DetikNews
Senin 03 Apr 2017, 11:05 WIB

Kolom Kang Hasan

Pengendara Tak Terdidik

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Pengendara Tak Terdidik Foto: (Dokumentasi pribadi)
Jakarta - Setiap pagi saya harus melewati jalan panjang, dari Cikarang ke tempat kerja saya di Jakarta. Ini adalah jalur dengan kemacetan parah, khususnya pada hari Senin.

Sejak di kawasan Tambun kendaraan sudah berjalan merayap dengan kecepatan 10 km/jam. Dalam kepadatan lalu lintas itu, sesekali meluncur kendaraan darurat, seperti ambulans atau rombongan kendaraan polisi/tentara. Sebagai pengguna jalan, wajib bagi kita untuk menepi, memberi kesempatan kepada kendaraan-kendaraan itu untuk lewat.

Ternyata, yang lewat itu tak hanya mobil-mobil dengan keperluan darurat. Di belakangnya berbaris sejumlah kendaraan, menyalakan lampu hazard, seolah mereka adalah bagian dari rombongan darurat tadi. Kita dengan mudah bisa menduga, bahwa mereka bukan bagian dari rombongan darurat. Ini hanyalah sekelompok orang yang merasa bisa menipu orang lain, padahal sebenarnya mereka sedang menipu diri.

Itu adalah contoh kecil tentang semrawutnya jalan raya kita. Ada begitu banyak persoalan di jalan raya, yang menunjukkan bahwa para pengemudi itu tidak tahu, atau tidak peduli soal aturan dan keselamatan. Salah satu pangkal kesemrawutan ini adalah karena jalan raya kita dipenuhi oleh pengendara yang tidak terdidik.

Lho, bukankah para pemilik mobil itu adalah orang-orang yang terdidik, banyak dari mereka malah sarjana? Betul. Tapi umumnya mereka tidak mendapat pendidikan yang layak soal tata cara berkendara.

Coba kita tanyai orang-orang yang berkendara itu, bagaimana dulu mereka belajar menyetir. Sebagian besar orang Indonesia belajar menyetir di lapangan, dengan pendamping, atau belajar sendiri. Sebagian malah langsung belajar di jalan raya.

Kemudian mereka datang ke kantor polisi untuk mendapatkan SIM ala kadarnya. Karena itu, pengguna jalan kita umumnya adalah orang-orang yang tidak punya cukup pengetahuan soal tata cara berkendara.

Jangankan pengguna jalan, bahkan kadang aparat pun banyak yang berkendara dengan cara ngawur. Salah satu keajaiban yang sering saya saksikan di jalan tol kita adalah mobil patroli jalan mundur di bahu jalan. Tidak tahukah mereka bahwa itu berbahaya? Mungkin mereka mengira, itu bagian dari diskresi. Mereka lupa bahwa diskresi tidak membuat hal berbahaya menjadi aman.

Tingkat kecelakaan lalu lintas di Indonesia termasuk yang terburuk di dunia. Sampai-sampai masalah ini menjadi sorotan WHO. Tapi, bagaimana kita bisa memperbaikinya?

Pendidikan seharusnya menjadi tulang punggung dalam melakukan perbaikan. Tapi kita tidak punya sistem pendidikan berlalu lintas yang memadai. Sementara itu sekolah formal di berbagai jenjang juga tidak dilengkapi dengan muatan pendididikan berlalu lintas.

Bagaimana seharusnya? Saya kebetulan belajar menyetir lalu mendapat SIM di Jepang. Saya mengalami sendiri bagaimana ketatnya kriteria bagi seseorang untuk mendapatkan SIM.

Pengendara harus menjalani pelatihan dengan disiplin tinggi, dan hanya boleh beranjak ke tahap selanjutnya, kalau sudah benar-benar memenuhi kriteria kelulusan pada suatu tahap. Itu menjamin setiap orang yang lulus mendapatkan SIM adalah orang-orang yang terampil berkendara sesuai dengan kaidah berkendara secara aman.

Tidak hanya itu, orang juga dibekali dengan pengetahuan teoretik mengenai tata tertib berlalu lintas dan etika berkendara. Tidak hanya tahu, tapi juga dididik untuk menjadikannya kebiasaan. Itu semua hanya bisa dicapai dengan sistem pendidikan berstandar nasional, dengan pelatih bersertifikasi.

Adakah upaya memadai ke arah itu? Sayangnya tidak. Sepertinya masalah ini sulit untuk mendapat perhatian memadai, di tengah berbagai masalah raksasa yang membelit pemerintah, seperti soal minim anggaran dan korupsi. Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Sebagai warga, kita perlu proaktif, membenahi perilaku kita masing-masing. Kemudian secara perlahan kita aktif mengkampanyekan tertib berlalu lintas. Tak banyak efeknya mungkin, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Bila tak sanggup menjadi bagian dari solusi, setidaknya janganlah jadi bagian dari masalah.

*) Hasanudin Abdurakhman adalah cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia.
*) Artikel ini adalah pandangan pribadi penulis, bukan merupakan pandangan redaksi detikcom.
(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed