DetikNews
Senin 10 April 2017, 10:32 WIB

Kolom

Serangan Amerika ke Suriah, Bermotif Kemanusiaan atau Politik?

Muhammad Pizaro - detikNews
Serangan Amerika ke Suriah, Bermotif Kemanusiaan atau Politik? Foto: Reuters
Jakarta - Kamis (6/4) malam waktu AS, atau Jumat (7/4/) dini hari, Amerika Serikat melesakkan serangan ke Pangkalan Udara Shayrat, milik pemerintah Suriah. Serangan ini dilancarkan tak lama setelah Bashar Assad menumpahkan gas beracun yang menewaskan ratusan orang di wilayah Idlib. Tentu, sebagian orang terperangah dengan tindakan yang dilakukan Trump. Aksi ini pun digadang-digadang sebagai bentuk dukungan Donald Trump terhadap masyarakat Suriah. Betulkah?

Menariknya, jika alasan Donald Trump melancarkan serangan demi menghentikan teror kimia, tentu seorang presiden yang memiliki konsultan militer tidak akan melancarkan serangannya ke sebuah hanggar kosong, dan membiarkan landasan udaranya tetap mulus. Dan, pada kenyataannya serangan itu sama sekali tidak berefek pada redanya agresi Bashar. Bahkan, belakangan diketahui, AS turut memberitahu Rusia sebelum melancarkan serangan. Karena itu, dokter medis yang bertugas di Idlib, dr. Shajul Islam, menegaskan bahwa serangan AS tidak membawa perubahan apapun bagi kondisi kemanusiaan di Suriah.

"Pemboman berat sekarang terjadi di atas kota Idlib. Serangan udara di AS tidak membawa perubahan apapun. Pembunuhan Sipil berlanjut seperti biasa," demikian cuit dr. Shajul.

Utopia

Sejatinya, menyandarkan aspirasi kemanusiaan kepada Amerika, Rusia, maupun Bashar Assad adalah utopia. Sebab merekalah yang saat ini terlibat dalam pelanggaran HAM berat di Suriah. Jika hari ini Amerika melontarkan rudal ke rezim Suriah, hal itu tidak lebih kepada tendensi politik dengan memanfaatkan situasi kemanusiaan di wilayah Khan Seikhun. Maklum saja, serangan gas kimia rezim Bashar ke wilayah Idlib semakin membuka kesadaran dunia mengenai nasib warga dan anak-anak Suriah. Dunia berontak, masyarakat dunia pun turun ke jalan-jalan melakukan demonstrasi, termasuk di Indonesia.

Maka, kita dapat membaca bahwa aksi Trump tidak lain bagian dari upaya menaikkan citra di mata dunia. Sebab kita mengetahui sejauh mana komitmen Trump terhadap isu kemanusiaan di Suriah. Pertanyaannya, haruskah kita percaya terhadap seorang presiden yang sebelumnya justru menutup pintu bagi pengungsi dan anak-anak Suriah di Amerika?

Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, menegaskan, jika memang Trump peduli anak-anak Suriah, ia tak akan menghalangi mereka masuk Amerika. Marwan melihat, serbuan sang presiden tak lain sebagai upaya strategis untuk menaikkan posisi Amerika di Suriah. Serangan pada "sasaran terbatas" ini juga dimaksudkan untuk menopang popularitasnya dalam jajak pendapat untuk memproyeksikan diri sebagai presiden yang memiliki keberanian dan ketegasan.

Serangan "berisiko rendah" ini juga membuka jalan bagi keterlibatan lebih besar AS dalam menentukan masa depan Suriah. Trump juga ingin menunjukkan independensinya dari Moskow, dan membantu menghilangkan kecurigaan dugaan hubungan diam-diamnya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Marwan meyakini, serangan ke Suriah bukanlah dilakukan atas inisiatif Trump. Minimal ada tiga nama yang menjadi think thank dalam manuver AS di Suriah, yaitu, Menteri Pertahanan James Mattis, Kepala Keamanan Dalam Negeri John Kelly dan Penasihat Keamanan Nasional H R McMaster. Mereka adalah trio yang mengendalikan kebijakan keamanan nasional AS. Ketiganya adalah veteran perang AS di Irak dan Afghanistan yang dinilai akan keberaniannya dan daya intelektual strategisnya.

Setali Tiga Uang

Upaya daya tawar AS pada Suriah juga dikuatkan dengan momentum kedatangan dengan Presiden China Xi Jin Ping ke Amerika. Trump jeli melihat ini dan menebar pesan pada Assad bahwa Amerika dalam jangka panjang akan memiliki hubungan yang sangat kuat dengan China. Kita ketahui, China berada dalam plot Rusia, dan kedekatan AS-China akan merubah konstelasi geopolitik dunia.

Jadi, hemat penulis, serangan Amerika Serikat tidak akan membawa perubahan berarti bagi kondisi kemanusiaan di Suriah. Rusia, Suriah, dan AS adalah setali tiga uang. Justru, sebagai aktivis kemanusiaan, kita khawatir serangan ini menimbulkan fitnah baru bagi rakyat Suriah. Sebab, selama ini tuduhan yang sering dialamatkan kepada masyarakat Suriah adalah bagian dari kepanjangan tangan kepentingan politik Amerika. Bahwa ada sejumlah faksi politik yang dekat dengan Amerika, iya.

Tapi, menstigma tuntutan masyarakat Suriah sebagai skenario Amerika sangat tidak tepat. Sebab momentum revolusi pada tahun 2011 adalah akumulasi pelanggaran HAM yang selama ini menghinggapi masyarakat Suriah. Masyarakat Suriah sendiri secara umum menolak kehadiran AS, ini pernah dibuktikan dengan demonstrasi besar-besaran masyarakat atas stigmatisasi teroris oleh AS kepada sejumlah kombatan di Suriah.

Tragedi kejahatan terhadap kemanusiaan bukanlah pemandangan baru dalam sejarah Suriah. Belum lepas dari ingatan dunia pembantaian terhadap manusia terbesar terjadi pada 2 Februari 1982 (versi Amnesti Internasional). Pembantaian yang dikenal dengan "majzarah al Hama 1982" atau "Hama massacre 1982" itu merupakan satu operasi militer paling besar yang dikerahkan oleh rezim Suriah terhadap gerakan oposisi. Operasi tersebut merenggut nyawa puluhan ribu penduduk kota Hama, Suriah.

Operasi tersebut dimulai 2 Februari 1982 dan berlangsung selama 27 hari berikutnya. Tentara pemerintahan junta militer Hafez al Assad, ayah kandung Bashar, mengepung dan memborbardir kota Hama. Kemudian setelah itu menyerang dengan pasukan darat. Tentara rezim melakukan pembantaian brutal dan sadis yang merenggut puluhan ribu nyawa penduduk sipil. Pemimpin operasi yang tidak berperikemanusiaan itu adalah Kolonel Rifaat al Assad, saudara kandung diktator Hafez al Assad.

Penindasan itu pun berlanjut jelang meletusnya perang Suriah tahun 2011. Sejumlah anak-anak yang menuliskan kata-kata protes terhadap rezim justru dihadapi dengan tindakan kekerasan. Meletuslah demonstrasi damai, namun sayangnya pemerintah menghadapinya dengan rentetan senjata.

Cara Terbaik

Karena itu, cara terbaik menyelesaikan krisis Suriah adalah dengan menghukum Bashar atas kejahatan perang dan kemanusiaan. Itulah kehendak terdalam mayoritas masyarakat Suriah yang mereka suarakan lewat demonstrasi damai pada 2011.

Selanjutnya, keluarkan tentara asing dari Suriah. Kedatangan tentara asing ke Suriah dengan dalih memerangi terorisme justru kian memperburuk kondisi kemanusiaan di Suriah. Alih-alih melawan terorisme, negara-negara Barat justru terlibat dalam pembunuhan masyarakat sipil Suriah, di Aleppo, Idlib, Hama, dan kota-kota lainnya.

Selanjutnya, guna mewujudkan Suriah yang damai dan berakhirnya konflik berkepanjangan, serahkanlah masa depan Suriah pada rakyatnya di bawah arahan ulama yang selama ini senantiasa membimbing dan mendampingi mereka.

Muhammad Pizaro jurnalis peliput isu kemanusiaan di Suriah, kini aktif di Center for Islamic and Global Studies


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed