DetikNews
Rabu 05 April 2017, 11:27 WIB

Kolom

Pembunuhan di SMA Taruna Nusantara dan Riwayat Dendam Kesumat

Sidik Nugroho - detikNews
Pembunuhan di SMA Taruna Nusantara dan Riwayat Dendam Kesumat Foto: ilustrasi: edi wahyono
Jakarta - Hingga akhir Maret tahun ini, kasus kekerasan yang terjadi di kalangan remaja dan pemuda amat memprihatinkan. Pada 31 Maret, Krisna Wahyu Nurachmad (15 tahun), siswa SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah, ditemukan tewas di barak sekolahnya. Mundur ke belakang, Ahmad Andika Baskara (19 tahun), siswa jurusan Teknik Mesin kelas IX SMK Bunda Kandung tewas dalam tawuran di fly over Pasar Rebo pada 14 Februari. Kemudian, pada 11 Maret, Edi Gilang Febriyanto (17 tahun) dari SMK Abdi Karya juga tewas pada tawuran di Pondok Gede, Bekasi.

Dari tiga peristiwa di atas, yang tampaknya paling menyedot perhatian publik adalah yang pertama. Publik mungkin akan teringat kasus Jessica dan Mirna yang ketika diberitakan memantik teka-teki dan tanya. Dua kasus lain lebih jamak dilakukan, yaitu remaja atau pemuda saling serang beramai-ramai, tapi kematian Krisna sejauh ini disinyalir disebabkan pelaku tunggal. Namun, penyebab terjadinya tiga tindak kejahatan itu sama: dendam.

Dari beberapa informasi disampaikan bahwa tersangka berinisial AMR (16 tahun) membunuh Krisna dengan menikam lehernya karena dendam. Dendam itu muncul karena dua hal. Pertama, Kresna suatu ketika memergok AMR mencuri uang seorang teman mereka. Kedua, AMR pernah meminjamkan ponsel miliknya untuk digunakan Kresna, tapi ponsel itu di-sweeping karena siswa kelas X tidak diperkenankan membawa ponsel. Kepada wartawan, Sabtu (1/4), Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono menyatakan bahwa AMR akan ditahan selama tujuh hari ke depan untuk mempercepat proses penyidikan di Mapolres Magelang.

Kisah-kisah Dendam

Roger Ebert, kritikus film ternama yang sudah almarhum itu, pernah menyatakan bahwa Hannibal Lecter adalah tokoh yang ditakuti, namun juga disayangi. Hannibal Lecter adalah tokoh dalam film Silence of the Lambs, Hannibal, Red Dragon, dan yang terakhir Hannibal Rising. Komentar Roger Ebert tak berlebihan. Hannibal Lecter memang sangat menakutkan karena otak manusia pun dimakannya, namun juga disayangi karena ia amat flamboyan dan romantis. Ia sosok yang hidup karena memelihara dendam.

Hannibal Lecter menjadi begitu keji karena semasa kecil pernah menyaksikan beberapa tentara kelaparan semasa perang, lalu memakan adiknya, Mischa. Tentara-tentara itu sudah tak punya makanan lagi. Kebengisan mereka "menular" kepadanya akibat dendam. Dalam Hannibal Rising dikisahkan, ulah para tentara rakus nan bengis pada Mischa sering hadir dalam mimpi-mimpi Hannibal. Ia sangat menyayangi Mischa. Mimpi-mimpi itu, dipadu dengan kebencian, berbuntut pada pembalasan dendam yang tak kalah keji pada tentara-tentara itu.

Dalam In Cold Blood, buku karya Truman Capote yang laku keras, dan dibuat film dalam beberapa versi, pembaca atau penonton pun dapat mengenali, salah satu alasan mengapa dendam dapat menguasai jiwa manusia. Buku atau film itu berkisah tentang seorang pria sangat memuja ayahnya. Sayangnya, di masa kecil ia jarang bersama ayahnya. Ayahnya seorang artis rodeo, atau penunggang kuda. Ketika ayahnya kehilangan pekerjaan, kehidupan mereka menjadi susah. Si ibu akhirnya meninggalkan si ayah seorang diri.

Pria itu bahkan beberapa kali bermimpi tentang ayahnya sambil memanggil-manggil namanya. Teman dekatnya yang bersaksi tentang hal itu. Dan, betapa ia bahagia, suatu saat ia bertemu ayahnya lagi ketika dewasa. Mereka berdua lalu membuka bar kecil dengan beberapa meja biliar.

Harapan pria itu untuk selalu bersama ayahnya tergapai sudah. Namun, sayangnya, suatu ketika saat ia mendekor bar mereka dengan lukisan-lukisan buatannya, ayahnya datang sambil mabuk, mencerca anak itu sebagai anak yang tak berguna. Bar mereka sedang sepi pengunjung, dan si ayah menganggap bahwa lukisan-lukisan anaknya itulah yang menjadi penyebabnya. Perry Smith, anak itu, kemudian memutuskan untuk membunuh ayahnya dengan cara yang keji dan mengerikan. Dan dia melakukannya dalam "kondisi jiwa tanpa bersalah", atau "in cold blood".

Kisah Perry tidak hanya berakhir di situ. Ia juga melakukan serangkaian pembunuhan berantai yang membuatnya dihukum gantung. Itu semua terjadi karena harapannya mendapat sosok ayah yang melindungi dan menyayanginya pupus dan terberai. Dan harapan itu kemudian berubah jadi amukan yang mengerikan.

Belajar Mengampuni dari Keluarga

Dari peristiwa dan contoh-contoh di atas, pengampunan pun menjadi nilai yang perlu dipelajari kembali. Keluargalah tempat yang paling tepat untuk memberi pembelajaran dan keteladanan tentang pengampunan. Sejak kecil anak-anak perlu belajar tiga aspek penting dalam pengampunan, yaitu meminta maaf, memberi maaf, dan mengenali kesalahan. Tiga aspek itu, kalau ditanamkan pada diri anak-anak, akan membuat kasih bertumbuh. Mengampuni bagi sebagian orang memang bukan tindakan keadilan—"mata ganti mata, gigi ganti gigi"—namun di dalam pengampunan tersedia rasa syukur dan legawa. Dua hal itulah yang dapat menentramkan jiwa yang bergejolak, sekaligus melebarkan kasih dalam relung hati.

Pengampunan juga yang akan mengajari seseorang untuk menjadi mahfum dengan ketidakadilan yang menimpanya, dan mengamini apa yang pernah dinyatakan Mahatma Gandhi: "Cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah menyimpan dan membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan."

Kata-kata Gandhi, bahwa mencintai menimbulkan penderitaan, tampak jelas dalam kisah berikut. Pada 1987, bom Irish Republican Army (IRA) meledak di sebuah kota kecil sebelah barat Belfast, di tengah sekelompok orang yang sedang berkumpul mengenang korban perang. Sebelas orang tewas dan enam terluka. Sebuah surat kabar menulis, "Tidak ada seorang pun ingat apa yang dikatakan politisi saat itu." Di antara para korban, ada seorang pria pedagang kain bernama Gordon Wilson, yang kehilangan putrinya bernama Marie. Bom yang diledakkan teroris itu mengubur mereka berdua di bawah tumpukan beton dan batubata.

Kata-kata terakhir yang diucapkan Marie adalah, "Ayah, aku sangat menyayangimu," sambil menunggu regu penolong menyelamatkan mereka. Beberapa jam kemudian, ia meninggal di rumah sakit. Dari ranjang rumah sakit, Wilson berkata, "Saya kehilangan anak saya, tapi saya tidak memendam dendam. Berbicara getir tidak akan menghidupkan kembali Marie Wilson. Saya akan berdoa, malam ini dan setiap malam, kiranya Tuhan mengampuni mereka." Itulah yang membuat suara politisi lenyap; dan surat kabar itu kemudian menulis lagi, tentang Wilson: "Kasih karunia menjulang di depan alasan-alasan pembenaran yang diajukan para pelaku peledakan."

Setiap tindak kejahatan kadang mempunyai alasan yang cukup manusiawi—bahkan adil—untuk dilakukan. Tak jarang, pembalasan dendam tampak manusiawi. Para penonton film mungkin turut bersorak-sorai kalau menonton tokoh antagonis dalam film berhasil membalas dendam. Pengampunan justru tampil terbalik: tidak manusiawi, tidak adil, bahkan tidak logis. Namun, seperti kata sebuah pepatah Afrika, "Ia yang memaafkan, mengakhiri pertengkaran."

Sidik Nugroho novelis, penulis lepas. Novelnya tentang pembalasan dendam berjudul Tewasnya Gagak Hitam (Gramedia Pustaka Utama, 2016).


(mmu/mmu)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed