Sentilan Iqbal Aji Daryono

Cerita Selasa dari Buruh Australia

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 02 Mei 2017 13:25 WIB
Foto: Iqbal Aji Daryono/Dok. Pribadi
Jakarta - Selain bertugas mengantar barang, sebagai sopir jasa pengiriman saya juga kerap mendapat order penjemputan. Barang di suatu alamat harus saya ambil, untuk kemudian saya serahkan ke sopir lain yang akan mengantarkannya ke alamat tujuan. Biasanya memang harus diserahkan ke sopir lain, karena alamat tujuannya jauh, dan tidak termasuk area tanggung jawab saya.

Namun pernah ada yang lucu. Saya mendapat panggilan penjemputan barang dari sebuah kantor perusahaan. Nah, begitu barang saya jemput, ternyata alamat kirimnya cuma kantor sebelah, yang jaraknya tak lebih dari lima menit jalan kaki!

Saya tak habis pikir. Kenapa si pengorder tidak mengantarkan sendiri, dan lebih memilih membayar saya yang harus menyetir jauh untuk sampai ke tempat mereka?

Beberapa waktu kemudian, barulah saya paham. Sebabnya tak ada jenis pekerjaan 'palugada' semacam office boy di sini. Setiap pekerjaan jelas deskripsi dan kontraknya, dan pekerja tidak bisa disuruh-suruh semaunya untuk menjalankan tugas di luar kontrak kerja.

Makanya, bos perusahaan yang mengorder saya itu rasanya mustahil juga menyuruh petugas resepsionisnya yang cantik, "Mbak Claire, tolong antar ini sebentar ke gedung sebelah, dong." Nggak bisa yang seperti itu. Resepsionis ya resepsionis. Tukang ketik ya tukang ketik.

Jadilah, mereka terpaksa keluar uang lebih untuk mengorder seorang kurir keren dan profesional untuk menjalankan pekerjaan seremeh lima menit jalan kaki.

Di sela mengantar dan menjemput barang, kadang saya suka bermalas-malasan di waktu siang. Akibatnya, menjelang sore pekerjaan masih menumpuk, hingga kerapkali saya bekerja sampai menjelang jam tutup kantor. Bahkan karena masih ada sisa barang yang belum terkirim, berkali-kali saya coba mengantarnya ke kantor-kantor setelah jam lima sore. Dan berkali-kali itu pula saya gagal.

Kadang saya mengira bakal menemukan orang-orang yang bekerja lembur sampai malam. Australia negara maju, mestinya orang-orangnya bekerja macam kesurupan. Namun ternyata tidak. Bahkan untuk sekadar tiga-empat menit tambahan selepas jam kerja pun mereka tak sudi. Begitu waktu habis, kantor-kantor langsung steril dari manusia, apalagi kalau Jumat tiba. Bagaimana itu bisa terjadi?

Situasi demikian terbentuk karena jam kerja yang disiplin delapan jam. Selain itu, sistem pengupahan di sini dilakukan berdasar jam. Jika ada kelebihan waktu dari delapan jam kerja, upah lemburnya lebih besar daripada upah per jam di jam kerja biasa. Belum lagi jika harus bekerja pada akhir pekan. Katakanlah di hari biasa seorang karyawan dibayar 20 dolar per jam, maka untuk Sabtu ia mendapat 30 dolar setiap jamnya, dan di hari Minggu bisa-bisa majikannya harus membayar dia 40 dolar alias dua kali lipat dari hari biasa.

Terang saja, para pemilik perusahaan atau pemilik unit usaha apa pun akan berpikir lima kali sebelum meminta karyawannya lembur. Dan karena itu pula, banyak toko tutup pada akhir pekan, atau buka beberapa jam lebih pendek ketimbang hari normal.

Itu tadi sepotong gambaran suasana kerja di negeri tempat saya menumpang sementara ini. Dengan situasi demikian, ada banyak hal susulan yang terbentuk.

Misalnya begini. Di negeri kita, banyak perusahaan besar memiliki armada pengangkutan sendiri. Entah truk-truk, atau sekadar mobil boks. Armada itu diadakan karena kadang-kadang mereka harus menjalankan aktivitas pengiriman barang. Saat ada kebutuhan pengiriman, sopir perusahaan bekerja. Saat tidak dibutuhkan, sopir perusahaan bisa disuruh apa saja. Mulai menyapu kantor, mengantar istri bos berbelanja, menjemput anak bos waktu pulang sekolah, hingga membetulkan genting rumah si bos.

Yang seperti itu tidak bisa dilakukan di sini, karena ketatnya kontrak kerja. Padahal, andai sopir armada perusahaan banyak menganggur, perusahaan pastilah rugi menggaji mereka. Maka, secara kecenderungan umum perusahaan-perusahaan besar memilih memiliki armada angkutan sedikit saja. Selebihnya, mereka mengorder ke perusahaan logistik alias jasa pengiriman seperti halnya tempat saya bekerja.

Dengan begitu, bukan hal aneh kalau jasa logistik sangat hidup di sini. Di tempat kerja saya saja ada tak kurang dari 20 kendaraan, kombinasi antara van dan truk yang memegang area-area tetap. Di tempat kerja lama saya waktu saya masih pegang truk, jumlah armada lebih besar lagi. Ada 10 truk yang berlari dari gudang ke area masing-masing sehari bolak-balik empat kali, dan setiap truk membawahi empat atau lima van yang akan memecah beban kiriman ke empat atau lima sub-area yang berbeda.

Belum lagi di banyak perusahaan logistik yang lain, yang saya tiap hari juga papasan dengan van-van mereka. Itu baru di Perth dan sekitarnya. Belum yang berseliweran dari negara bagian lain, truk-truk besar dari Sydney, Melbourne, Adelaide. Saking banyaknya truk-truk itu, pede sekali mereka memasang papan di bagian belakang truk, dengan tulisan berbunyi "Without Trucks Australia Stops".

Apa yang bisa kita lihat dari situ? Ya, peraturan yang ketat atas kontrak kerja ternyata menjadi stimulus atas terbentuknya lapangan-lapangan kerja baru. Jelas sekali. Itu baru terkait dengan ketatnya kontrak kerja di industri jasa angkutan barang. Belum lagi yang berhubungan dengan jaminan standar keselamatan untuk pekerja.

Saya ambil contoh. Pagi tadi saya meminta Gulpreet, sopir area Girawheen yang bahasa Inggrisnya medok Punjabi itu, untuk tetap mengantar beberapa kardus yang lumayan berat. "Udah antar ajaaa," saya bilang begitu melihat dia yang ragu. Namun Calvin, teman saya yang lain langsung memotong, "Jangan, jangan. Di Australia, tak ada yang bisa memaksamu untuk mengangkat beban melebihi 25 kilo. Bahkan meski cuma kelebihan 50 gram sekalipun."

Itu memang standar keselamatan yang dijamin oleh peraturan. Majikan mana pun tidak berhak memaksa kita untuk mempertaruhkan nasib urat punggung kita. Sebagai solusinya, ada pos pekerjaan lain yang muncul karenanya. Mereka adalah beberapa sopir van tambahan yang bekerja ala taksi, dengan order-order khusus, order barang overweight dan oversize, dengan waktu lebih cepat dan bayaran yang juga beda. Itulah efek dari kesaktian kontrak kerja.

Lebih dari itu, dengan kontrak kerja yang ketat, status sosial para pekerja kerah biru juga tidak jatuh-jatuh amat. Baca lagi gambaran saya di atas tentang pekerjaan sopir perusahaan. Para majikan tidak bisa asal main suruh saja kepada karyawannya, untuk melakukan hal-hal lain di luar kesepakatan. Kondisi demikian menumbuhkan kenyamanan psikologis, kepercayaan diri pada profesi, relasi kerja yang sama-sama butuh dan bukan melulu sebagai pesuruh.

Pendek kata, dalam kaitannya dengan strata sosial, kontrak kerja yang tegas membawa penghargaan atas pekerjaan, dan dengan penghargaan tersebut kesenjangan antara level sosial satu dengan level lainnya tidak terlalu lebar.

Minimnya kesenjangan ini disempurnakan lagi dengan standar pengupahan yang tidak terlalu berbeda antara pekerja kerah biru dengan kerah putih. Di sini Anda bisa melihat pakaian klimis seorang eksekutif muda sebuah perusahaan properti yang sangat berbeda dengan kostum seorang tukang listrik saat mereka papasan di jalan. Namun, begitu Jumat malam tiba, keduanya akan nongkrong di bar yang sama, dengan penampilan yang juga kurang lebih sama.

Kontrak kerja yang ketat, syarat-syarat keselamatan kerja, standar pengupahan yang bagus sehingga tidak terlalu senjang antara berbagai level pekerjaan, barulah tiga hal yang terkait kesejahteraan pekerja di sini. Masih ada banyak aspek lainnya, semisal jatah cuti, jaminan kesehatan, dan lain-lain. Kapan waktu saya ceritakan juga soal itu.

Kesemuanya itu bukan cuma membentuk kesejahteraan kaum pekerja saja, namun juga membawa multiplier effect berupa perluasan lapangan kerja, kesenjangan ekonomi yang sempit sehingga harmoni sosial lebih terjaga, dan secara umum juga meningkatkan kualitas hidup sebuah masyarakat. Ya, masyarakat secara keseluruhan, bukan cuma pekerja itu sendiri.

Pertanyaannya, apakah itu semua gratis dan terjadi dengan tiba-tiba, seiring kebaikan Perdana Menteri atau kemuliaan hati Ratu Inggris Raya? Hehehe tentu saja tidak. Ada perjuangan panjang untuk meraih kondisi demikian.

Perjuangan kaum buruh di Australia dimulai sejak abad ke-19. Mulai perjuangan pembatasan jam kerja yang manusiawi dengan slogan "Eight Hours Labour, Eight Hours Recreation, Eight Hours Rest" pada tahun 1850-an, hingga pemogokan besar-besaran pada tahun 1890.

Bahkan semua itu terus berlanjut dan meledak lagi pada tahun 2005. Waktu itu Perdana Menteri John Howard menetapkan legislasi hubungan industrial yang disebut WorkChoices. Aturan baru itu diklaim akan melesatkan ekonomi Australia. Namun, kaum pekerja merasa hak-haknya justru dirugikan dengan peraturan baru tersebut. Protes keras para pekerja pun berujung pada aksi massa raksasa yang melawan kebijakan Howard.

Dalam aksi itu, 150.000 orang tumpah ruah hanya di kota Melbourne saja. Belum di kota-kota lain. Itu jumlah yang luar biasa, apalagi jangan lupa bahwa jumlah penduduk Australia hanya 25 juta jiwa. WorkChoices telah mengundang perlawanan bukan cuma dari kalangan buruh, namun juga dari para pemuka agama dan aktivis lembaga-lembaga sosial.

Howard pun terguling pada pemilu berikutnya, dan Kevin Rudd dari Partai Buruh naik takhta. Rudd, terlepas dari banyak kekurangannya, adalah sosok yang selalu diceritakan dengan wajah berbinar oleh para imigran, pengungsi dari negeri-negeri perang, pekerja kelas bawah, dan orang-orang miskin lainnya di Australia.

Apa poinnya? Sederhana saja. Australia adalah salah satu bukti kecil bahwa kesejahteraan kaum pekerja, perbaikan hak-hak mereka, membawa perbaikan yang jauh lebih luas lagi sampai ke lingkup bangsa. Dari situ pantas ditekankan, bahwa tidak ada untungnya jika kita masih merawat sinisme dan alergi kepada demonstrasi kaum pekerja seperti kemarin siang. Perkara ada segelintir kelompok yang mengotori aksi dengan bakar-bakar bunga entah untuk apa, yang segelintir itu abaikan saja.

Akhir kata, meski telat sehari, saya mengucapkan Selamat Hari Buruh Sedunia. Ini bukan cuma bagi yang merayakan, sebab kita semua semestinya turut merayakan.

Iqbal Aji Daryono praktisi media sosial, penulis buku "Out of The Truck Box". Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi.


(mmu/mmu)