Bencana dan Momentum Transformasi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Gus Dian

Bencana dan Momentum Transformasi

Jumat, 16 Des 2016 11:55 WIB
M Dian Nafi'
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Bencana dan Momentum Transformasi
Foto: (dokumentasi pribadi)
Solo - Karena musibah banjir Kakbah pernah rusak. Pada saat itu warga Quraisy sepakat untuk membangunnya kembali. Setelah bangunan selesai, mereka menyisakan peletakan kembali hajar aswad atau batu hitam ke tempatnya semula, yaitu di sisi kiri pintu Kakbah. Itu merupakan bagian paling mulia di dalam pemulihan bangunan Kakbah. Tiap-tiap kabilah atau puak ingin agar kemuliaan itu menjadi jatah eksklusif mereka.

Egoisme kabilah itu memanaskan situasi. Tersulutlah persengketaan. Mereka terdorong mempertaruhkan jiwa raga untuk kemuliaan meletakkan hajar aswad itu ke tempatnya semula. Ibnu Katsir mencatat selama empat atau lima hari ketegangan itu berlangsung menggelisahkan.

Setelah melewati perundingan sengit mereka berhasil memutuskan bahwa yang akan meletakkan batu hitam itu adalah seseorang yang pertama kali masuk ke pintu Baitullah esok harinya. Ternyata Nabi Muhammad SAW-lah yang pertama kali masuk itu. Mereka berseru, "Inilah Al-Amin, kami rela". Sebutan Al-Amin itu tak lain bermakna "Yang dapat dipercaya."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nabi Muhammad SAW diberitahu tentang keputusan itu. Beliau segera bertindak melaksanakannya dengan melembarkan sehelai kain dan meletakkan batu hitam itu di tengahnya. Wakil-wakil setiap kabilah yang bersaing itu dipersilahkan memegang tepian kain. Diangkatlah batu itu bersama-sama mendekat ke tempatnya semula. Dan Nabi Muhammad SAW meletakkannya ke tempatnya.

Semua kabilah puas dengan cara itu. Tokoh mulia berusia 35 tahun yang kelak diangkat menjadi nabi dan rasul itu sangat baik melaksanakan kepercayaan masyarakat. Beliau berhasil berperan penting pada saat rekonstruksi Kakbah. Ada spirit transformasi yang tegas diwujudkan dengan santun dan efektif.

Semula para kabilah berseteru, menjadi bersatu dan bekerja sama. Semula kehormatan dibayangkan dapat dimiliki oleh satu orang atau satu kabilah saja, kemudian berubah menjadi milik semua kabilah sepanjang mereka bersedia bekerjasama. Semula kemuliaan diimajinasikan sebagai perjuangan kalah dan menang, menjadi pergumulan sama-sama menang. Dan di situ pesan tegas dipahami bahwa di dalam meraih kemuliaan bersama itu ada yang tidak boleh dilewatkan, yaitu menjaga martabat manusia.

Bencana menimbulkan kerugian. Waktu itu bangunan Kakbah sampai roboh dan menyulut potensi pertikaian. Kenyataannya saat rekonstruksi ditangkap sebagai momentum transformasi, maka kehidupan menjadi lebih baik.

Kita kini kembali memperhatikan saudara-saudara sebangsa di Pidie Jaya, Aceh. Warga yang selamat dari bencana gempa bumi di Pidie Jaya saat ini sedang sangat membutuhkan relawan berkeahlian. Di tengah-tengah situasi kehilangan besar-besaran, warga berhak untuk didukung untuk menjalani hari-hari ini dengan kesungguhan penuh para relawan dan pendamping lainnya. Di samping kebutuhan akan penyembuhan trauma, banyak pula warga yang cedera, sehingga tindakan medis orthopedis mutlak diperlukan.

Kerja keras hari-hari ini sungguh menentukan. Kesalahan dalam mengevakuasi korban bencana gempa bisa sangat serius, misalnya karena cedera tulang yang terjadi. Dan hari-hari ke depan membutuhkan perhatian yang lebih seksama.

Setiap bencana dengan banyak korban haruslah menjadi pelajaran berharga, menjadi perbaikan yang sepadan dengan penderitaan yang dirasakan. Pelajaran itu tidak boleh lewat begitu saja di tengah hiruk-pikuk politik. Karena, setiap pelajaran berkaitan erat dengan martabat warga yang terdampak oleh bencana. Jelas tak pantas, sebagian dari warga bangsa ini ribut, sementara banyak yang sedang bergumul dengan penderitaan.

Di situ pulih saja tidak cukup. Karena dengan pulih, keadaan kembali seperti semula, padahal warga yang sembuh dari cedera membutuhkan aksesibilitas. Bencana gempa bumi telah menimbulkan banyak warga cedera tulang. Segera sejak kejadian mereka membutuhkan tindakan operasi medis. Hidup berubah drastis karenanya.

Setelah sembuh mungkin membutuhkan kursi roda atau tongkat dan kruk untuk berpindah tempat. Adaptasi terhadap kondisi diri sendiri harus dilakukan. Dan sarana yang memenuhi prasyarat aksesibilitas menjadi hak yang harus disediakan bagi mereka. Misalnya, di setiap bangunan publik harus tersedia lantai miring penghubung antarlantai sebagai pengganti tangga dengan anak tangga yang sulit dilalui oleh warga bertongkat, bahkan mustahil bagi yang berkursi roda.

Tengok di banyak kawasan yang mengalami bencana gempa. Setelah masa tanggap darurat berakhir, kegiatan rekonstruksi dimulai untuk mengejar target pulihnya fasilitas bangunan, sementara kondisi fisik warga sudah berubah sejak sembuh dari cedera karena bencana. Untuk itu transformasi sangat dibutuhkan di masa rekonstruksi.

Prinsip transformasi dianut oleh negara kita dalam rekonstruksi pascabencana. Rekonstruksi itu berarti pembangunan kembali semua prasarana dan sarana dengan kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama didorong untuk tumbuh. Kegiatan perekonomian, sosial dan budaya dapat berkembang. Penegakan hukum dan ketertiban dapat diwujudkan. Peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana dapat dibangkitkan.

Itu belum cukup. Setiap pergumulan besar tentu juga menghasilkan pengetahuan yang banyak. Pengetahuan itu jelas merupakan aset yang berharga, masyarakat yang terlanda bencana berhak atas pengetahuan itu. Untuk itu rekonstruksi harus dijauhkan dari kebiasaan "terima jadi". Peran serta warga harus dibangkitkan dan produk pengetahuan harus disebarkan dan dilembagakan seluas mungkin. Begitu catatan Canadian International Development Agency (CIDA) yang ikut bergiat di Aceh pada bencana Tsunami 2004.

Masyarakat tidak perlu lagi diajari tentang cara menyebarkan pengetahuan. Mereka sudah akrab dengan media massa, internet, siaran radio, ceramah-ceramah keagamaan, buku-buku reportase, film dokumenter, dan buku-buku pelajaran madrasah/sekolah yang sudah diperkaya dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Bahwa hal ini perlu ditekankan kembali, karena justru sering terlewatkan dari prioritas lembaga-lembaga formal.

Untuk menjamin pengetahuan itu tetap ada dan berdaya memandu masyarakat, maka perlu dilembagakan sebagai pertimbangan dalam rapat warga, bahan regulasi dan modal sosial masyarakat setempat. Bagai sebuah album kenangan yang menghimpun semua foto suka duka kehidupan keluarga, pelembagaan pengetahuan kolektif masyarakat akan menjaga mereka tetap berdaya dan bermartabat dalam mengarungi kehidupan.

Telah banyak kejadian besar di negeri ini berlalu dan kita melupakannya, sementara bangsa lain justru mencatatnya. Tiba saatnya untuk berguru kepada pengalaman yang menyejarah bangsa sendiri, yang disitu kecakapan mengatasi persoalan dipadu dengan keteguhan menjaga kehormatan bersama. Teladan tokoh-tokoh terpilih dapat memandu kita.

*) M Dian Nafi'
Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al-Muayyad, Windan, Solo. (nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads