Head Hunting Cagub Alternatif Jakarta
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Head Hunting Cagub Alternatif Jakarta

Sabtu, 26 Mar 2016 10:22 WIB
Andar Nubowo
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Head Hunting Cagub Alternatif Jakarta
Andar Nubowo. Foto: dokumentasi pribadi
Jakarta - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Provinsi DKI Jakarta baru akan dihelat pada 15 Februari tahun 2017. Meskipun demikian suhu politik di ibukota sudah mulai memanas. Sejumlah nama beken mulai dari pengusaha, selebritis, politikus sudah ramai dibincangkan banyak orang sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta. Bahkan sebagian besar dari mereka sudah mulai tampil di berbagai media massa dan mendeklarasikan diri sebagai kandidat Gubernur DKI Jakarta.

Nama-nama beken yang muncul dalam Pilkada DKI Jakarta, tampaknya, belum pernah memiliki pengalaman dalam menata dan membangun daerah . Pasca mundurnya Ridwan Kamil dari peta politik DKI Jakarta hingga kini, tampaknya, belum ada tokoh yang mampu atau setidaknya menandingi Basuki Tjahaja Purnama, akrab disapa Ahok dalam menata dan membangun sebuah daerah.

Sejatinya, kandidat yang muncul tidak asing lagi punya pengalaman memimpin, baik pemerintahan asosiasi bisnis, atau partai politik. Yusril Ihza Mahendra (YIM) yang merupakan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Adhyaksa Dault (Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) adalah bekas menteri kabinet SBY.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian pengusaha terkemuka Sandiaga Salahuddin Uno yang pernah memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta yang juga politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Abraham Lunggana, akrab disapa Haji Lulung.

Belakangan nama Djarot Saiful Hidayat yang kini menjabat sebagai wakil Gubernur DKI Jakarta juga muncul ke permukaan. Namun demikian hingga kini belum ada kepastian apakah Djarot akan maju dalam pilkada DKI Jakarta. Sedangkan Abraham Lunggana atau Haji Lulung dikenal publik sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, meski duduk sebagai legislator DPRD, namun Haji Lulung juga belum memiliki pengalamanan dalam memimpin daerah.

Hal yang sama juga berlaku pada musisi Ahmad Dhani. Namanya sempat muncul dalam bursa cagub DKI Jakarta yang diusung dari Partai Kebangkitan Bangsa. Dhani dikenal sebagai musisi terkemuka, namun lagi-lagi ia belum punya rekam jejak atau pengalaman dalam menata dan memimpin daerah.

Merawat Kebhinekaan

Selain bekal pengalaman dalam memimpin dan menata daerah, syarat yang harus dimiliki bagi calon Gubernur DKi Jakarta adalah merawat dan menjaga kebhinekaan. Sebagai ibukota Indonesia, hampir bisa dipastikan semua etnis, agama, dan strata sosial ada di Jakarta. Jakarta adalah kota heterogen dan kompleks karena itu diperlukan pemimpin yang bisa menjaga dan merawat kebhinekaan. Sebab, Jakarta bukan hanya dipandang sebagai salah satu propinsi saja, melainkan Jakarta adalah ibukota Indonesia, karena itu posisi Jakarta begitu sentral dan strategis.

Ironis, jika Ibu Kota Jakarta mendapatkan seorang pemimpin yang tidak mampu merawat kebhinekaan, bahkan memicu dan memacu pembelahan sosial di antara warga Jakarta. Kita agak khawatir fenomena jelang Pilbug Jakarta, di mana ruang publik kita baik offline maupun online mulai disesaki-jubeli dengan opini, kampanye negatif yang mengusung politik identitas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Politik identitas bertentangan dengan gagasan dan praktik kemajemukan Pancasila dan UUD 1945. Β 

Berkaca dari kenyataan itulah, diperlukan calon gubernur alternatif di DKI Jakarta. Figur tersebut minimal harus memenuhi dua syarat yaitu kompeten dan berprestasi dalam menata dan memimpin daerah serta mampu merawat kemajemukan di Jakarta. Selain itu, kandidat alternatif adalah mereka yang mampu menjadi pemecah (ice breaker) kebuntuan politik saat ini dan memberikan tawaran dan warna baru bagi pilihan publik Jakarta dan Indonesia.

Indonesia tidak kekurangan stok pemimpin progresif dan bermutu. Di sini, kita bisa sebut beberapa figur kepala daerah yang dianggap mumpuni dan menunjukkan prestasi gemilang memimpin daerah. Sebut saja misalnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Banteng Provinsi Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, Bupati Bojonegoro-Jawa Timur Suyoto, dan Bupati Banyuwangi-Jawa Timur, Abdullah Azwar Anas. Mereka ini adalah putra-putri yang memiliki track record kepemimpinan transformatif, liberatif dan humanis.

Di tangan dingin kepala daerah ini, daerah yang dipimpinnya tidak saja menjadi daerah atau kota yang nyaman dihuni, tetapi juga menjadikan pembangunan daerah atau kota itu sebagai alat untuk memanusiakan manusia. Sebab, hakikat pembangunan yang sebenarnya adalah memanusiakan manusia seutuhnya.

Tugas Parpol

Dari kandidat Pilgub DKI yang selama ini muncul. Sebagian publik, tampaknya, masih menunggu kandidat-kandidat yang dapat mengabdi dan melayani warga Jakarta dan menjadikan Jakarta sebagai "rumah bersama", bukan rumah yang nyaman bagi sekelompok kepentingan tertentu. Karena itulah, publik Jakarta berharap munculnya kandidat gubernur dan wakil gubernur alternatif. Proses pencarian (head hunting) kepada calon lain yang dianggap layak dan kompeten harus dilakukan baik oleh publik, terutama oleh partai politik.

Partai politik, setelah Gubernur memilih Teman Ahok sebagai kendaraan menuju DKI Jakarta 1, tidak seyogyanya mengalami "kuldesak" di dalam memilih kandidat potensial, tegas dan humanis. Karena itu, Parpol diharapkan dapat melakukan perluasan dalam head hunter kandidat seluas-luasnya, sehingga terjaring kandidat yang berkualitas. Parpol --sebagaimana selama ini, punya kebebasan berpikir dan bertindak secara out of the box di dalam memilih jago yang paling potensial.

Jika hal ini terwujud, maka wacana deparpolisasi tidak akan terwujud dan sekaligus mengembalikan kepercayaan publik bahwa parpol masih berfungsi dan bermanfaat bagi publik. Indonesia, kita semua yakin, masih punya stok mutiara-mutiara terpendam di seantero Nusantara. Partai politik bertugas mencari dan mengambil mutiara manikam itu, supaya harapan publik pada cita ideal Indonesia yang lebih baik merejat-nyala kembali dengan terang.

Tuhan Mahatahu yang terbaik.


*) Andar Nubowo adalah Direktur Eksekutif IndoStrategi (tor/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads