Serangan teroris di Brussels mengingatkan kita sekali lagi tantangan global terorisme, kebutuhan untuk tetap waspada di rumah kita, untuk menjaga keamanan perbatasan kita, memastikan hukum yang kita miliki menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan oleh pasukan keamanan untuk menjaga kita tetap aman, dan tentu saja, untuk terus melanjutkan dukungan untuk sekutu kita dalam peperangan melawan teroris ISIL di Suriah dan Irak.
Serangan di Brussels adalah satu pengingat bagaimana ekstrimis dengan kekerasan ini telah mencapai titik krisis di Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk semua maksud dan tujuan, tidak ada perbatasan internal di Eropa, yang sudah menjadi prestasi keterbukaan yang sangat hebat, dan perbatasan eksternal yang sulit dikelola.
Namun petaka terorisme ini tidak hanya menjadi persoalan Eropa. Ini persoalan global. Baik di Brussels atau Paris, Ankara atau Istambul, Beirut, Bamako, San Bernardino, Jakarta atau Sydney – dunia sudah sangat terkoneksi, orang Australia dan kepentingan Australia sangat menyebar sehingga dimana pun kita berada saat ini semua terasa dekat dengan rumah kita.
Strategi inti Al-Qaeda adalah meluncurkan serangan-serangan berskala besar, terencana dengan baik, dengan korban sebanyak mungkin melawan target-target Barat seperti masifnya kerusakan di serangan ke WTC pada 9/11.
Terorisme yang diusung ISIL mengunakan taktik berbeda yang menawarkan pembunuhan oportunistik, relatif serampangan dan acak yang bisa dibesar-besarkan secara daring, seperti penggunaan senapan otomatis di pantai penuh turis di Tunisia atau di tengah kota San Bernardino.
ISIL bertujuan untuk mempertontonkan cakupan operasional yang terus berkembang, dan kita percaya bahwa ini dilakukan karena ini menyakitkan untuk Suriah dan Irak yang kehilangan 22% dari teritorinya dan 40% dari penghasilan yang puncaknya pada 2014.
Tanda-tanda awal menunjukkan, seperti serangan Paris empat bulan yang lalu, pengeboman di Brusel terinspirasi, jika tidak direncanakan, oleh ISIL di markas besar mereka di Al Raqqa, di Suriah. Hal ini menggarisbawahi pentingnya kontribusi militer kita melawan ISIL di Suriah dan Irak, di mana kita adalah kontributor nomor dua terbesar dalam Koalisi.
Kemampuan ISIL untuk menginspirasi, serta mengarahkan, terorisme di seluruh dunia akan tereliminsasi jika kalifah mereka dengan jelas ditumbangkan di lapangan.
Kekalahan ini membutuhkan kekuatan militer dan penyelesaian politik dan kami bekerja untuk bisa melakukan keduanya.
Saat ini tidak ada satu negara pun yang bisa menjamin secara mutlak ketidakhadiran terorisme. Tingkat ancaman teror di Australia sudah pada 'mungkin' sejak September 2015. Namun demikian Australia, berada pada tempat yang lebih baik dibandingkan dengan sahabat kami di Eropa ketika berurusan dengan ancaman terorisme, karena kekuatan kantor keamanan dan intelijen, kantor perbatasan dan masyarakat multikultural kita yang membuat kita lebih aman dan merdeka.
Ini juga menjelaskan mengapa pemerintah telah mereformasi legislasi keamanan nasional untuk memastikan agensi-agensi kami memiliki kekuatan yang mereka butuhkan untuk melakukan mitigasi terhadap ancaman teror. Sekutu menganggap undang-undang keamanan kita adalah termasuk yang terbaik di dunia.
Keuntungan dari kondisi geografis kita adalah kantor perlindungan perbatasan dan konter terorisme dengan efektif bekerja sehingga kita mengetahui siapa yang akan datang.
Perlindungan perbatasan yang kokoh, pasukan keamanan yang waspada dilengkapi dengan peraturan perundangan serta komitmen teguh untuk memastikan ada kebebasan dan penghormatan -- adalah resep untuk kesuksesan sebuah keragaman budaya.
Dalam peperangan melawan terorisme, kami sepenuhnya berkomitmen untuk memainkan peranan utama untuk mencari solusi guna mengakhiri ISIL di Timur Tengah, bekerja sama dengan para mitra di kawasan, khususnya Indonesia dan mitra lain di ASEAN serta melanjutkan kewaspadaan dalam negeri.
Namun kita harus ingat untuk tidak hanya memperhatikan pandangan kita mengenai situasi ini melalui prisma konter terorisme. Terorisme adalah contoh propaganda perilaku – ini dirancang untuk menakut-nakuti dan mengintimidasi. Ini dirancang untuk mencegah kita melakoni kehidupan normal kita.
Inilah sebabnya Presiden Joko Widodo bertekad untuk memastikan Jakarta kembali ke kehidupan normal hanya beberapa jam setelah serangan bom di ibu kota di bulan Februari dan mengapa Perdana Menteri Belgia Charles Michel bertekad mengembalikan kondisi normal di Brussels secepatnya.
Terorisme juga dirancang untuk membuat kita saling memusuhi. Itulah sebabnya pemerintah kami bekerja untuk memastikan inklusi dan saling menghormati, memastikan semua komunitas, semua agama merasa menjadi satu bagian dari kita semua, masyarakat dengan budaya paling beragam di dunia.
Saya memiliki apresiasi yang mendalam dan personal pada komitmen Presiden Indonesia Joko Widodo untuk mempromosikan Islam dengan wajah toleran dan inklusi. Beliau mengatakan lagi dan lagi bahwa Indonesia memberi bukti bahwa demokrasi, toleransi, moderasi dan Islam adalah kompatibel. Dan juga terhadap penolakan beliau yang kuat atas ekstremisme yang mengema jauh ke luar Indonesia.
Sekarang ini Indonesia adalah negara demokrasi yang kuat dengan kelas menengah yang terus tumbuh, telepon genggam sudah bukan kemewahan, dan setelah Amerika Serikat, Indonesia memiliki populasi akun Facebook terbanyak.
Indonesia berada pada jalur menuju ekonomi besar nomor lima di dunia pada 2030 berada di bawah keempat negara Indo-Pasifik: China, AS, India dan Jepang.
Bagi saya Ini adalah tujuan politik luar negeri pribadi untuk memperkuat ikatan-ikatan tersebut dengan Indonesia.
Istri saya, Lucy dan saya mengunjungi Presiden Widodo dan istri Ibu Iriana tahun lalu – banyak kesamaan yang kami temukan. Kami berbicara panjang lebar tentang perencanaan dan infrastruktur. Presiden Widodo dan Lucy pernah menjadi wali kota dan saling bertukar pengalaman tentang persoalan-persoalan perkotaan. Dan kunjungan kami ditutup dengan 'blusukan' ke pasar, dan ribuan orang benar-benar terlihat senang bertemu dengan presiden mereka.
Presiden Jokowi, saya harus mengatakan ini, sama sekali tidak terlihat tidak nyaman, bahkan menunjukkan empati ke saya dengan ikut melepaskan jas dan dasi sebelum saya layu dalam panasnya Jakarta.
Sejak itu kami membuat perkembangan bagus dalam hal kepastian untuk, salah satunya, perdagangan ternak.
Dan minggu lalu kami mengambil langkah lebih jauh dengan Menteri Perdagangan Indonesia Thomas Lembong, memulai lagi negosiasi dengan Menteri Perdagangan dan Investasi Steve Ciobo untuk Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif yang baru.
Sungguh membantu bahwa delapan dari menteri Kabinet dari sepuluh tahun terakhir adalah lulusan Australia.
Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop mengatakan kepada saya bahwa beliau lebih sering berkomunikasi melalui pesan singkat di telepon genggam dengan mitra Indonesia, Retno Marsudi – alami dan lebih cepat – dibandingkan dengan menlu lain di seluruh dunia.
Bahkan minggu ini mereka bersama-sama memimpin Bali Process yang dihadiri oleh 48 negara anggota dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai penyelundupan manusia dan kejahatan lintas negara yang relevan.
Hubungan dengan Indonesia semakin ditegaskan dengan kesamaan-kesamaan dan saling melengkapi daripada perbedaan-perbedaan antara dua negara.
Dan itulah sebabnya kami menantikan untuk bekerja lebih erat dengan ASEAN – mitra dagang nomor dua terbesar.
Seperti yang diungkapkan Presiden Barack Obama ketika bertemu dengan pemimpin ASEAN di Sunnylands bulan lalu: "Pada saat ASEAN berbicara dengan suara lantang dan kompak, ini membantu memajukan keamanan, peluang dan martabat tidak hanya untuk 600 juta penduduk di ASEAN, tetapi untuk masyarakat di Asia Pasifik dan seluruh dunia."
Dan kami percaya bahwa Indonesia yang stabil, semakin makmur dan demokratis akan menjadi mitra penting kami untuk mempromosikan stabilitas kawasan dan memastikan semua negara di kawasan ikut dalam aturan yang ada.
Pelajaran berharga dari jaman paska perang adalah kemakmuran dan perdamaian membuka pasar, keberagaman, kemajuan dan hukum.
Dan pelajaran dari apa yang kita telah lihat – dari apa yang sekarang kita lihat di Suriah dan Irak atau beberapa malam lalu di Brussels, bahwa tidak satupun dari itu semua di atas kita anggap enteng.
*) Malcolm Turnbull adalah Perdana Menteri Australia (dra/dra)











































