DetikNews
Senin 13 Februari 2017, 10:55 WIB

Kolom Kang Hasan

Lingkaran Setan Pendidikan Karakter

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Lingkaran Setan Pendidikan Karakter Foto: Hasanudin Abdurakhman (Ilustrator Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Minggu lalu saya didatangi satu tim kecil dari Jepang yang dipimpin oleh seorang profesor emeritus, mewakili Kementerian Pendidikan Jepang. Mereka datang untuk melakukan survei pendahuluan, dalam rangka program bantuan pendidikan, khususnya terkait sekolah vokasi, dari pemerintah Jepang, untuk Indonesia. Saya dimintai pendapat dari sudut pandang pelaku industri, yang banyak menggunakan tenaga lulusan sekolah vokasi, baik SMK maupun poiteknik.

Di sejumlah pabrik dalam grup perusahaan kami, untuk pekerja dengan pendidikan setingkat sekolah menengah atas, kami mempekerjakan 60-70% lulusan SMK. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa mereka lebih siap kerja. Keterampilan teknik yang mereka dapat di sekolah cukup untuk menjadi modal awal mulai bekerja, atau menerima pelatihan dari perusahaan. Tentu saja pernyataan itu disertai catatan bahwa yang kami terima itu sudah melalui beberapa lapis proses seleksi. Artinya, itu tidak menggambarkan situasi lulusan SMK secara keseluruhan.

Tim kecil tadi bertanya, kalau kita hendak meningkatkan mutu SMK dan politeknik, bagian mana yang sebaiknya menjadi perhatian? Kemampuan teknik tentu saja masih perlu ditingkatkan. Artinya, level keterampilannya masih harus ditingkatkan. Juga pemerataan sebarannya. Diharapkan sebagian besar lulusan punya kualitas sebagaimana disebutkan di atas. Di luar itu, kekurangan yang masih terasa sangat menonjol adalah soal karakter, meliputi etos sosial dan dan etos kerja.

Soal karakter sebenarnya bukan hanya masalah sekolah vokasi. Ini masalah mendasar pendidikan kita. Sekolah berfokus pada pengajaran, pada penekanan aspek kognitif, sedangkan aspek karakternya terbengkalai. Di mana salahnya? Ini karena masyarakat kita memang masih minim dalam hal karakter. Itu bisa kita lihat dari semrawutnya lalu lintas, kotornya tempat-tempat umum, buruknya kualitas pelayanan, baik di kantor pemerintah maupun swasta, serta banyak lagi indikasi lain.

Yang sedang terjadi adalah guru-guru dari masyarakat yang minim karakter, melakukan proses pendidikan di sekolah. Muatan pendidikan karakter yang seharusnya mereka sampaikan di sekolah, tidak ada dalam diri mereka. Mereka tidak punya materinya. Ibarat orang yang tak paham perkalian, mustahil bisa mengajarka materi itu. Guru-guru tanpa disiplin, mustahil bisa mengajarkan disiplin. Guru yang masih suka melanggar aturan lalu lintas, mustahil mengajarkan tertib lalu lintas.

Guru-guru itu adalah produk pendidikan minus karakter, dari sekolah yang tidak memberi pendidikan karakter, hidup di tengah masyarakat yang minim karakter. Kelak murid-muridnya juga akan tumbuh menjadi anggota masyarakat minim karakter. Begitu seterusnya, menjadi lingkaran setan.

Kita membutuhkan sebuah gunting besar dan kokoh untuk memutus lingkaran setan ini. Ia bisa berupa langkah besar dari pemerintah, untuk mendidik masyarakat. Atau, sebuah perombakan mendasar dalam bidang pendidikan. Tapi itu tidak terjadi. Usaha untuk merombak sistem pendidikan melalui perubahan kurikulum sering kali hanya terhenti pada perubahan buku teks, beserta pelatihan untuk guru-guru. Substansi pendidikan sendiri tidak pernah berubah. Revolusi mental yang pernah dicanangkan Jokowi, berhenti. Sekedar menjadi jargon kampanye.

Kabar baiknya adalah, ada sekelompok orang di tengah masyarakat kita yang peduli soal ini. Ada sekelompok orang yang dengan suka rela, bahkan menempuh risiko, untuk mengingatkan masyarakat soal fungsi trotoar. Ada yang menjadi relawan untuk mengingatkan orang soal kebersihan. Masih ada banyak lagi contohnya.

Ini bukan gunting besar yang bisa memutus lingkaran setan tadi dengan cepat. Tapi setidaknya ini adalah bara api kecil yang memberi setitik harapan, mengingatkan kita untuk tidak putus asa. Orang-orang yang peduli tidak boleh berhenti menyampaikan peringatan. Yang sudah peduli tidak boleh kembali larut dalam arus besar minim karakter tadi.

Profesor tadi menggagas program untuk mengundang sejumlah guru SMK untuk melihat langsung bagaimana pendidikan di sekolah-sekolah di Jepang. Saya ingatkan bahwa acara seperti itu sudah cukup sering dilakukan, dan sering pula berujung hanya menjadi kegiatan kunjungan wisata, dengan sejumlah foto kenangan.

Kalau masih mau dilaksanakan juga, saya anjurkan agar peserta tidak diinapkan di hotel atau asrama, melainkan tinggal di rumah warga. Ia dilibatkan dalam berbagai aktivitas harian, seperti membuang sampah, naik kendaraan umum, belanja di pasar, dan sebagainya, agar bisa menghayati pengalaman menjadi bagian masyarakat berkarakter. Tentu saja ini harus diiringi dengan paket-paket program pembinaan karakter di sekokah-sekolah di Indonesia.

*) Hasanudin Abdurakhman adalah cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia.
*) Opini ini adalah pandangan dan tanggung jawab penulis, bukan merupakan pandangan redaksi detikcom.
(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed