DetikNews
Senin 27 Mar 2017, 11:35 WIB

Kolom Kang Hasan

Perusahaan adalah Lembaga Pendidikan

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Perusahaan adalah Lembaga Pendidikan Foto: (Dokumentasi pribadi)
Jakarta - Bagaimana kita melihat perusahaan tempat kita bekerja? Itu adalah tempat yang kita datangi pagi-pagi, dan kita tinggalkan saat petang, atau malam hari. Di situ kita menerima perintah-perintah, untuk kita laksanakan. Dari situlah kita mendapat upah, untuk menafkahi keluarga kita.

Perusahaan ini milik seseorang, atau sejumlah orang. Mereka menanamkan modal, mempekerjakan orang-orang, memproduksi barang dan jasa, dan mendapat untung dari situ. Para pengusaha itu menjadi kaya dengan keuntungan yang diperoleh dari perusahaan. Maka, tak jarang kita melihat diri kita sebagai orang-orang yang bekerja untuk membuat orang lain kaya. Kita bahkan sering diperas agar mereka lebih kaya lagi.

Bagaimana para pengusaha melihat perusahaan mereka? Mungkin banyak juga yang melihatnya dengan cara yang sama dengan sudut pandang di atas. Perusahaan adalah alat untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Bila diperlukan, tekan gaji pekerja dan minimalkan fasilitas untuk mereka, agar keuntungan yang didapat lebih besar.

Mari kita lihat, bagaimana posisi perusahaan-perusahaan asing bagi negara mereka. Apa fungsi Mitsubishi, Hitachi, Mitsui, dan lain-lain bagi Jepang? Mereka adalah pilar negara. Perusahaan-perusahaan itu menyediakan berbagai produk teknologi yang dipakai untuk menopang kehidupan. Berbagai barang kebutuhan, baik yang merupakan kebutuhan fundamental maupun hiburan mereka sediakan. Bahkan berbagai barang untuk pertahanan dan keselamatan negara juga mereka sediakan.

Mereka juga adalah mesin-mesin penggerak ekonomi negara. Mereka membeli bahan baku, memprosesnya menjadi barang lain, lalu menjualnya untuk menghasilkan keuntungan. Dengan cara itulah ekonomi negara dihidupkan.

Ada jutaan orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan itu, dengan berbagai latar belakang pendidikan. Mereka bergabung di usia muda, mendapat berbagai latihan, dan melalui itu ilmu serta keterampilan mereka meningkat. Ada pula yang melakukan berbagai penelitian, lalu menemukan berbagai ilmu dan teknologi baru.

Kenapa berbeda betul gambarannya dengan perusahaan Indonesia tadi? Sebenarnya tidak berbeda. Saya hanya menuliskannya dalam sudut pandang yang berbeda, untuk memberi gambaran betapa pentingnya sudut pandang itu. Kita akui atau tidak dalam sudut pandang kita sebagai karyawan, atau sudut pandang pengusaha, perusahaan tetap menjalankan fungsi-fungsi tadi. Hanya saja, sudut pandang yang kita pilih akan mengubah perilaku kita terhadap perusahaan, baik dalam posisi kita sebagai karyawan maupun pengusaha.

Coba kita lihat perusahaan sebagai sebuah lembaga pendidikan, sebuah sudut pandang yang jarang dianut orang. Seperti dijelaskan di atas, perusahaan berperan mendidik orang, membuat mereka lebih terampil, lebih ahli, dan bahkan menghasilkan pengetahuan yang belum pernah ada sebelumnya.

Dengan sudut pandang itu, apa perilaku yang kita pilih? Sebagai karyawan kita akan mengisi hari-hari kita dengan belajar, untuk jadi lebih terampil dan lebih ahli lagi. Kita akan mencari kesempatan untuk belajar, bahkan, kita menciptakan berbagai kesempatan untuk belajar. Tidak hanya itu. Kita juga aktif mendidik orang-orang, terutama bawahan kita, membagikan ilmu dan keterampilan kita, agar mereka juga tumbuh menjadi lebih terampil dan lebih ahli.

Bagaimana dengan pengusaha? Mereka akan menyediakan sejumlah dana untuk membiayai berbagai kegiatan pendidikan untuk karyawan. Tapi, bukankah itu akan mengurangi penghasilan mereka? Secara jangka pendek, iya. Tapi dalam jangka panjang, keterampilan dan keahlian yang meningkat pada karyawan akan meningkatkan produktivitas perusahaan. Tidak hanya itu, perusahaan akan berkembang menjadi lebih inovatif, dan tumbuh lebih cepat. Secara jangka panjang pengembangan sumber daya manusia adalah investasi.

Tidakkah itu idealita yang hanya indah di atas kertas? Tidak. Karena itulah yang terjadi dengan perusahaan-perusahaan Jepang yang digambarkan di atas. Tidak hanya Jepang, tentu saja, semua perusahaan di berbagai negara seperti itulah cara berpikirnya. Kalau kita tidak mengambil sudut pandang itu, maka kita akan jalan di tempat sambil melakukan destruksi secara mutual.

Banyak perubahan besar terjadi karena perubahan pola pikir atau mindset. Sebenarnya, tidak ada perubahan besar yang tidak dimulai dari perubahan pola pikir. Maka, kita semua harus mengubah pola pikir kita, kemudian mengubah perilaku (attitude) kita terhadap perusahaan.

Perusahaan bukan sekadar tempat cari makan atau tempat cari untung. Perusahaan adalah pilar yang memastikan negara dan bangsa ini tetap tegak. Ia memastikan bagaimana anak cucu kita kelak akan berdiri di tengah bagsa-bangsa lain. Memfungsikan perusahaan sebagai sebuah lembaga pendidikan adalah sebuah keharusan dalam perspektif itu.

*) Hasanudin Abdurakhman adalah cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia.
*) Artikel ini adalah pandangan pribadi penulis, bukan merupakan pandangan redaksi detikcom.
(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed