Alam Bekerja, Manusia Beradaptasi dengan Bencana
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom Gus Dian

Alam Bekerja, Manusia Beradaptasi dengan Bencana

Minggu, 11 Des 2016 16:35 WIB
M Dian Nafi'
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Alam Bekerja, Manusia Beradaptasi dengan Bencana
Foto: (dokumentasi pribadi)
Solo - Setidaknya sudah 15 kali gempa menerjang Aceh sejak 1936. Yang paling berat adalah yang terjadi pada 20 Desember 2004 yang disertai tsunami dan menelan korban meninggal dunia sebanyak 166.541 jiwa (Kompas 8/12).

Yang terakhir 6,4 Skala Richter di Pidie Jaya dan sekitarnya. Sebagian besar bangunan roboh atau rusak ringan sampai berat. Kita semua tertunduk, ikhlas berdoa. Semoga semua korban diampuni dan kehidupan segera pulih. Amin.

Alam bekerja. Manusia juga bekerja. Allah SWT yang menentukan. Alam bekerja mengikuti pola dan alur yang sebagian dapat dipahami oleh manusia dalam ilmu pengetahuan. Tugas kita adalah memanfaatkan ilmu pengetahuan itu untuk hidup lebih rendah hati, termasuk kepada alam, kepada sesama makhluk ciptaan-Nya.

Di lokasi gempa tektonik diketahui adanya patahan atau sesar bumi yang aktif. Sesar bumi itu selalu bergerak. Akibatnya terjadilah tumbukan antarsesar. Energinya keluar dan menimbulkan gempa. Begitu para ahli dan pihak berwenang menyampaikan hasil riset.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bencana terjadi di luar prediksi manusia. Ilmu pengetahuan bisa saja mendekatkan manusia kepada prediksi itu. Prediksi menyadarkan kita bahwa tempat tinggal kita ini rawan bencana. Di situlah tersedia beberapa pilihan, termasuk hidup beradaptasi dengan bencana.

Pilihan ideal untuk menghindarkan diri dari bencana selalu ada. Untuk itulah diadakan perangkat dan sistem peringatan dini. Tujuannya adalah agar sebanyak mungkin warga selamat.

Beradaptasi dengan bencana merupakan sikap yang rendah hati. Manusia sadar bahwa dirinya terbatas, apalagi saat berhadapan dengan energi gempa yang sedang bekerja.

Rendah hati manusia menjadikannya berusaha untuk mengetahui cara-cara alam bekerja. Cara-cara itu dikumpulkan oleh para ahli dari kasus bencana yang satu, juga dibandingkan dengan kasus bencana lainnya.

Rendah hati bukanlah sikap yang pasif terhadap alam. Rendah hati merupakan sikap aktif untuk mengakui kekuasaan Sang Khalik yang ciptaannya dapat bekerja dengan sedemikian dahsyatnya. Dengan itu manusia tidak menyalahkan alam ciptaan-Nya, justru memeriksa perilaku diri sendiri dan pranata yang seharusnya ditegakkan.

Tanpa menunggu bencana terjadi, seharusnya para ahli mendapatkan kesempatan berkala untuk menyampaikan hasil-hasil temuannya. Tidak untuk menyebarkan kepanikan. Yang dicari adalah upaya untuk menggugah masyarakat untuk bersiapsiaga. Kesiapsiagaan itulah yang menambahkan daya masyarakat untuk lebih tenang dan tidak panik.

Termasuk cara beradaptasi dengan bencana adalah membuat bangunan yang mempertimbangkan gempa. Bahan bangunan yang lebih ringan, fleksibel lebih dengan kaitan yang lebih kuat tepat untuk dipilih. Kemegahan harus digantikan dengan keasrian.

Manusia juga membutuhkan jalan-jalan umum dan lorong-lorong antarbangunan untuk bergerak. Saat bencana terjadi, kelancaran di jalan dan lorong itu menjadi sangat menentukan.

Masih ada lagi faktor yang perlu diperhatikan, yaitu pohon besar yang sudah lapuk perlu segera diatasi. Kabel-kabel listrik juga perlu dirapikan. Pemeriksaan faktor keselamatan pada bangunan oleh pihak yang berwenang juga menjadi hak bagi setiap penduduk.

Tanah tempat tinggal kita memiliki sifat berbeda-beda. Penelitian sifat tanah menjadi cabang kecakapan keilmuan tersendiri. Tiap jenis tanah membutuhkan bentuk pondasi yang bisa berbeda. Yang satu harus lebih kuat dan lebih tebal daripada bangunan di jenis tanah yang lain.

Petunjuk-petunjuk untuk menyiapkan bangunan yang baik tentu sudah tersedia di instansi pemerintah dan perguruan tinggi. Dokumen itu perlu diberitahukan kepada khalayak. Sembari tanggap darurat berjalan, edukasi mengenai cara-cara beradaptasi dengan bencana semakin penting untuk digalakkan.

Sayang sekali jika ilmu pengetahuan yang dihimpun dengan susah payah dan menelan biaya yang sangat besar itu dilupakan begitu saja. Apalagi jika pengetahuan itu berkaitan dengan persoalan hidup dan mati, dikalahkan oleh selera dan gaya hidup yang abai terhadap keselamatan.

Akhirnya kita ikhlas menerima kenyataan. Banyak saudara kita tercinta pergi mendahului kita dalam bencana. Semoga kehidupan indah dapat dinikmati di sana. Amin. Kita yang masih hidup ini bertugas meneruskan semua kebaikan mereka, termasuk hidup rendah hati, beradaptasi dengan bencana.

*) M Dian Nafi'
Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al-Muayyad, Windan, Solo. (nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads