Lewat Bandung,Β tentu akan segera terwujud, karenaΒ semua kajianΒ terdahulu merekomendasikanΒ demikian. Presiden Jokowi pun sebenarnya terlambat membangun Kereta Cepat Jakarta Bandung.
Mestinya sejak zaman SBY sudah mulai dicicil, termasukΒ membenahiΒ sumbatan kemacetan di banyak kota yang telah menyebabkanΒ pemborosan mencapai Rp 200 triliun setahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini Kereta Cepat masuk dalam daftar proyek papan atas di semua negara. Pertemuan regional transportasi dan infrastruktur 10 tahun terakhir berulang membahas pengalaman berbagai negara yang sudah, sedang dan mau membangun Kereta Cepat. Ada yang berhasil, ada yang bangkrut, ada yang rencana masih tetap tinggal rencana.
Alasan kereta cepatΒ dibangun seantero dunia,Β demi penghematan konsumsiΒ energi dalam jangka panjang. Sudah konvergen memang,Β angkutan berbasis rel lah yang memberikan jawaban bahwa itu baik untuk angkutan dalam kota, antar kota, baik untuk penumpang maupun logistik.
Kereta cepat ini merupakan quasi publik, alternatif bagi yang mau (mampu) bayar, yang tidak, silakan pakaiΒ moda lain yang ada.Β Selain manfaat langsung dengan penghematan waktuΒ yang dinikmati pengguna, kelonggaranΒ lalu lintasΒ di jaringanΒ moda lain membuat sebagian memilih menggunakan Kereta Cepat.
Begitu pulaΒ dengan kereta cepat ini,Β akanΒ memberi tambahan manfaat kepada pengguna yang tetap bertahan di sarana lama. Kapasitas jaringan rel eksisting dapat dialihkanΒ lebih intensΒ untuk angkutan logistik.
Pemerintah seharusnya,Β sebelum memilih melakukan eksekusi Kereta Cepat sudah punyaΒ Grand Design yangΒ tepat dan holistik tentangΒ Kereta Cepat Jakarta-Surabaya yang diinginkan. Diperlukan Grand Design rencana investasi, jangan sepotong-sepotongΒ begini. Dan pilihlah konsorsium yangΒ benar-benar memberikan value for money,Β yang dapatΒ mengerjakanΒ dengan harga yang lebih rendah dan kualitas yangΒ tinggi. Bukan hanya untuk menghindari kekurangan anggaran pemerintah, standar tenaga kerja danΒ peraturan lainnya. Ibarat mau bangun rumah gambarnya sudah ada dan dipahami betul.
Terobosan dalam skema proyek-proyek penugasan kepada BUMN bagaimanapun harus tetapΒ memenuhi prinsip "value for money"Β yakni harga yang tepat dan paling efisien untuk kualitas dan kinerja yang sudah disepakati.
Khusus Kereta Cepat yang dipercepat ini memang harus ada tim alih teknologi yang secara sistimatis melakukan assesment sehingga tahu persis apa yang kita beli, mana komponen yang bisa kita adakan sendiri untuk sebesar-besarnya memobilisasiΒ sumberdaya lokal. JanganΒ berakhirΒ seperti layaknya beli handphone, mahal danΒ kita cuma pemakai doang.
Karena proyek ini pareto improvement, yakniΒ semua kalangan menyetujui mulai Presiden, Para Kepala Daerah yang wilayahnya terlintasi, vendor teknologi KA dan industri konstruksi, sehinggaΒ yang paling krusial adalah menjawabΒ seberapa mampu dan siap masyarakat memikul dampak lingkungan dengan hadirnyaΒ Kereta Cepat. Apa upaya mitigasi yang harus dilakukan dan kompensasi yang diberikan kepada masyarakatΒ yang terkena dampak?
Sementara Kemenhub bersama konsorsium KA berkomunikasi lebih intens untuk memeriksa dan melengkapi segala persyaratan izin usaha. Kita semua menunggu diselenggarakannya public consultation, sosialisasi kelengkapan persiapan kereta cepatΒ dibuka di Gedung Merdeka BandungΒ guna menampung lebih banyak lagi masukan dari semua kalangan, masyarakat dan Pemda-Pemda.
Sepanjang bukan informasi yang masih rahasia, langkah ini penting demiΒ transparansi dan menggalang modal dan dukungan masyarakat yang ingin turut menanam saham, sekecil apapun.
Negara memang lagi sakit. Yang merasa waras kebanyakan "hater" yang memanfaatkan isu Kereta Cepat ini hanya untuk menghantam pemerintah, yang penting gagal dan menunjukkan bahwa pemerintah sekarangΒ tidak mampu.
Kalau yang betul-betul waras akan memberikan masukan bagaimana supaya yang sedang disiapkan dan yang akan dilakukan ini nantinya menuai sukses dan mengantar bangsa ke lompatan teknologi dan peradaban baru, termasuk budaya berkeselamatan dan tepat waktu.
Tantangan besar yang menghadang dan risiko kebanyakan ada di pundak konsorsium PT KCIC. Sebab tidak adaΒ dan belum pernah ada di dunia Kereta Cepat dibangun dengan modal 100% swasta, plus risiko politik ditanggung juga.
PeranΒ negara tak terhindarkan, di mana seharusnya? Bukankah pada akhir masa konsesi asset Kereta Cepat juga menjadiΒ milik negara? Mungkin lingkungan strategis sekarang ini berubah, kelompokΒ yang bermitra punya kalkulasi tersendiri.Β Kita beri kesempatan, namun Pemerintah tetap harus waspada danΒ memantau ketat perjalanan konsesi panjang ini, karena enabling environment sudah diberikan sangat khusus kepada konsorsium PT KCIC.Β
Pemerintah punya pengalaman sejenis dalam rekonsesi jalan tol Jasa Marga selama iniΒ (45 tahun) dan konsesi baru terminal petikemas Kalibaru 70 tahun, juga ragam proyek infrastrukur lain. Kali ini dalam pasar perkeretaapian, yang memang tidak sekomersial pasar terminalΒ petikemas dan tol perkotaan.
Semua kita tinggal pilih apakah turut membantu dalam pendakian yang terjal ini, high risk high economic return, atau bertahan dan cukup memelihara perkutut terus -- low risk low return.
Rencana Kota Baru Walini dan titik TOD lain yang akan dikembangkan, sebagian manfaat yang mungkin diperolehΒ nanti dapat terbagi untuk masyarakat berpenghasilanΒ rendah, paling tidak 20% luas lantaiΒ unit residenceΒ Β dialokasi untuk public housing (equitable TOD).
*)Penulis adalah Dosen ITB,Β Direktur Eksekutif IPKC (Infrastructure Partnership & Knowledge Center)
(erd/erd)











































