran membaca.

Banyak orang di dunia ini berpikir bahwa hidup harus dijalani dengan tindakan konkret. Hidup harus menghasilkan manfaat nyata. Padahal, pada satu titik, hidup yang mereka jalani adalah kebohongan dalam bentuk lainnya. Dan, saya tentu enggan mengusik dan membongkarnya.

Saya mengamini apa yang dikatakan Ibsen, dan berharap semua orang menyadarinya. Kita harus terus berusaha membuat hidup ini baik-baik saja. Tidak boleh ada yang usil. Sebab, kita terus berbahagia dengan kebohongan yang terus kita jaga.

Rakhmad Hidayatulloh Permana
tinggal di Subang. Kegiatan sehari-harinya bermain dengan ikan-ikan air tawar

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed