Banyak polling sebelumnya menjagokan Hillary Clinton, calon presiden wanita pertama sepanjang sejarah negeri itu. Walaupun tidak lepas dari skandal, Clinton tidak sekontroversial Trump. Ia bahkan mengantongi dukungan dari tokoh-tokoh ternama Republikan. Ia juga, sejauh ini, mengumpulkan suara pemilih lebih banyak daripada Trump. Tetapi, sistem electoral college menentukan milyuner-pengemplang-pajak ini sebagai pemenang.
Dalam pidato kemenangannya, Trump berjanji "akan menjadi presiden bagi seluruh rakyat Amerika Serikat". Namun, ini tidak cukup untuk menghentikan protes yang mulai merebak di beberapa kota. Janji itu dianggap sebagai angin lalu oleh mereka yang khawatir akan masa depan Amerika Serikat. Presiden-terpilih Trump bahkan juga dinilai merupakan ancaman bagi keamanan dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden-terpilih Trump menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di dalam negeri, ia harus bisa memastikan ekonomi berjalan dengan lebih baik. Ketersediaan lapangan pekerjaan yang lebih luas harus menjadi poin utama kebijakannya. Ia juga harus mengatasi persoalan "divided America" agar situasi tidak menjadi lebih buruk. Secara internal Trump pun harus mampu mengatasi masalah yang bisa muncul dari tokoh-tokoh Republikan yang tidak menyukainya.
Dalam politik luar negeri, Trump sangat percaya pada semangat "America first" dan prinsip "American primacy". Semangat dan prinsip itu akan membuat ia memprioritaskan kepentingan-kepentingan nasional Amerika. Itulah sebabnya ia mengancam akan keluar dari NATO bila usulannya soal proporsi pembiayaan yang "lebih adil" tidak diterima. Itu juga mengapa ia menentang Trans Pacific Partnership (TPP), yang ia nilai sebagai tidak adil dan akan merugikan perekonomian Amerika Serikat.
Trump tampaknya akan membuat sesuatu yang tidak pernah terpikirkan di era Perang Dingin: "aliansi" dengan Rusia. Kedekatan hubungan Trump dengan Presiden Vladimir Putin sudah diketahui luas. Yang belum pasti adalah respons Trump terhadap pemimpin China Xi Jinping. Trump pernah menuduh China sebagai mengambil sebagian besar lapangan pekerjaan warga Amerika. Xi sendiri menghendaki "a new type of great power relations" dengan Amerika Serikat β sebuah indikasi bahwa terdapat hal-hal yang mengganjal dalam hubungan kedua negara.
Citra Trump sebagai "pemimpin yang kuat" bisa dinilai dari pendekatan yang akan ia ambil di Suriah. Menarik juga untuk melihat apakah Trump akan bersungguh-sungguh melawan apa yang kita kenal sebagai "Negara Islam" dan terorisme secara lebih luas. Kepemimpinan Trump akan diuji saat Amerika Serikat harus bersikap dalam krisis politik dan konflik di Timur Tengah. Tantangan-tantangan lain di Semenanjung Korea, Laut China Selatan, Eropa barat, dan Amerika Latin juga akan menjadi ujian yang sulit bagi Trump.
Di Asia Tenggara, Amerika Serikat akan mendapati dinamika yang tidak mudah. Kawasan ini adalah bagian dari strategi "pivot to Asia" yang pernah dilansir Clinton saat ia menjadi menteri luar negeri. Kehadiran Cina di kawasan tampaknya tetap membuat strategi ini relevan bagi Trump. Amerika Serikat tentu tidak ingin kehilangan potensi keuntungan politik maupun ekonomi dari kawasan ini. Trump akan menangani isu ini dengan hati-hati.
Sebagai negara utama di Asia Tenggara, Indonesia telah lama menjalin hubungan kemitraan strategis dengan Amerika Serikat. Dalam konteks ini, kedua negara telah berada pada tahap saling membutuhkan. Saling mempercayai dan menghormati adalah kunci untuk memelihara kemitraan strategis. Sudah sepantasnya Amerika di bawah Trump tidak menghilangkan kunci-kunci itu agar potensi keuntungan bersama tetap terjaga.
Presiden-terpilih Trump telah berjanji akan "menjadikan Amerika Serikat [menjadi bangsa] yang besar kembali" tetapi sejauh mana itu akan terwujud belum bisa diprediksikan. Masih ada waktu sekitar dua bulan sebelum Trump dilantik pada Januari 2017. Cukup waktu untuk kita semua membaca arah kebijakannya dan melihat siapa saja yang akan membantu administrasinya. Dari sini kemudian kita bisa memproyeksikan masa depan Amerika dan dunia dengan lebih seksama.
Dalam episode The Simpsons di atas dikisahkan bahwa akhirnya Presiden Trump tidak becus mengurus ekonomi sehingga ia digantikan oleh Lisa Simpson. Karakter paling pandai di serial itu menjadi presiden wanita pertama Amerika Serikat. Clinton boleh menangisi kekalahannya, tetapi ia tidak akan pernah menjadi Lisa. Amerika telah memilih, dan kita semua akan hidup dengan konsekuensi-konsekuensinya.
*) Nur Rachmat Yuliantoro
Dosen pada Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, mengajar politik Amerika Serikat. (nwk/nwk)










































