DetikNews
Senin 06 Maret 2017, 16:43 WIB

Kolom

Kunjungan Raja Salman: Antara Jalan Toleransi dan Ekspor Radikalisme

M. Najih Arromadloni - detikNews
Kunjungan Raja Salman: Antara Jalan Toleransi dan Ekspor Radikalisme M. Najih Arromadloni (Foto: Dokumentasi pribadi)
Jakarta - Kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud ke Indonesia (1-9/3) membawa banyak komitmen kerja sama. Di antara 10 MoU yang telah ditandatangani adalah bidang keamanan dan penanggulangan terorisme, yang pada tingkat kementerian melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia dan Kementerian Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi, serta kepolisian kedua negara.

Kedua kementerian sepakat melakukan program pertukaran tenaga dan keahlian serta kegiatan promosi budaya, guna mempromosikan citra Islam yang moderat. Adapun kepolisian kedua negara sepakat bekerjasama menangani kejahatan antar negara, menyusul merebaknya organisasi-organisasi teroris transnasional seperti ISIS. Upaya tersebut diharapkan bisa melawan terorisme dan radikalisme yang terjadi di kedua negara. Kerjasama ini diwarnai apresiasi dari Menteri Kebudayaan dan Informasi Arab Saudi, Adel bin Zaid al-Toraifi, yang kagum dengan kerukunan umat beragama di Indonesia dan menyebut masyarakat Indonesia sebagai "smiling moslems".

Komitmen kerjasama tersebut, yang menjadi bagian kunjungan Raja Salman, bermakna penting di antaranya karena posisi strategis dan pengaruh besar Arab Saudi, baik di Timur Tengah, Dunia Islam, maupun negara Barat. Terutama di lingkungan lembaga seperti, Organisasi Kerja-sama Islam (OKI), Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), dan Liga Arab. Termasuk terhadap institusi-institusi yang berpusat di Arab Saudi, selain Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi, seperti Islamic Development Bank (IDB), Moslem World League (Rabithah Alam Islami), dan Asosiasi Media Islam.

Komitmen tersebut juga dilihat penting karena selama ini Arab Saudi dilabeli oleh sebagian pihak sebagai supporter terorisme dunia, baik karena paham Wahabinya maupun kucuran dananya kepada kelompok-kelompok bersenjata yang berperang di Timur Tengah, terutama di Yaman dan Suriah.

Dari sini pula, pemerintah Indonesia harus pro-aktif agar MoU ini tidak hanya dimanfaatkan oleh Arab Saudi untuk tujuan mengesankan diri sebagai negara anti-teror dan pendukung HAM dan kebebasan, namun pada realitanya terus menyebarkan paham radikalisme Wahabi dan aksi teror.

Di satu sisi, kita memang perlu memandang bahwa kunjungan pemerintah negara di mana Islam lahir ini untuk mengubah citra Islam di Arab Saudi. Di sisi lain kita tidak boleh menutup mata bahwa sampai saat ini, ideologi keagamaan negara Arab Saudi adalah Wahabisme, sebuah ideologi gerakan yang muncul dan menjadi salah satu pondasi berdirinya dinasti Sa'ud, yang dalam sejarah penyebarannya di Jazirah Arab, pada 1920-an.

Arab Saudi saat ini tidak hanya mendanai aksi-aksi teror di Yaman dan Suriah, tetapi juga masih membiayai secara besar-besaran, penyebaran ideologi mereka di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Khusus di Indonesia, jejak pengaruh ekspor ideologi Wahabi mudah terlacak. Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) yang didirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) pada tahun 1980-an, Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA), jaringan televisi dan radio Rodja, puluhan islamic center, pesantren-pesantren dan madrasah, bantuan pembangunan gedung-gedung universitas, puluhan masjid, dan corner-corner di sejumlah perpustakaan. Belum lagi para alumni yang telah mendapatkan beasiswa dari pemerintah Arab Saudi yang lumrahnya memiliki militansi kuat terhadap ideologi tersebut.

Tidak heran jika bantuan dari pemerintah Arab Saudi untuk institusi keagamaan justru sering dipandang sebagai sumber permasalahan. Dan inti persoalannya terletak pada paham Wahabi yang mereka bawa sulit menoleransi sikap keagamaan pihak lain, termasuk pada tradisi keagamaan setempat dan kebudayaan yang beragam, seperti Maulid Nabi, Ziarah Kubur, dan praktek tasawuf yang semuanya didiskreditkan sebagai ajaran sesat.

Adalah hal yang wajar ketika sebagian pihak mengkhawatirkan komitmen penanggulangan teror yang telah ditandatangani justru berdampak pada meningkatnya pamor Wahabisme yang akan merembet pada radikalisme, karena di saat kesepakatan penanggulangan terorisme disepakati, di saat itu pula (3/3) terjadi pertemuan antara delegasi Kementerian Urusan Islam yang dipimpin oleh Saleh ibn Abd al-Aziz Al Syeikh (cucu pendiri Wahabi) dengan sejumlah pimpinan institusi Wahabi di Indonesia, menyusul rencana didirikannya lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi oleh Arab Saudi di Surabaya, Medan dan Makasar.

Harapan atas Arab Saudi Baru
Merujuk pemaparan di atas, dalam aspek keamanan dan ideologi, kita bisa melihat bahwa ada visi yang tidak tunggal dalam kunjungan Raja Salman ke Indonesia. Satu sisi kita melihat komitmen moderasi raja yang dikenal mempunyai kepribadian moderat dan berwawasan luas. Namun di sisi lain kita tidak menutup mata adanya konservatisme dan benih radikalisme dalam ideologi kenegaraan Arab Saudi selama ini.

Namun, atas kunjungan dan komitmen Raja Salman, kita patut menyambut baik disertai sikap proporsional. Kunjungan ini, dapat dimaknai sebagai upaya moderasi yang sedang dilakukan oleh Raja Salman, dan merupakan bagian yang bersejarah. Karena dilakukan langsung oleh Raja Salman. Padahal dalam dua tahun sejak memegang tampuk kerajaan, Raja Salman lebih banyak mendelegasikan tugas-tugas kerajaan kepada putra mahkota dan wakil putra mahkota, termasuk untuk bertemu para pemimpin dunia. Kedatangan Raja Arab Saudi setelah 47 tahun ini juga disertai rombongan yang amat besar dengan menghabiskan dana lebih dari 150 miliar, harus dimaknai lebih dalam,tentang optimalisasi rencana kerja sama kedua negara yang harus segera direalisasikan.

Dari kunjungan ini pula sudah sewajarnya jika kita berharap lahirnya babak baru negara Arab Saudi yang moderat, karena selama sembilan hari kunjungannya ke Indonesia, Raja Salman telah memperlihatkan adanya corak keber-Islam-an yang berbeda, dan merupakan fakta lain tentang Arab Saudi yang selama ini dikenal ortodoks dan konvensional. Beliau telah berpidato di depan anggota DPR dan menegaskan tantangan yang sama dihadapi oleh umat Islam, yaitu ideologi radikalisme dan terorisme.

Raja Salman juga telah bertemu dengan para tokoh lintas agama dan memberikan bantuan beasiswa kepada masyarakat Indonesia tanpa syarat agama. Dengan demikian, ia menunjukkan betapa Islam adalah agama yang teduh, penuh, persahabatan, dan jauh dari keinginan untuk konflik. Pemahaman Raja Salman pada kemajemukan ditampakkan pula pada tulisan "God Bless You" disertai aksara Arab di atasnya pada badan pesawat kerajaan, mengandung makna bahwa Raja punya toleransi,termasuk untuk
menggunakan bahasa Inggris. Apalagi GBU selama ini dikenal lebih banyak digunakan oleh kaum Nasrani sebagai ucapan salam penutup.

Tentu langkah moderasi yang sedang digagas oleh Raja Salman tidak boleh lepas dari peran Indonesia sebagai negara demokratis dengan penduduk muslim terbesar di dunia, baik pemerintah maupun masyarakat. Setelah pemerintah mempertemukan Raja Salman dengan tokoh lintas agama, guna memberikan pengalaman tentang kemajemukan dan toleransi kepada muslim Arab Saudi, melalui Raja. Langkah berikutnya adalah tugas para pemuka agama untuk menindaklanjuti bagian moderasi ini dengan jalan second track diplomacy, ini bisa dilakukan oleh ormas seperti NU dan Muhammadiyah, sebagai civil society yang terbukti mampu mengakomodir nilai-nilai lokal ke dalam Fiqh Islam. Jika itu dilakukan maka diharapkan akan terwujud cita-cita agama yang damai dan ramah dalam tataran global, dan itu lahir dari Nusantara.


M. Najih Arromadloni adalah Pemerhati Timur Tengah dan Penulis Buku "Bid'ah Ideologi ISIS"
Artikel ini adalah pandangan pribadi penulis, bukan merupakan pandangan redaksi detikcom.

(nwk/erd)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed