DetikNews
Kamis 09 Mar 2017, 11:35 WIB

Kolom

Hari Perempuan Internasional dan Kenangan tentang Lady Di

Nia Dinata - detikNews
Hari Perempuan Internasional dan Kenangan tentang Lady Di Foto: Mohammad Abduh/Wolipop
London - Semua perempuan yang menikmati masa remajanya di zaman tahun 80-an pasti mengenal Lady Diana, alias Princess Diana, bahkan banyak yang mengaguminya termasuk saya. Bagaimana media massa pada saat itu melakukan begitu banyak liputan sehingga semua gadis ingin punya kehidupan dongeng bagaikan dirinya.

Perempuan sederhana walaupun berdarah biru, dan seorang guru TK dipinang pangeran pewaris tahta kerajaan Inggris. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, terutama saat perkawinannya di Westminster Abbey disaksikan oleh jutaan manusia lewat layar TV cembung jaman itu.

Foto: Quote dari berbagai desainer dunia yang ditorehkan di dinding pameran (Foto: Nia Dinata)


Namun, setelah kemanisan hidup Diana, yang juga seorang ibu yang handal dari dua anak laki-lakinya William dan Harry, berakhir, media massa pun menyorotinya tanpa henti. Semua perempuan berempati pada Diana yang ternyata menyimpan beban akan affair, Charles suaminya.

Namun Diana, terus melakukan tugas-tugasnya sebagai seorang Princess. Menyibukkan dirinya di berbagai yayasan untuk anak-anak, AIDS sampai pengungsi. Sehubungan dengan tanggal 8 Maret ini yang diperingati dunia akan Hari Perempuan Internasional, maka taka da salahnya kita mengikuti cerita Diana, icon perempuan yang sangat berlapis-lapis kisahnya.

Melihat Diana tidak bisa hanya dari satu dimensi. Ia telah melewati peristiwa-peristiwa, termasuk kekerasan dalam rumah tangga yang non-fisik sifatnya, dan berhasil keluar dari kungkungan tradisi.

Selain itu, Diana juga menjadi putri yang sangat disoroti gaya berpakaiannya. Gaun apapun yang ia pakai, pasti akan menjadi trend di masa itu. Gaya berpakaian Diana pun berubah dari masa ke masa. Dan perubahan itu bisa dikaitkan dengan perubahan cara berpikir dan kemandiriannya sebagai perempuan kerajaan.

Istana Kensington dan majalah mode terkemuka, Harper's Bazaar, di akhir Februari 2017 kemarin membuka pameran yang berjudul "Diana Her Fashion Story". Beruntung sekali, pembukaan pameran bertepatan dengan keberadaan saya di London. Antrean tiket yang panjang dari pintu masuk istana Kensington (tempat tinggal Diana di masa hidupnya) sampai ke taman besar di kompleks Istana dan udara dingin pun tidak menjadi penghalang.

Foto: Di Istana Kensington, menuju ruang pameran "Diana Her Fashion Story" (Foto: Nia Dinata)


Cerita perempuan tidak harus selalu verbal, maupun dalam bentuk tulisan. Ternyata dari runtutan pameran busana pun masyarakat bisa meresapi cerita dari seorang putri yang legendaris seperti Diana.

Foto: Gaun dengan brand Regamus, warna hijau telur asin yang dikenakan Diana pada pesta Debutante sebelum bertunangan dengan Pangeran Charles (Foto: Nia Dinata)


Foto: Gaun Catherine Walker, perancang yang juga merancang gaun pernikahan Diana. Mereka berkenalan di Cannes Film Festival 1987 (Foto: Nia Dinata)

Foto: Gaun lace merah dan hitam karya perancang Inggris, Victor Edelstein, pertama kali dipakai Diana tahun 1987 (Foto: Nia Dinata)


Foto: Gaun penuh mutiara yang legendaris. Pernah dipakai Diana dalam kunjungan resmi ke Hong Kong tahun 1989 (Foto: Nia Dinata)

Foto: Gaun Versace yang ikonik dan berani. Diana mengenakan ini setelah resmi bercerai dari Pangeran Charles (Foto: Nia Dinata)

Saya jadi ingat ketika kuliah di New York di awal tahun 90-an, Markas Besar PBB di East 42nd Street, setiap tanggal 8 Maret terlihat penuh atribut yang merayakan kepemimpinan perempuan dari berbagai belahan dunia. Ketika lulus dan mulai bekerja di Jakarta, saya jarang melihat perayaan ini dan cenderung melupakan untuk berkomunikasi dan memantau aktivitas sesama teman perempuan yang domisilinya di berbagai belahan dunia, untuk hari perempuan ini.

Di sekitar tahun 2003 dan seterusnya, baru saya beberapa kali diundang oleh perusahaan multinasional yang domisili cabangnya di Jakarta, untuk berbicara di perayaan International Women's Day bersama direktur perempuan dan staf-staf perempuan korporasi tersebut. Jadi, masih tertutup sifat perayaannya.

Sekarang di tahun 2017 ini seluruh dunia bisa berkomunikasi lewat twitter, instagram, linkedln, Facebook dan lain sebagainya. Perayaan International Women's Day dari berbagai belahan dunia bisa dilihat melalui tagar-tagar yang disebarkan, seperti #beboldforchange #adaywithoutwomen dan diamplifikasi ke seluruh muka bumi.

Perempuan Jakarta juga sudah melakukan Women's March mulai hari Sabtu 4 Maret 2017 lalu. Berbagai kalangan ikut menyuarakan pemikiran dan kepeduliannya. Dari mulai murid SMU perempuan yang percaya bahwa mereka bisa jadi pemimpin, sampai para ibu yang menginginkan RUU penghapusan kekerasan seksual untuk segera disahkan DPR.

Salut, untuk mereka semua yang turun dan menyuarakan kepeduliannya di Jakarta. Tapi, segala bentuk aktivitas yang sifatnya mengingatkan pemerintah dan para pemangku kepentingan, harus ada yang melakukan tindak lanjutnya.

*) Nia Dinata, sutradara film, pekerja kreatif.
*) Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis, bukan merupakan pandangan redaksi detikcom.
(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed