DetikNews
Rabu 03 Mei 2017, 10:32 WIB

Kolom

Tamasya di Sekeping Surga Borges

Fauzan Mukrim - detikNews
Tamasya di Sekeping Surga Borges Foto: Fauzan Mukrim
Jakarta - Bazar buku Big Bad Wolf di International Convention Exhibition (ICE) BSD City Tangerang Selatan ditutup Selasa (2/5) kemarin. Dibuka sejak 21 April, bazar berlangsung selama 210 jam nonstop! Menghadirkan lebih dari 5 juta buku dengan diskon harga 60 hingga 80 persen, bazar ini memang cukup membuat para pecinta buku "gelap mata".

Big Bad Wolf (BBW) adalah bazar buku internasional yang diadakan pertama kali di Kuala Lumpur, Malaysia pada 2009. Selain Malaysia dan Indonesia, BBW juga diadakan di Thailand. Di Indonesia, bazar kali ini adalah tahun kedua setelah pada 2016 juga diadakan di tempat yang sama.

Bagi saya pribadi, tak berlebihan rasanya bila BBW ini disebut sebagai semacam sarana tamasya jiwa. Tahun ini, dari 12 hari pagelaran BBW, saya cuma absen berkunjung satu hari. Memang tidak selalu beli. Kadang saya hanya datang melihat-lihat, mengagumi desain buku-buku, dan menyadari betapa sedikit yang saya tahu.

Lalu bila ada kawan yang tidak sempat datang dan bertanya seperti apa rasanya berada di antara 5 juta buku, saya biasanya menjawab, "Ini mungkin kepingan surganya Borges." Jorge Luis Borges adalah penulis, penyair, dan penjaga perpustakaan dari Argentina yang pernah bilang, ""Saya membayangkan surga itu seperti perpustakaan."

Omong-omong tentang BBW, selalu mengingatkan saya pada seorang kawan. Namanya Ridwan Alimuddin. Begini ceritanya.

Saya baru bertemu Ridwan Alimuddin secara langsung saat ia hadir di studio CNN Indonesia untuk menerima penghargaan sebagai salah satu CNN Indonesia Heroes, pada pertengahan Desember 2015. Namun, sebelum itu saya sudah sering mendengar kisah keberaniannya mengarungi laut dengan perahu kecil, menyambangi berbagai pulau.

Ia memang pelaut. Tapi, di atas perahu ia tidak mencari ikan. Ia membawa buku-buku di dalam perahunya: Perahu Pustaka Pattingalloang.

Tamasya di Sekeping SurgaRidwan Alimuddin/Foto: CNN Indonesia
Mari mundur sedikit. Perahu Pustaka Pattingalloang adalah inisiatif dari Nirwan Ahmad Arsuka. Pada 2014, budayawan asal Barru, Sulawesi Selatan itu pernah menempuh perjalanan berkuda melintas pulau. Dalam perjalanan itu ia banyak bertemu anak-anak kecil yang membuatnya terkesan.

Menurut Nirwan, sebagaimana ditulis oleh Anwar Jimpe Rahman dalam artikel Dari Pattado Jonga Sampai Pattingalloang di laman Makassar Nol Kilometer, anak-anaklah yang banyak menjawab pertanyaan-pertanyaannya selama perjalanan. Orang dewasa justru lebih sering memasang tampang curiga.

Sepulangnya dari ekspedisi itu, Nirwan Ahmad Arsuka kemudian bermimpi membuat perpustakaan bergerak yang berkeliling menyebarkan buku untuk anak-anak yang berada di daerah yang sulit dijangkau.

Mimpinya itu menjelma produk pertama saat ia bertemu dengan Ridwan Sururi, seorang tukang ojek kuda di kawasan wisata Gunung Slamet, Jawa Tengah. Ridwan inilah yang menggerakkan Kuda Pustaka. Ridwan bersama kudanya Luna, tetap setia membawakan buku dan bacaan lain untuk anak-anak di sekitar Gunung Slamet, hingga sekarang.

Nirwan lalu bertemu Ridwan kedua, yang bernama belakang Alimuddin. Saat itu Nirwan mulai berpikir untuk membuat armada pustaka bergerak yang lain. Kali ini, pandangannya mengarah ke laut. Seperti halnya Ridwan Sururi, Nirwan mencari orang yang sanggup melayarkan perahu berisi buku-buku ke pulau-pulau terpencil.

Dari sejumlah orang yang dimintai pendapat, semua menyebut nama Ridwan Alimuddin sebagai orang yang cocok untuk menjalankan Perahu Pustaka. Sebelumnya, Nirwan memang sudah mengenal Ridwan saat meng-endorse buku pertama Ridwan, Mengapa Kita (Belum) Cinta Laut pada 2004.

Ridwan Alimuddin adalah seorang penulis, fotografer, peneliti, dan --yang lebih penting— banyak bersentuhan dengan laut. Pria kelahiran Desember 1978 ini sudah sering membawa perahu sandeq Mandar berlayar ke mana-mana, di dalam dan luar negeri.

Juni 2015, dengan dukungan penuh dari Nirwan Ahmad Arsuka, Ridwan Alimuddin menyelesaikan pembuatan perahu pustakanya dengan bantuan pembuat perahu di Lapeo, Mandar. Perahu jenis ba'go dengan panjang 10 meter dan lebar bagian tengah 2,5 meter itu akhirnya siap berlayar dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat menuju Makassar, Sulawesi Selatan untuk memeriahkan ajang Makassar International Writers Festival (MIWF).

Pelayaran resmi pertamanya adalah membawa ratusan buku untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak di Kepulauan Spermonde. Begitulah kisah Ridwan Alimuddin dan Perahu Pustaka Pattingalloang bermula. Patttingalloang sendiri adalah nama pendek I Mangngadaccinna Daeng I Ba'le' Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, perdana menteri Kerajaan Gowa yang tersohor karena kecintaannya pada ilmu pengetahuan.

***

Pada 8 Mei 2016, saya mendapat kabar dari Ridwan. Ia baru saja akan merapat di Pantai Losari, Makassar setelah berlayar sekitar 12 jam dari Tanah Beru, Bulukumba. Ridwan yang bermukim di Mandar akan beristirahat dan mengisi bekal sejenak di Makassar sebelum bertolak kembali ke Mandar yang mereka tinggalkan pada 23 April 2016, tepat pada peringatan Hari Buku Sedunia.

Dalam pelayaran dengan total jarak tempuh hampir seribu kilometer itu, selain di Bulukumba, Perahu Pustaka singgah di Pulau Sagori, Sulawesi Tenggara. Di Pulau Sagori, Perahu Pustaka menggelar buku untuk anak-anak pulau.

Pada hari yang sama, di Jakarta, pameran buku Big Bad Wolf sudah hampir berakhir. Bursa buku yang digelar di International Convention Exhibition (ICE) BSD itu "terpaksa" diperpanjang sehari karena besarnya antusiasme pengunjung. Dibuka sejak 30 April, Big BadWolf ditutup pada Senin 9 Mei 2016, pukul 23.00 WIB. Sejak 5 Mei, bursa buku bahkan tak pernah tutup alias nonstop selama 110 jam!

Di bazar dan pameran buku yang diklaim terbesar di Indonesia itu, para pengunjung seperti mengalami bookgasm. Ada sekitar dua juta buku yang dijual. Saya ingat Ridwan. Dengan menempuh ratusan mil laut, ada berapa banyak buku yang bisa ia bawa di lambung kapalnya?

"Sekitar 300 buku, karena kita juga harus mempertimbangkan bawaan lain seperti tempat tidur, bekal, dan lain-lain," kata Ridwan.

Christopher J. Frank dan Paul Magnone dalam buku Drinking from The Fire House menyebut manusia modern nyaris tenggelam dalam lautan informasi. Seperti orang yang minum dari selang pemadam kebakaran, limpahan air informasi dengan kekuatan masif itu membuat kita sering kesulitan berpikir dan mengambil keputusan.

Tapi, apa yang ditemui Ridwan di pulau-pulau yang sudah ia datangi?

"Seringkali satu-satunya akses informasi mereka dengan dunia luar adalah buku-buku yang kami bawa. Apalagi bagi anak-anak di pulau, mungkin hanya mengenal buku sekolah yang bertahun-tahun tidak pernah berganti," kata Ridwan.

Tamasya di Sekeping SurgaAnak-anak pulau/Foto:Ridwan Alimuddin
Keterasingan anak-anak di pulau-pulau terpencil ini juga diperparah oleh jargon pariwisata yang selama ini senantiasa menggambarkan pulau-pulau kecil yang bertebaran di Nusantara itu sebagai objek wisata fisik semata. Orang-orang luar datang ke pulau terpencil untuk berwisata, tanpa memikirkan apakah anak-anak di pulau itu juga membutuhkan wisata dan tamasya.

Dengan Perahu Pustaka Pattingalloang, Ridwan mencoba menawarkan cara pandang lain. Bagi anak-anak pulau, Ridwan datang membawa "tamasya" di atas perahunya. Tamasya melalui buku bacaan, yang kita tahu, lebih luas dari pulau mana pun. Tamasya di sekeping surga.

Fauzan Mukrim jurnalis CNN Indonesia, pecinta buku.



(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed