Kudeta di Turki ini bagaikan 'mati gaya', mirip sebuah pesawat terbang yang gagal lepas landas. Menurut Prof BJ Habibie, pada saat take off, pesawat terbang membutuhkan daya angkat (uplift) yang maksimal, stabil dan seimbang. Jika kegagalan terjadi, maka pesawat serta merta kehilangan tenaga, ia akan jatuh tanpa bisa dikendalikan sama sekali.
Pemimpin kudeta, Kolonel Moharrem Kose terlihat sangat lemah, tidak ada tanda-tanda pematangan situasi sebelumnya, kesannya terburu-buru. Apakah Kose butul-betul merupakan figur berpengaruh di dalam tubuh militer, atau 'orang suruhan' saja?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Desain kudeta dan perencanaannya pun sangat buruk. Pihak militer tidak sepenuhnya mendukung gerakan ini. Satuan-satuan tentara tidak satu suara. Bahkan seorang jenderal senior mengeluarkan pernyataan kontra, bahwa gerakan ini diluar komando utama dan mereka menolak kudeta. Para prajurit di lapangan merasa tertipu, dan setelah sadar apa yang sebenarnya terjadi, merekapun kembali ke barak.
Aksi sebagian faksi di tubuh tentara Turki ini gagal meraih simpati rakyat dan dunia, padahal ini unsur penting dalam sebuah 'coup'. Mereka gagal meblokade keadaan. Bahkan - melalui sosial media- Erdogan justru sukses menyampaikan pesannya kepada rakyat Turki dan dunia: Lawan pemberontak ini.
Biasanya para pelaku kudeta segera mengambil alih stasiun televisi dan radio, menutup informasi dan membatasi kebebasan masyarakat. Tapi kali ini, mungkin mereka lupa mempertimbangkan faktor sosial media yang sulit diatur dan malah dimanfaatkan oleh Erdogan. Segera saja massa rakyat turun ke jalan-jalan utama, dan justru memblokade gerakan ini. Sampai-sampai mereka berani berbaring di jalan raya, menjadi tameng guna menghadang lajunya kendaraan-kendaraan militer para pemberontak.
Hubungan pemimpin kudeta dengan dunia internasional juga terkesan sangat lemah. Banyak pemimpin dunia yang mengecam kudeta yang terjadi di Turki ini. Uni Eropa segera mengeluarkan pernyataan, bahwa mereka tetap mendukung pemerintahan Erdogan yang sah dan demokratis.
Rakyat Turki hanya mendengar propaganda yang tidak jelas, situasi menjadi sangat tidak menentu dan membingungkan. Tak ayal lagi meskipun pukul 02.00 dini hari mereka pun turun memenuhi pusat-pusat kota dan menyatakan dukungan kepada Erdogan. Sehingga kudeta itu lumpuh begitu saja, dan orang-orang yang terlibat ditangkap.
Ternyata masih ada tokoh militer Turki yang belum sadar, bahwa di era digital ini, informasi tidak bisa lagi dibendung dan ditutup secara total, karena sangat banyak jaringan dan peralatan IT canggih yang akan mampu menembusnya.
Rada aneh memang, zaman sekaramg, masih ada kudeta oleh faksi militer? Bahkan junta militer di Myanmar sekalipun, sebenarnya sudah sadar, 'tobat' dan kini berubah menjadi negara demokrasi.
Apakah mereka tidak memperhitungkan, katakanlah seandainya berhasil mengambil alih kekuasaan, lalu apakah mereka tidak akan berhubungan dengan negara-negara internasional, baik di bidang politik, ekonomi, budaya, perdagangan dan lain-lain? Jika nanti diembargo misalnya, lalu bagaimana, mereka bisa apa?
Ada pertanyaan besar dibenak saya, lantas di mana posisi dinas-dinas intelijen negara besar, mereka pasti tahu dan biasa saling bertukar info sesama negara sahabat. Bukankah Turki adalah salah satu anggota NATO. Mengapa CIA tidak memberitahu? Bagaimana dengan MI-6 Inggeris, FSB Rusia atau DGSE Prancis?
Kalau ditimbang alasan logisnya, mungkin CIA masih fokus urusan pilpres AS, MI-6 juga fokus dengan mundurnya David Cameron serta isu Brexit. Lalu dinas rahasia Perancis DGSE tengah sibuk mencari dan mengungkap pelaku bom di kota Nice.
Kemudian dimana posisi FSB Rusia? Sebagai kelanjutan dari dinas rahasia KGB, yang dulu dimasa perang dingin kerap dikesankan angker, dalam situasi seperti ini, tampaknya Rusia lebih leluasa memonitor dan mengendalikan jaringan intelijen mereka. Sebab relatif sekarang ini, di Rusia tidak ada kegiatan 'sangat penting' urusan dalam negeri mereka.
Lalu mengapa seolah-olah mereka tidak tahu, ataukah Putin masih belum bisa memaafkan Erdogan, karena insiden penembakan pesawat jet tempur Rusia oleh AU Turki beberapa waktu yang lalu? Wallahu A'lam.
Pada sisi lain, Turki adalah negara yang dikhawatirkan oleh beberapa pemikir 'Barat' sebagai pembawa arus Islamisasi modern. Sentimen ini selalu ditiupkan, entah karena sikap 'lan tardho' mereka yang memang anti Islam. Kesannya, tidak senang melihat suatu negeri maju secara ekonomi, politik, dan budaya namun masyarakatnya masih menggunakan simbol-simbol Islam?
Padahal jika kita amati, ditengah masyarakat Turki, pengaruh sekularisasi yang dibawa oleh Attaturk, masih sangat kuat. Sebagian masyarakatnya bahkan bergaya hidup tidak ubahnya orang-orang Eropa, dan memang sebagian wilayah Turki berada di benua Eropa. Isu-isu dan sentimen seperti ini masih sangat kuat, kerap jadi polemik, dan hal ini merupakan salah satu alasan bagi Uni Eropa untuk menolak kehadiran Turki di tengah komunitas mereka.
Kalau dianalogikan kudeta Turki ini dengan pertarungan tinju di atas ring, 'punch' dari faksi militer ini tidak tepat mengenai rahang, sehingga gagal membuat KO lawannya. Akibatnya, justru dibalas dengan counter jab yang membuat lawan terjungkal mencium kanvas.
Dalam setiap usaha kudeta yang gagal, hal ini memiliki konsekuensi fatal bagi pelakunya. Karena hal ini merupakan perbuatan makar terhadap negara. Biasanya para pelaku dijatuhi hukuman berat.
*) Tifatul Sembiring, anggota DPR periode 2014-2019 yang kini duduk di Komisi III, anggota Majelis Syuro dan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS). (nwk/nwk)










































