Seiring dengan tersedianya fasilitas telekomunikasi yang semakin mudah dan makin pribadi, semakin banyak informasi yang setiap hari menerpa masyarakat. Masyarakat semakin mudah memperoleh informasi yang dibutuhkan. Seharusnya hidup juga menjadi semakin mudah. Itulah idealnya. Ternyata keadaan tidak selalu demikian. Tentu saja ada faktor-faktor yang menjadi hambatan itu.
Pertama, informasi itu kadangkala terasa baru dan menarik untuk dibagikan. Tanpa berpikir panjang kadang kita membagikannya begitu saja. Saat ada sangkalan, ada dari kita yang menghindar dengan mengaku sekadar menyalin, atau menjadi terlibat untuk mempertahankannya, padahal bukan kita yang membuatnya.
Kedua, sebagian besar informasi itu datang tanpa kita butuhkan. Itu mengambil ruang di dalam memori telepon selular kita. Juga mengambil ruang di benak kita. Kita butuh cara untuk mencegahnya. Jika tidak tercegah dan terlanjur masuk, maka butuh waktu tersendiri untuk menghapusnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada berderet kemungkinan bisa terjadi. Dari yang sederhana sampai kepada yang serius akibatnya. Untuk itu negara-negara berkepentingan mengatur domain informasi, karena domain ini memang krusial dan berkaitan dengan aspek kepentingan, relasi dan nilai-nilai. Yang ketiganya akan berkaitan dengan ranah distribusi kewenangan dan sumber daya. Kalau sudah begitu, segi struktural pun bisa terpengaruh.
Dalam bentuk bagan lingkar, kita dapatkan enam domain yang berkaitan, yaitu kepentingan, informasi, nilai-nilai, relasi, sumber daya dan struktur. Itu menurut bahan kajian Plowshares Institute (tahun 2000). Jika hendak memenuhi kepentingan tertentu, maka yang pertama diolah adalah informasi.
Informasi yang baik akan mengukuhkan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, sehingga menyumbang relasi yang rukun dan adil, sehingga distribusi kewenangan dan sumber daya berlangsung tertib. Capaian ini akan bermanfaat untuk menjaga aspek-aspek struktural tetap dalam status seimbang.
Sebaliknya jika orang memiliki kepentingan yang tidak sehat, maka informasi akan dimanipulasi. Akibatnya terjadi gangguan di dalam ranah nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Gangguan ini bisa merenggangkan relasi menjadi tidak rukun dan ikutannya adalah terjadinya persoalan di dalam distribusi kewenangan dan sumber daya. Di tingkat ini masyarakat merasakan kehidupan sudah berat, mereka resah, dan ini bisa mengganggu keseimbangan struktural di masyarakat.
Masyarakat kita sudah banyak belajar dari pengalaman. Aneka konflik horisontal dan vertikal silih berganti. Hasil akhirnya selalu merugikan bangsa kita sendiri. Karena salah informasi, terjadi perselisihan, bahkan kerusuhan. Butuh waktu yang lama untuk memulihkan kerukunan dan ketenteraman.
Untuk itu selalu baik untuk mengambil inspirasi dari dasar yang lestari. Dalam QS Az-Zumar [39]: 17-18 Allah SWT berfirman " β¦ sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal."
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir beliau, Mafatih al-Ghaib, menyebutkan bahwa manusia memang harus melakukan penyelidikan (nadhar) dan berteguh pada acuan tertentu (istidlal) jika mendapatkan informasi. Informasi yang banyak merupakan kemudahan.
Pada saat yang sama juga menjadi beban karena harus dipilah yang baik dan berguna dari yang buruk dan sia-sia. Normalnya, yang baik dan berguna itulah yang dipilih dan diikuti agar dapat memperoleh petunjuk sebagai orang-orang yang dapat menyumbangkan kebaikan melalui informasi yang baik. Uraian itu memberitahu kita adanya tiga tingkat kualitas manusia terkait informasi.
Pertama, adalah konsumen informasi. Pada kualitas ini bisa jadi orang menelan begitu saja setiap informasi yang diterima dengan risiko terdikte persepsinya oleh sang penyebar informasi.
Kedua, pencerna informasi, yang mengerahkan nalar dan nurani untuk memilih dan mengikuti informasi hanya yang baik dan berguna. Daya pilih atas informasinya bekerja. Dan itu menolong di dalam menentukan sikap dan memilih tindakan.
Ketiga, produsen informasi. Manusia dari kualitas ini bersedia mengerahkan kecendekiaannya untuk berbagi informasi yang terolah baik agar bermanfaat dan mencerahkan khalayak penerima. Mereka disebut di dalam kitab suci sebagai ulul albab.
Menilik banyaknya peristiwa yang melibatkan domain informasi, kita jadi terpanggil untuk semakin dewasa mengelola informasi. Setiap hari ribuan informasi masuk ke dalam benak kita. Jika kita terbiasa menerima, mencerna dan mereproduksi informasi itu secara bijak dan untuk kebaikan, maka kita sendiri akan terbebas dari kepungan informasi yang membingungkan. Memang, fungsi pokok informasi adalah untuk mengakhiri keraguan.
*) M Dian Nafi'
Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al-Muayyad, Windan, Solo. (nwk/nwk)











































