DetikNews
Rabu 12 Apr 2017, 10:48 WIB

Kolom

Aksi Sporadis Generasi Baru Teroris

Stanislaus Riyanta - detikNews
Aksi Sporadis Generasi Baru Teroris Foto: Stanislaus Riyanta/Ilustrasi: Jacklin Anastasia
Jakarta - Aksi penangkapan anggota kelompok teroris berhasil dilakukan oleh Polri di Jawa Timur. Jumat (7/4) di Lamongan, polisi menangkap Zainal Anshori yang diduga sebagai orang yang menyediakan senjata untuk peristiwa Bom Thamrin 2016.

Zainal adalah Amir Jamaah Anshar Daulah, kelompok yang sudah membaiat diri kepada ISIS. Sehari kemudian terjadi serangan terhadap polisi di pos polisi jalan raya Tuban-Semarang, yang diindikasikan sebagai aksi balasan atas penangkapan di Lamongan.

Anggota polisi yang bertugas di pos tersebut, Aiptu Yudi dan Aiptu Tatag, ditembaki oleh kelompok teroris yang menggunakan mobil Daihatsu Terios nopol H 9037 BZ. Tembakan dari kelompok teroris yang tidak membuahkan hasil itu dibalas dengan pengejaran oleh polisi, dan akhirnya 6 orang pelaku berhasil ditembak mati.

Empat dari enam pelaku untuk sementara diidentifikasi sebagai Adi Handoko (34) yang tinggal di Limbangan, Kec Tersono, Kab Batang. Pelaku kedua bernama Satria Aditama (19) beralamat di Jalan Taman Karonsih, Kec Ngaliyan, Semarang. Pelaku ketiga bernama Yudhistira Rostriprayogi (19) beralamat di Desa Cepokumulyo, Kec Gemuh, Kab Kendal. Pelaku keempat Endar Prasetyo (52) tinggal di Limbangan, Kec Tersono, Kab Batang.

Serangan yang diindikasikan sebagai balasan atas penangkapan di Lamongan tersebut terkesan amatiran, dengan senjata rakitan, terutama untuk menyerang penegak hukum yang bersenjata. Serangan tersebut juga kurang perhitungan dan ceroboh mengingat dilakukan pada waktu, tempat, dan sasaran yang hasilnya tidak efektif. Para pelaku diduga tidak terlatih dengan baik untuk menggunakan senjata dan melakukan serangan.

Regenerasi

Meskipun aksi sporadis dari kelompok teroris tersebut dampaknya relatif kecil, pemerintah harus mewaspadai bahwa kelompok teroris berhasil melakukan regenerasi. Munculnya pelaku yang masih berusia muda, dan mau melakukan aksi yang cukup nekad, menandakan bahwa regenerasi dan doktrin radikal berhasil dilakukan oleh kelompok tersebut.

Tindakan yang dilakukan oleh polisi yang berhasil menembak mati keenam pelaku bisa menimbulkan rasa simpati dari anggota kelompok lain atau orang dekat dari pelaku. Aksi polisi ini akan menimbulkan rasa dendam dan sakit hati kepada polisi dari orang yang mempunyai paham yang sama dengan pelaku. Jika tidak diantisipasi dengan baik maka doktrin radikal justru akan semakin lebih kuat karena ditambah dengan rasa dendam.

Dendam dan sakit hati akan memicu aksi-aksi sporadis selanjutnya. Eksistensi bagi kelompok teror sangat penting untuk ditunjukkan sebagai bentuk kesetiaan terhadap kelompok dan perlawanan terhadap pihak yang dianggap sebagai musuh. Ideologi dan doktrin dari kelompok akan membenarkan dan mendorong para pelaku untuk terus melakukan aksi teror.

Namun, apapun alasannya negara tidak boleh kalah dengan kelompok teroris. Aksi teror dari para penganut ideologi radikal tidak boleh terjadi. Radikalisasi harus dicegah (kontra radikalisasi) dan jika sudah terjadi harus dikembalikan menjadi tidak radikal (deradikalisasi).

Ideologi yang menjadi penyebab perilaku radikal harus dilawan dengan ideologi yang tidak radikal. Peran pemerintah dan masyarakat untuk mencegah penyebaran ideologi radikal sangat penting. Narasi-narasi radikal yang beredar di masyarakat harus dilawan (kontra narasi radikal) sehingga tidak menjadi doktrin yang mengakar bagi penerimanya.

Sebagian besar dari anggota kelompok radikal/teroris mempunyai ciri perilaku yang tertutup, eksklusif, dan mudah untuk mengkafirkan orang lain. Namun, seringkali tanda-tanda orang sudah terpapar paham radikal sulit diketahui bahkan oleh keluarganya sendiri.

Hal itu terbukti jika ada penangkapan atau penembakan terhadap teroris biasanya keluarganya akan terkejut dan tidak menyangka bahwa anggota mereka menjadi pelaku teror atau bagian dari kelompok radikal. Sulit dikenalinya orang yang sudah mempunyai paham radikal ini membuat penanganan dan pencegahan aksi teror semakin rumit.

Mengakar Kuat

Munculnya teroris berusia muda (belasan tahun) dengan aksi-aksi sporadis menunjukkan bahwa paham radikal sudah mengakar kuat dengan cepat pada generasi muda di Indonesia. Hal ini tentu menjadi ancaman serius yang harus ditangani supaya tidak berdampak pada eksistensi negara.

Keluarga sebagai benteng terdepan dari bahaya paham radikal harus mampu mengenali dan mencegah masuknya paham radikal kepada anggotanya. Sosialisasi dari pemerintah kepada masyarakat harus semakin gencar. Kementerian Agama, ormas-ormas keagamaan, lembaga pendidikan, pemerintah daerah, penegak hukum dan masyarakat perlu bahu-membahu untuk melakukan pencegahan dan penanganan paham radikal di masyarakat.

Jika keluarga-keluarga di Indonesia paham dan mampu mengenali bahaya paham radikal tentu langkah pemerintah untuk mencegah radikalisasi akan lebih mudah. Namun, jika di keluarga justru terjadi penyebaran paham radikal maka negara akan semakin sulit untuk melawan terorisme.

Terorisme adalah musuh bersama. Negara saja tidak cukup untuk mencegah dan menanganinya. Minimal masyarakat bisa berperan serta dalam pencegahan terorisme dengan memastikan bahwa anggota keluarganya tidak terpapar paham radikal.

Stanislaus Riyanta alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia.




(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed