DetikNews
Rabu 12 April 2017, 14:32 WIB

Kolom

Isu Penculikan Anak dan Pendidikan Antikorupsi Sejak Dini

Yuli Duryat - detikNews
Isu Penculikan Anak dan Pendidikan Antikorupsi Sejak Dini Foto: Yuli Duryat/Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah
Jakarta - Seorang nenek tergopoh berlari, suara pintu rumah berdebam di belakangnya, mungkin akibat ia tutup keras dengan tergesa. Ia berteriak kencang memanggil nama cucunya. Saya yang sedang membaca skenario teman di ruang tamu kontan kaget dan keluar rumah. Saat saya tanya nenek tersebut, ia menjawab dengan suara tersengal.

"Sedang banyak culik!" serunya khawatir tanpa memelankan larinya, dan menoleh ke arah saya. Ia mengejar cucunya yang mungil dan berlari mirip kancil cepatnya. Nenek itu kewalahan dan berteriak-teriak menyuruh cucunya berhenti berlari.

Sehari sebelumnya, nenek yang rumahnya tepat di sebelah kiri rumah saya itu bercerita bahwa anak perempuannya yang bekerja sebagai TKW di Singapura menelepon, menyuruhnya hati-hati menjaga anak dan cucunya, sebab di media banyak beredar kasus penculikan anak dan penjualan organ dalam manusia. Katanya, anaknya itu diperingatkan oleh majikannya yang juga mendengar berita itu.

Karena itulah, ia menelepon ibunya. Anak yang diculik dikembalikan lagi dengan uang dua juta dalam keadaan sakit dan kemudian meninggal. Setelah keluarga melihat kondisi badan korban, ternyata, organ dalamnya telah hilang. Begitulah berita mencekam yang beredar di medsos, membuat ibu-ibu, nenek-nenek, dan banyak kalangan masyarakat panik serta ketakutan.

Kabarnya pula, para penculik memberikan hadiah; makanan, permen, es krim, buah-buahan kepada calon korban. Para penculik anak itu dikabarkan menyamar sebagai orang gila, sehingga saat tertangkap, dengan mudah bisa lepas. Sementara banyak orang yang benar-benar ingin berbuat baik pada anak-anak malah dicurigai mau menculik.

Kekuatan Medsos

Kekuatan medsos dan media online sekarang ini memang sungguh digdaya, menyebarkan berita begitu cepat. Sayangnya, tak jarang hal itu menimbulkan simpang siur. Berita yang belum tentu benar soal penculikan anak tersebut misalnya, berhasil meneror ibu-ibu rumah tangga yang polos di kampung-kampung seperti di tempat saya.

Di sekolah-sekolah dasar dan PAUD isu itu beredar begitu cepat, sehingga membuat ibu-ibu paranoid, menaruh kecurigaan yang besar terhadap orang asing. Dan, akhirnya tak jarang orang yang tak bersalah pun menjadi korban.

Menelisik kasus ini, berbagai pendapat pun bermunculan. Ada yang mengatakan berita ini semacam gerakan nasional, bagian dari usaha pengoyangan kekuasaan. Ada juga sahabat yang berpendapat, ini hanya pengalihan isu dari kasus korupsi besar-besaran yang sedang terjadi di negeri ini. Saat orang-orang tak takut lagi dengan moncong senjata, maka mental merekalah yang diincar. Dengan begitu, mereka memiliki kesempatan untuk berkelit dari kesalahan.

Sahabat tersebut menyarankan kawan-kawannya di medsos untuk waspada dan tetap tenang. Ia bahkan mengaitkan isu Kolor Ijo bertahun yang lalu; isu yang sengaja diciptakan oleh kelompok tertentu untuk menggoyang stabilitas keamanan. Biasanya ya pas menjelang pemilu/pilkada seperti sekarang ini, lanjutnya.

Sebagai seorang ibu, saya pun sempat terpengaruh dan memberikan pesan panjang lebar pada anak lelaki saya yang duduk di bangku kelas enam SD untuk lebih hati-hati. Saya tekankan untuk tidak tergiur oleh iming-iming sesuatu dari orang yang tak dikenal. Terlebih anak lelaki saya berangkat dan pulang sekolah naik sepeda, cukup jauh jaraknya, sekitar 10 kilometer dari rumah ke sekolah.

Anak saya hanya tersenyum dan bilang, "Saya sudah besar, Bu tahulah saya." Saya tetap mengulangi kata-kata saya pada anak saya untuk waspada.

Tak Tergiur Pemberian

Sebetulnya terlepas ada tidaknya isu penculikan anak, saya pikir berhati-hati pada orang asing adalah keharusan. Orangtua juga berkewajiban untuk mendidik anak-anak sejak dini untuk tidak tergiur oleh pemberian orang lain, apalagi pemberian dari orang yang tak dikenal.

Mendidik anak untuk tidak dengan mudah menerima pemberian juga termasuk edukasi mental agar anak tidak mudah disuap. Tentunya ini akan berpengaruh saat ia besar nanti, agar tidak mudah tertular penyakit korupsi.

Selain itu, memberikan pengarahan pada anak agar bersyukur atas apa yang dimiliki juga sangat penting. Kalau sudah tertanam rasa syukur, anak tak akan mudah dibujuk orang untuk ikut dengan mereka hanya dengan iming-iming hadiah dan makanan, karena anak sudah merasa cukup dengan pemberian orangtua.

Kasih sayang, rasa memiliki juga perlu ditanamkan. Saat kasih sayang dan rasa memiliki itu telah ada dalam diri anak, mereka tak akan mau ikut orang lain sebab anak akan merasa khawatir kalau-kalau orangtua mencari, dan tentunya tak akan mau meninggalkan orangtua dan pergi dengan orang asing.

Mereka yang Lengah

Saya pikir para penculik pun pastinya melihat situasi kalau mau menculik; mereka yang lengahlah yang biasanya jadi incaran. Semisal meninggalkan anaknya sendirian bermain di pekarangan, di jalan, sementara orangtua asik main gadget, tak jarang terjadi anak jadi korban karena masalah ini.

Tiba lebih cepat dari jam selesai belajar saat menjemput anak-anak di sekolahan juga ada baiknya dilakukan, sehingga anak tidak harus menunggu lama di luar sekolah. Ketakutan berlebih itu tak akan timbul jika orangtua sudah memberikan perhatikan yang selayaknya pada anak-anaknya.

Intinya, jangan terlalu mudah percaya pada berita yang simpang siur; filter dulu sebelum mencernanya lebih lanjut. Cari portal berita yang terpercaya, dan tidak menebarkan isu sensasional dan salah. Jangan biarkan diri terkontaminasi dengan berita-berita yang tak jelas, apalagi pada hal-hal yang bisa mempengaruhi mental. Terakhir, sebagai manusia kita memang wajib maspada dan berhati-hati.

Yuli Duryat ibu rumah tangga, menulis cerpen, skenario FTV/sinetron/film, dan puisi. Tinggal di Cilacap



(mmu/mmu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed