Mengubah Peradaban dengan Kereta Cepat Jakarta-Bandung-Surabaya
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Mengubah Peradaban dengan Kereta Cepat Jakarta-Bandung-Surabaya

Selasa, 09 Feb 2016 14:03 WIB
Harun al-Rasyid Lubis
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Mengubah Peradaban dengan Kereta Cepat Jakarta-Bandung-Surabaya
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta - Kereta cepatΒ  merupakan top up program setelah melalui discrecy Peraturan Presiden (Perpres). Kereta cepat itu belum tertuang dalam RPJM 2015-2019. Yang ada justru di Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas). Di mana dengan targetΒ  tahun 2025, Kereta Cepat Jakarta-Surabaya sepanjang 700 KM, dalam 10 tahun akan terwujud.Β 

Lewat Bandung,Β tentu akan segera terwujud, karenaΒ  semua kajianΒ  terdahulu merekomendasikanΒ  demikian. Presiden Jokowi pun sebenarnya terlambat membangun Kereta Cepat Jakarta Bandung.

Mestinya sejak zaman SBY sudah mulai dicicil, termasukΒ  membenahiΒ  sumbatan kemacetan di banyak kota yang telah menyebabkanΒ  pemborosan mencapai Rp 200 triliun setahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maritim dan tol laut masih terus digenjot, dan ambisi ini tertuang dalam belanja tahunan APBN, begitu pula agenda infrastruktur lainnya seperti kereta api.Β  Hanya saja akhir-akhir ini media sudah bosanΒ  membahas tol laut. Apalagi Sejak RJ Lino mulai diusut KPK, champion baru belum muncul. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti masih semangat, walau delivery tidak jelas.Β  AkhirnyaΒ  Kereta Cepat menjadi topik paling hit. Jangan pernah terpengaruh dengan retorika politik--judge with your own common sense-. Tetap pakailah akal sehat.

Saat ini Kereta Cepat masuk dalam daftar proyek papan atas di semua negara. Pertemuan regional transportasi dan infrastruktur 10 tahun terakhir berulang membahas pengalaman berbagai negara yang sudah, sedang dan mau membangun Kereta Cepat. Ada yang berhasil, ada yang bangkrut, ada yang rencana masih tetap tinggal rencana.

Alasan kereta cepatΒ  dibangun seantero dunia,Β demi penghematan konsumsiΒ  energi dalam jangka panjang. Sudah konvergen memang,Β  angkutan berbasis rel lah yang memberikan jawaban bahwa itu baik untuk angkutan dalam kota, antar kota, baik untuk penumpang maupun logistik.

Kereta cepat ini merupakan quasi publik, alternatif bagi yang mau (mampu) bayar, yang tidak, silakan pakaiΒ moda lain yang ada.Β Selain manfaat langsung dengan penghematan waktuΒ yang dinikmati pengguna, kelonggaranΒ  lalu lintasΒ  di jaringanΒ  moda lain membuat sebagian memilih menggunakan Kereta Cepat.

Begitu pulaΒ  dengan kereta cepat ini,Β  akanΒ  memberi tambahan manfaat kepada pengguna yang tetap bertahan di sarana lama. Kapasitas jaringan rel eksisting dapat dialihkanΒ lebih intensΒ untuk angkutan logistik.

Pemerintah seharusnya,Β  sebelum memilih melakukan eksekusi Kereta Cepat sudah punyaΒ Grand Design yangΒ  tepat dan holistik tentangΒ Kereta Cepat Jakarta-Surabaya yang diinginkan. Diperlukan Grand Design rencana investasi, jangan sepotong-sepotongΒ  begini. Dan pilihlah konsorsium yangΒ  benar-benar memberikan value for money,Β  yang dapatΒ  mengerjakanΒ dengan harga yang lebih rendah dan kualitas yangΒ  tinggi. Bukan hanya untuk menghindari kekurangan anggaran pemerintah, standar tenaga kerja danΒ  peraturan lainnya. Ibarat mau bangun rumah gambarnya sudah ada dan dipahami betul.

Terobosan dalam skema proyek-proyek penugasan kepada BUMN bagaimanapun harus tetapΒ  memenuhi prinsip "value for money"Β  yakni harga yang tepat dan paling efisien untuk kualitas dan kinerja yang sudah disepakati.

Khusus Kereta Cepat yang dipercepat ini memang harus ada tim alih teknologi yang secara sistimatis melakukan assesment sehingga tahu persis apa yang kita beli, mana komponen yang bisa kita adakan sendiri untuk sebesar-besarnya memobilisasiΒ  sumberdaya lokal. JanganΒ  berakhirΒ  seperti layaknya beli handphone, mahal danΒ  kita cuma pemakai doang.

Karena proyek ini pareto improvement, yakniΒ  semua kalangan menyetujui mulai Presiden, Para Kepala Daerah yang wilayahnya terlintasi, vendor teknologi KA dan industri konstruksi, sehinggaΒ  yang paling krusial adalah menjawabΒ  seberapa mampu dan siap masyarakat memikul dampak lingkungan dengan hadirnyaΒ  Kereta Cepat. Apa upaya mitigasi yang harus dilakukan dan kompensasi yang diberikan kepada masyarakatΒ yang terkena dampak?

Sementara Kemenhub bersama konsorsium KA berkomunikasi lebih intens untuk memeriksa dan melengkapi segala persyaratan izin usaha. Kita semua menunggu diselenggarakannya public consultation, sosialisasi kelengkapan persiapan kereta cepatΒ  dibuka di Gedung Merdeka BandungΒ  guna menampung lebih banyak lagi masukan dari semua kalangan, masyarakat dan Pemda-Pemda.

Sepanjang bukan informasi yang masih rahasia, langkah ini penting demiΒ transparansi dan menggalang modal dan dukungan masyarakat yang ingin turut menanam saham, sekecil apapun.

Negara memang lagi sakit. Yang merasa waras kebanyakan "hater" yang memanfaatkan isu Kereta Cepat ini hanya untuk menghantam pemerintah, yang penting gagal dan menunjukkan bahwa pemerintah sekarangΒ  tidak mampu.

Kalau yang betul-betul waras akan memberikan masukan bagaimana supaya yang sedang disiapkan dan yang akan dilakukan ini nantinya menuai sukses dan mengantar bangsa ke lompatan teknologi dan peradaban baru, termasuk budaya berkeselamatan dan tepat waktu.

Tantangan besar yang menghadang dan risiko kebanyakan ada di pundak konsorsium PT KCIC. Sebab tidak adaΒ  dan belum pernah ada di dunia Kereta Cepat dibangun dengan modal 100% swasta, plus risiko politik ditanggung juga.

PeranΒ  negara tak terhindarkan, di mana seharusnya? Bukankah pada akhir masa konsesi asset Kereta Cepat juga menjadiΒ  milik negara? Mungkin lingkungan strategis sekarang ini berubah, kelompokΒ  yang bermitra punya kalkulasi tersendiri.Β  Kita beri kesempatan, namun Pemerintah tetap harus waspada danΒ  memantau ketat perjalanan konsesi panjang ini, karena enabling environment sudah diberikan sangat khusus kepada konsorsium PT KCIC.Β 

Pemerintah punya pengalaman sejenis dalam rekonsesi jalan tol Jasa Marga selama iniΒ  (45 tahun) dan konsesi baru terminal petikemas Kalibaru 70 tahun, juga ragam proyek infrastrukur lain. Kali ini dalam pasar perkeretaapian, yang memang tidak sekomersial pasar terminalΒ  petikemas dan tol perkotaan.

Semua kita tinggal pilih apakah turut membantu dalam pendakian yang terjal ini, high risk high economic return, atau bertahan dan cukup memelihara perkutut terus -- low risk low return.

Rencana Kota Baru Walini dan titik TOD lain yang akan dikembangkan, sebagian manfaat yang mungkin diperolehΒ  nanti dapat terbagi untuk masyarakat berpenghasilanΒ  rendah, paling tidak 20% luas lantaiΒ  unit residenceΒ Β  dialokasi untuk public housing (equitable TOD).

*)Penulis adalah Dosen ITB,Β Direktur Eksekutif IPKC (Infrastructure Partnership & Knowledge Center)

(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads