DetikNews
Selasa 14 Feb 2017, 11:05 WIB

Kolom

Wajah Valentine yang Butuh Update-an

Kalis Mardiasih - detikNews
Wajah Valentine yang Butuh Update-an Foto: (dokumentasi pribadi)
Jakarta - Dulu, ya dulu sekali ketika masa SMP, tiba-tiba satu sekolah ramai sekitar sepekan sebelum 14 Februari.

"Kamu nggak beli coklat?"

"Buat apa?"

"Ih kan mau hari valentine. 14 Februari."

"Tapi kan aku nggak punya pacar…" (ya maklum, pemirsa. Mereka yang laku pada masa belasan tahun dahulu adalah mereka yang tampangnya oke, ikut ekstrakurikuler basket atau suka main musik. )

"Lho. Nggak harus punya pacar kok…Beli aja coklat koin seribuan. Bagi-bagi buat anak sekelas."

Taraaa! Jadilah perayaan 14 Februari itu sebagai momen tuker-tukeran coklat. Sebuah selebrasi yang mirip acara ulang tahun sekolah, nggak lebih. Saya dengan modal coklat koin merasa beruntung pas dapet coklat batangan merek mahal dari mereka yang niat bungkus-bungkusin pakai pita pink. Televisi juga penuh dengan siaran film-film bagus bertema kasih sayang. Kadang-kadang, di sekolah, ada juga pertunjukkan si vokalis band nembak si cantik yang memang model dan jago nari. Begitulah hidup ini, Dik, sudah biasa.

Ketika SMA dan ikut kegiatan Kerohanian Islam (Rohis), datanglah pengajian bertema valentine haram itu. Selepas pengajian, saya pun menjadi agen penuh pahala yang mengabarkan kepada seluruh umat manusia perihal materi yang saya dapat dari kakak murabbi. Pokoknya, remaja Islam tidak boleh merayakan hari valentine. Sungguhpun begitu, kalau tiba-tiba ada teman yang ngasih coklat batangan isi almond, ya pasti…SAYA TERIMA DAN SAYA MAKAN DONG!

Begitulah, masa SMA saya demikian salihah dan penuh prestasi memang. Zaman dulu, akses pada informasi masih terbatas. Kami tidak tahu bahwa di kota-kota besar, mungkin banyak anak seperti Awkarin yang nongkrongnya di kelab-kelab internasional meskipun tidak hari valentine, juga merayakan setiap momen mereka di atas mobil mewah pemberian orangtua meskipun anaknya belum cukup umur. Sayang, tak ada gerakan "Say No to Orangtua Kaya yang Ngasih Kendaraan Bermotor ke Anak di Bawah Umur."

Sejujurnya, saya merasa kesulitan dalam mendakwahkan ajaran keharaman valentine berbasis sejarah yang datanya berbeda-beda itu. Ada yang bilang asal usul valentine adalah budaya kaum pagan, ada yang bilang bahwa itu budaya kaum Yunani tentang ritual persembahan pada Dewa Kesuburan, dan yang paling populer tentu saja cerita versi Pendeta Santo Valentino. Eh, itu juga masih beda-beda "Ada Apa dengan Santo Valentino"-nya.

Keburaman informasi bersama hafalan sejarah yang setengah-setengah itu kemudian berlanjut pada masa jadi aktivis mesjid kampus. Dahulu, era meme belum menyerang. Aktivis mesjid kampus yang semua jomblo cukup membagikan stiker bertuliskan "Say No to Valentine" di tepi-tepi jalan kampus. Ada yang pakai narasi haram sebab budaya Yahudi, budaya Nasrani, budaya barat yang tidak ketimuran, sampai analisis dampak sosial sebab konon katanya penjualan coklat di pasaran sekarang mulai berbonus kondom.

Pacaran saja sudah haram, apalagi malah ada kampanye seks bebas segala. Ini sudah pasti menambah keyakinan kita bahwa budaya barat itu memang berdampak yang iyes-iyes bagi generasi muda kita. Astaghfirullahaladzim…

Solusinya, aktivis dakwah mencoba merusak tradisi valentine yang hura-hura dengan kampanye hijab (lho, hijab ini kan isu perempuan. Laki-lakinya kok nggak ada solidaritas menentang valentine?). Maksudnya sih baik dong, agar anak muda mengganti ingatan hura-hura kepada kebaikan. Tapi sayang, zaman dulu belum jaman endorse artis, bayangkan jika hari solidaritas hijab itu diendorse oleh teteh Laudya Chintya Bella atau teteh Dewi Sandra, pasti lebih banyak muslimah yang tercerahkan.

Gagasan utama dari haram-mengharamkan itu, yakni perihal Umat Islam yang dilarang menyerupai atau merayakan tradisi kaum kafir. Sehingga, solusi yang muncul kira-kira adalah meramaikan dunia dengan budaya Islam. Masalah berikutnya, kita pakai budaya Islam dari belahan dunia bagian mana?

Selepas Rasulullah wafat pada 632 Masehi, Islam menyebar melalui berbagai penjuru lewat berbagai cara. Di tanah Arab, budaya aslinya kan justru budaya jahiliyah, dan peradaban Islam setelah Rasul di tanah Arab justru jatuh sebab perebutan kekuasaan dan perang saudara. Di tanah Eropa yang menjadi pusat ilmu pengetahuan, budaya dan kiblat mode dunia itulah Islam pernah sangat jaya. Pengarang Kitab babon "Ihya' Ulumuddin" dan "Tahafut Al Falasifah", Al Ghazali, yang kemudian dilawan oleh Ibnu Rusyd dalam "Tahafut at-Tahafut Al Falasifah" itu, adalah seorang Aristotelian alias pakar dalam pemikiran Aristoteles.

Di Indonesia, berdasar buku "Atlas Sejarah Walisongo" karangan Agus Sunyoto yang ditulis berdasar pemaparan yang begitu ilmiah, Islam masuk bukan pada Abad 13 sebagaimana versi Gujarat, melainkan telah masuk lewat para keturunan Rasul yang alim bahkan sejak Abad ke-7. Pada masa itu, tradisi Hindu-Buddha masih begitu kuat. Lewat segala strategi akulturasi budaya anti-kekerasan dari ulama-ulama Nusantara itu Islam Indonesia membentuk budaya yang khas.

Kalau mau gampang, kita bisa pakai nilai-nilai universal Islam. Misalnya, tentang Islam Cinta Kebersihan atau Islam Anti Korupsi. Nanti kita bikin Perayaan Hari Bersih dan Hari Anti Korupsi. Lha, sayang sekali lagi, di Indonesia yang mayoritas Muslim ini, masih ada yang suka membuang sampah sembarangan hingga masih ada yang korupsi.

Tahun ini, saya tentu bersedih sebab debat valentine ini makin tidak semarak. Pertama, ia kalah dengan debat pasangan calon Gubernur Jakarta yang sudah berlangsung tiga kali yang memunculkan analisis-analis debat swasta yang berkantor di akun sosial media masing-masing. Kedua, meme-meme "Say No to Valentine because I am a Muslim" apalah artinya dibanding pertunjukan seronok aplikasi BIGO hingga pasokan film-film semi porno yang datang tak hanya dari Negara Barat, lha wong yang produk Asia serta dalam negeri malah cenderung banyak peminat.

Ketiga, sebagai perempuan beranjak dewasa yang gajian di awal bulan lalu habis kembali tiga hari kemudian, saya tentu tidak bisa berkata haram untuk voucher atau diskon yang diberikan cuma-cuma oleh pusat perbelanjaan dalam rangka hari valentine. Keempat, ya gimana, media-media online ini justru menambah kata kunci "Hari Valentine" di semua judul pasokan artikel mulai dari berita hingga feature untuk meningkatkan peringkat kunjungan.

Akhirul kalam, wajah valentine sudah butuh di-update. Sebab jangankan hanya coklat dan bunga, wanita masa kini lebih butuh colokan listrik, kuota, dan selfie expert camera.

*) Kalis Mardiasih, menyelesaikan S1 di Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sebelas Maret (UNS), pernah jadi santri di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora selama 9 tahun, kini nyantri tiap Jumat kliwonan, kolomnis di beberapa media yang menyoroti masalah agama secara kritis namun disampaikan dengan ringan khas anak muda sekarang.
*) Opini ini adalah pandangan dan tanggung jawab penulis, bukan merupakan pandangan redaksi detikcom.
(/iy)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed