Misteri Menara Putih
Menara putih, menjulang tinggi berada tepat diujung jalan Calle Espaldas de San Nicolas merupakan sebuah masjid. Gerbang pintu masjid tak begitu lebar. Tertera di dinding pembatas gerbang sebuah tulisan "Mezquita Mayor de Granada" atau Masjid Jami' Granada. Begitu masuk gerbang, kesan damai, rindang, dan tenang seolah hendak menyapa kami. Kontras dengan suasana riuh gemuruh ratusan wisatawan yang berada di pelataran gereja. Taman berukuran kecil menghiasi pelataran masjid. Air mancur di tengah taman seolah ingin memecah keheningan pagi menjelang siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang paling mencolok dari masjid ini adalah menara putih bergaya Mudejar dan terlihat menjulang tinggi diantara bangunan lainnya. Dihiasi dengan kaligrafi Arab Kuffic, seakan ingin mempertahankan identitas asli yang memang sudah mengakar di distrik Albayzin. Sang imam harus menaiki sekitar 59 tangga untuk sampai ke menara. Lantunan adzan dari menara ini akan langsung sampai ke Alhambra, istana termegah yang pernah dibangun umat Muslim di benua biru, Eropa, beberapa abad silam.
Memori umat muslim Granada yang telah mengakar selama delapan abad di Semenanjung Iberia seolah terkubur dan hampir musnah. Identitas sebagai muslim sengaja disembunyikan untuk mendapat pengakuan sebagai warga negara Spanyol selama bertahun-tahun, Sampai ketika masjid ini secara resmi didirikan atas sebuah gagasan dari Syeikh Abdulqadir Al-Sufi, pendiri Murabitun World Movement. Ia lahir di Scotlandia tahun 1930, dan resmi menjadi muallaf di tahun 1967.
Lima abad, identitas Muslim dan semua yang berbau Arab, baik bahasa, tradisi, makanan sampai baju, dilenyapkan oleh penguasa saat itu. Namun, dengan berdirinya masjid ini, seakan semua-nya kembali. Masjid inilah yang kemudian menjadi simbol pertama keberadaan kaum muslim di Granada sejak 1492. Setelah hampir 22 tahun, melalui bermacam kontroversi dan penolakan dari pemerintah Granada, masjid putih dengan arsitektur gabungan antara Mezquita di Cordoba dan Masjid Al-Aqsa di Jerussalem kembali berdiri kokoh.
Rasa-rasanya masjid ini bukan sebatas bangunan biasa untuk beribadah, namun lebih dari itu. Bangunan ini seperti mempunyai ruh, sehingga mampu mengembalikan romantisme kegemilangan peradaban muslim Andalusia ketika itu. Meskipun, nyatanya, Granada sekarang bukanlah Granada beberapa abad silam.
![]() |
Memori umat muslim Granada yang telah mengakar selama delapan abad di Semenanjung Iberia seolah terkubur dan hampir musnah. Identitas sebagai muslim sengaja disembunyikan untuk mendapat pengakuan sebagai warga negara Spanyol selama bertahun-tahun.
Saat saya memasuki masjid Mayor ini awalnya terkunci. Beberapa saat, nampak seorang bule, memakai pakaian yang rapi menyapa. Namanya Bashir Cadtineria berasal dari Penduduk setempat. Ternyata dia merupakan direktur masjid Jami' Granada. Ia seorang muallaf muda sekita umur 30-an tahun. Sambil bercakap-cakap sebentar, dia kemudian bercerita tentang masjid di Granada, bahwa masjid itu adalah satu-satunya di Granada. Ada tempat lain cuma seperti mushala. Saya dipersilahkan masuk masjid untuk shalat tahyatal masjid. Kemudian diajak berbincang tentang Masjid dan umat Islam di Spanyol, khususnya di Granada.
Bashir bercerita, bahwa masjid Mayor ini juga dijadikan sebagai pusat kajian Islam yang bertujuan untuk mengenalkan peradaban Islam yang toleran dan moderat. Ruangannya terpisah dengan bangunan masjid, tepatnya berada di lantai bawah. Hall ini terdiri dari perpustakaan, ruang kelas dan ruang konferensi.
Kini, Masjid Jami' Mayor Granada menjadi rumah bagi sekitar lima ratus muslim yang berada tak jauh dari distrik Albayzin. Kehadirannya digambarkan sebagai kembalinya peradaban Muslim di Granada. Bukan untuk mengambil kembali kekuasaan, namun untuk menyuarakan bahwa mereka juga termasuk warga negara Spanyol yang selama ini diasingkan. Bahwa Islam bukan penjajah dan bukan haus darah, tetapi Islam mengajarkan acara hidup yang sesuai fitrah manusia. Mudah-mudah para muajahid ini sukses di medan perjuangannya di negeri Matador.
Austria Butuh Sentuhan Islam Wasathiyah
Sejak tahun 1928, Austri adalah negara Eropa pertama yang mengakui agama Islam. Di negara ini Islam adalah agama ketiga terbesar dengan presentase 4,2 % setelah agama Katolik dan Protestant. Geliat dan semangat menjalankan ajaran agama Islam cukup tinggi. Hal ini terlihat dari adanya kegiatan keagamaan dan berdirinya masjid-masjid untuk tempat ibadah dan kegiatan keagamaan warga muslim dari beragam etnis.
Di Ibu Kota Austria, Wina saja terdapat sekitar 9 masjid. Di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ada masjid besar meskipun namanya tidak menggunakan kata masjid, tapi fungsinya full masjid. Warga Indonesia punya masjid meskipun bentuknya seperti apartemen, tak ada kubah dan menaranya tetapi fungsinya sepenuhnya seperti Masjid. Warga Negara Indonesia di Wina masih sedang berusaha untuk membeli tanah yang akan dibangun masjid Indonesia.
Masjid dan pusat kajian Islam terbesar di Wina adalah Islamic Center yang bangunan sepenuhnya berbentuk masjid, halaman luas dan digunakan untuk shalat Jumat. Banyak masyarakat muslim di Wina, termasuk warga negara Indonesia yang menjalankan shalat Jumat di masjid ini. Tinggi Menara 32 meter. Kubah 16 meter. Arsitek Ing R. Lugn
Masjid Islamic Center Wina dibangun selama kurun waktu tahun 1975 hingga 1979 dengan dana sumbangan dari Raja Saudi Arabia Faisal Bin Abdul Aziz. Sebagaimana ditulis pada prasasti pembangunannya disebutkan: "Vienna Islamic Centre. Pembangunan atas inisiatif beberapa kedutaan besar negara-negara Islam, terutama Yang Mulia Raja Feisal bin Abdul Aziz dari Saudi Arabia. Peletakan Batu Pertama pada 28 Februari 1968. Diresmikan pada 20 November 1979 bertepatan 1 Muharram 1400 H oleh Presiden Austria, DR. R..Kirschschlager.
![]() |
Masjid inilah yang telah beberapa puluh tahun menjadi pusat studi, kajian, serta perkembangan Islam di Austria. Hal yang menarik bahwa di negara sosialis Eropa Barat ini kebebasan beragama cukup terjamin. Persoalan keagamaan mendapat perhatian serius, sebagai contoh bahwa pelajaran keagamaan diajarkan di sekolah pemerintah, termasuk pelajaran agama Islam yang diajarkan oleh guru yang harus mendapat pelatihan dari negara Austria. Murid-murid boleh libur pada hari besar keagamaanya.
Sebagian masyarakat di Austria masih trauma dan phobia dengan Islam sehingga ketika disebut nama Islam sering kali menaruh kecurigaan. Namun tak dipungkiri bahwa undang-undang Austria telah mengakui Islam sebagai agama resmi dan pertumbuhan umat Islam cukup pesat. Maka pemerintah Austria akan memfasilitasi pengajaran dan dakwah Islam tetapi yang mengakomodasi terhadap kepentingan negara dan kedamaian masyarakat.
![]() |
Kini Austria sedang melirik pola Islam ala Indonesia. Negeri kita penduduk muslim terbesar di dunia yang mengakomudasi budaya lokal sehingga Islam akulturasi dengan masyarakat dan damai. Sekilas berbincang dengan perwakilan Indonesia di Austria, bahwa saat ini sedang proses komunikasi untuk mentransfer pengetahuan Islam Wasathiyah ke Austria. Sedang dirundingkan tentang metode kerjasamanya. Caranya, apakah guru agama Islam didatangkan dari Indonesia atau para guru agama Islam di Austria belajar ke Indonesia.
Kondisi ini adalah peluang dakwah dan penyebaran Islam Wasathiyah yang ramah dan damai ke bumi Eropa. Masyarak Eropa telah melihat wajah Islam di Indonesia yang sangat toleran dan penuh penghormatan terhadap budaya lokal, sehingga Islam menjadi perekat bangsa bukan ancaman bagi negara.
*) KH Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat
(dra/dra)














































