DetikNews
2016/09/26 10:40:04 WIB

Catatan Agus Pambagio

Saatnya Berbagi di Industri Telekomunikasi

Agus Pambagio - detikNews
Halaman 1 dari 2
Saatnya Berbagi di Industri Telekomunikasi Foto: Agus Pambagio - dokumen pribadi
Jakarta - Telekomunikasi merupakan salah satu infrastruktur terpenting dalam kehidupan manusia modern saat ini. Tanpa teknologi telekomunikasi, tidak dapat kita bayangkan bagaimana dapat melaksanakan tugas dan kewajiban sehari-hari dengan baik di tengah-tengah kemacetan lalu lintas yang sudah super kusut di beberapa kota besar di Indonesia. Bagaimana kita harus memonitor kegiatan anggota keluarga bersamaan dengan kesibukan pekerjaan dan aktivitas sosial lainnya tanpa teknologi telekomunikasi, baik yang berbasis data maupun voice.

Industri telekomunikasi saat ini sudah menjadi sunset industry bukan lagi industri yang padat untung seperti 10 - 15 tahun lalu. Sehingga kalau manajemen tidak kreatif dalam mengelola belanja modal (Capex), biaya operasi (Opex) dan regulasi tidak mendukung, maka korporasinya bisa bermasalah. Efisiensi, kreatif disertai regulasi yang mendukung untuk berkembang secara fair menjadi kunci utama saat ini bagi industri telekomunikasi untuk bisa berkelanjutan.

Untuk menunjang keberlangsungan industri telekomunikasi di tengah minimnya penguasaan teknologi dan resesi ekonomi dunia yang terus berkepanjangan, Pemerintah harus muncul dengan pengaturan regulasi yang tegas, cerdas dan memberikan ruang industri untuk terus tumbuh bersama konsumen secara efisien bukan monopoli.

Namun dalam proses menuju pengaturan industri telekomunikasi yang efisien, terjangkau dan merata banyak mengalami kendala, terutama dari pihak yang selama ini merasa dianakemaskan karena masih merah putih sehingga menjadikannya industri telekomunikasi dominan. Mengapa jadi masalah? Memangnya tidak ada solusi? Saat semua industri telekomunikasi sudah tidak ada yang 100% dimiliki oleh pemerintah atau swasta nasional, maka tidak ada salahnya rezim regulasinya tidak proteksi dan monopoli.

Kendala Pengaturan dalam Berbagi Infrastruktur di Industri Telekomunikasi

Berbagi atau sharing menjadi tren di banyak bidang dan di banyak negara saat ini. Berbagi dilakukan oleh satu pihak yang kelebihan kapasitas (operator dominan) dengan pihak lain yang memerlukan tambahan kapasitas. Di satu sisi bagi pemain dominan, berbagi akan mengurangi kapasitas yang idle sehingga efisiensi meningkat. Di sisi lain juga akan menghemat biaya investasi bagi pendatang baru ataupun pemain kecil. Contohnya berbagi jaringan (network sharing) di antara operator telekomunikasi.

Berbagi jaringan bisa pasif dan bisa juga aktif. Berbagi yang masuk kategori pasif saat ini sudah berlangsung di Indonesia. Misalnya berbagi menara, frame antena, sumber daya listrik, sistem pendinginan, bangunan dll. Selain itu ada berbagi pasif yang namanya MORAN (Multi Operator Radio Access Network), seperti backhaul. Berbagi pasif ini menurut data di internet dapat menghemat Capex antara 14% - 30% dan Opex antara 8% - 25%. Di tengah kondisi ekonomi yang parah ini, penghematan sebesar ini seharusnya menjadi sesuatu bagi industri telekomunikasi. Berbagi secara pasif regulasinya sudah lengkap. Tinggal penegakan hukumnya perlu dipertegas.

Sedangkan untuk berbagi secara aktif, seperti penggunaan Multi Operator Core Network (MOCN), diperlukan payung hukum. Penggunaan MOCN ditujukan supaya semua operator efisien dan tidak ada lagi yang dominan, seperti yang banyak dilakukan oleh operator telekomunikasi di Eropa, misalnya Inggris (T-Mobile dengan 3 atau Vodafone dengan O2) atau Swedia (Tele2 dengan Telenor atau Tele2 dengan Telkia Sonera atau Telenor dan 3). Artinya di era digital sekarang ini berbagi adalah sebuah keniscayaan, bukan lagi zamannya monopoli atau dominan.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed