DetikNews
Senin 06 Maret 2017, 14:07 WIB

Kolom Kang Hasan

Parenting Sejak Dini

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Parenting Sejak Dini Foto: (Dokumentasi pribadi)
Jakarta - Apa yang diimpikan oleh anak-anak muda soal masa depan mereka? Pekerjaan, karir. Bagaimana dengan keluarga? Mungkin mereka punya bayangan soal siapa yang akan jadi istri. Berharap pacar saat ini, atau seseorang yang mereka sukai akan menjadi pendamping hidup kelak. Anak? Sepertinya sedikit yang berpikir tentang itu. Kalaupun berpikir, sebatas soal aku ingin anak berapa, laki-laki atau perempuan.

Berapa banyak dari anak muda yang berpikir atau punya bayangan tentang sosok mereka sebagai ayah atau ibu? Sosok ayah atau ibu yang bagaimana yang akan ia perankan. Bagaimana berbagi peran dalam pendidikan anak. Saya kira sangat sedikit yang berpikir soal itu.

Menikah dalam masyarakat kita lebih sering dipandang sebagai cara untuk menjaga kehormatan. Dalam bahasa yang vulgar, menikah adalah jalan untuk bisa melakukan hubungan seksual secara sah. Punya anak adalah konsekuensi biologis dari sebuah hubungan seks.

Tentu saja sangat banyak orang yang ingin punya anak. Tapi tidak sedikit yang ingin punya anak dengan membayangkan sisi-sisi indahnya belaka. Anak-anak yang lucu dan menggemaskan, menjadi "sarana" untuk mendapatkan kebahagiaan. Bahkan tidak sedikit orang yang merasa bahwa punya anak itu adalah keniscayaan belaka, atau semacam bentuk tekanan sosial. Bagaimana anak-anak itu akan tumbuh besar, pendidikan apa yang akan dilakukan oleh orang kita sebagai orang tua, tak terlalu dipikirkan benar.

Di berbagai daerah, ada tradisi untuk mempertemukan muda-mudi, mendorong mereka untuk menikah. Tapi kita tidak punya tradisi yang cukup baik, yang menggiring muda-mudi itu untuk menjadi orang tua yang baik. Forum-forum pengajian agama di mesjid-mesjid, misalnya, lebih banyak memberikan peringatan dan bimbingan soal pergaulan sebelum menikah, bukan bagaimana kehidupan setelahnya.

Banyak pasangan muda yang kaget dengan kehadiran anak. Punya anak adalah urusan besar. Urusan besar pertama yang dirasakan oleh pasangan suami istri, khususnya oleh suami, adalah urusan menafkahi anak. Ya, mengurus anak memerlukan biaya besar. Maka kejadian seorang ayah yang meninggalkan anak karena merasa tak sanggup menafkahinya, sungguh banyak. Ia lari, meninggalkan istri, yang apa boleh buat tak bisa lari dari anaknya. Tidak sedikit anak-anak yang terlantar karena ini. Juga tak sedikit perempuan yang akhirnya terjerumus ke dunia pelacuran, karena beban tanggung jawab menafkahi anak yang terpaksa ia terima, saat suaminya kabur meninggalkan tanggung jawab.

Bila soal nafkah ekonomi bisa diatasi pun, beban pengasuhan anak tetap tidak ringan. Saat anak baru lahir, orang tua akan menderita "sakit" kurang tidur. Ini bukan hal yang ringan. Seiring pertumbuhan anak, beban dan tantangannya semakin bertambah dan bervariasi. Lalu, apa yang dilakukan? Laki-laki, lagi-lagi, sering punya alasan untuk menghindar. Dengan alasan kesibukan bekerja mencari nafkah, maka urusan pengasuhan dan pendidikan anak sering dilemparkan kepada perempuan.

Lalu, banyak orang tua yang kemudian melemparkan urusan itu ke sekolah. Banyak orang tua yang mengirim anaknya sekolah seperti mengirim baju kotor ke binatu. Mereka berharap anak-anaknya terdidik baik, tanpa mereka perlu melakukan apa-apa. Persis seperti orang yang berharap baju yang dikirim ke binatu, dikirim pulang dalam keadaan bersih dan terlipat rapi.

Menurut saya, anak-anak muda sudah harus diberi gambaran soal apa dan bagaimana keluarga itu sejak dini. Mereka harus punya konsep soal keluarga, soal peran dia dalam rumah tangganya kelak, dan soal bagaimana peran itu dibagi dengan pasangannya. Mereka harus dipaparkan dengan kenyataan bahwa mendidik dan mengasuh anak itu bukan soal yang mudah, tapi juga tidak perlu ditakuti. Mereka hanya perlu tahu caranya.

Sayang sekali, kita tidak punya sarana untuk melakukan itu. Dulu ada pelajaran PKK, pendidikan kesejahteraan keluarga. Sayangnya, pelajaran ini adalah pelajaran pinggiran. Kesannya sekedar sebagai pelajaran keterampilan masak dan menjahit. Ia jadi momok bagi kebanyakan siswa laki-laki. Padahal ini adalah sarana yang baik untuk memperkenalkan seluk-beluk keluarga. Sedihnya, pelajaran ini justru sekarang menghilang dari sekolah kita.

Suatu hal yang menarik, 3 tahun yang lalu saya diundang untuk bicara soal parenting dalam kegiatan mahasiswa di UGM. Tadinya saya pikir acara ini akan dihadiri oleh para orang tua. Ternyata yang hadir hampir semuanya mahasiswa lajang. Nah, acara semacam ini sebaiknya diperbanyak. Parenting bukanlah topik yang khusus bagi orang yang sudah punya anak saja. Mahasiswa perlu diberi bimbingan soal ini, sebagaimana mereka diberi materi bimbingan karir.

*) Hasanudin Abdurakhman adalah cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia.
*) Artikel ini adalah pandangan pribadi penulis, bukan merupakan pandangan redaksi detikcom.


(tor/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed