Di harian berpengaruh Belanda, NRC, muncul sebuah artikel dengan judul: Indonesia Tak Lupa Sejarah. Generasi muda menuntut perhatian atas perburuan kaum komunis pada 1965. Bagaimana sebenarnya ini semua bermula? Ya, dari Karl Marx, yang menulis kitab Das Kapitaal. Perkembangan selanjutnya Marxisme, komunisme terus meluas bak rembesan minyak sampai ke Asia, Amerika, ke seluruh dunia. Detil menarik: Marx ternyata keponakan dari keluarga Philips (kapitalis pemilik imperium industri elektronik merk Philips) di Eindhoven, Belanda.
Perkembangan selanjutnya tak terelakkan: komunisme merajalela ke seluruh dunia, memecah-belah keluarga, gereja, pemerintahan dan menelan banyak korban nyawa manusia. Di Rusia di mana sistem komunisme diterapkan di bawah rezim Stalin, berjuta-juta rakyat Rusia dibunuh. Di Afrika, Amerika Latin, tua muda tersedot ideologi komunis menjadi pengikut, juga di China, Korea Utara, Kamboja, dan Vietnam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Indonesia ideologi ini juga mendapat tempat di kalangan kaum muda pada awal abad ke-20. Nasionalisme, komunisme, banyak orang Indonesia saat itu antusias mengenai perkembangan di Rusia. Punya peluang sama dan tidak ditindas oleh penguasa merupakan lahan subur bagi ideologi ini untuk menarik massa pengikut.
Segera setelah berakhir Perang Dunia II muncul era Perang Dingin. Amerika mencoba mempertahankan hegemoninya di seluruh dunia. Ketika Chiang Kai Chek berhasil dikalahkan oleh komunis dan meletus hebat Perang Vietnam, Amerika tidak menghendaki jika komunis juga berkuasa di Indonesia dan memutuskan mendukung Soeharto. Di Belanda hari-hari ini koran-koran penuh dengan ulasan atas pembunuhan massal di Indonesia pada 1965 (yang menjadi dekor jatuhnya kepemimpinan Soekarno dan naiknya Soeharto).
Melihat rangkaian itu semua, saya menilai foto Paus Francis dan Fidel Castro sungguh sangat menggugah hati dan menyiratkan begitu banyak harapan. Juga kini anno 2015, di tengah-tengah gambar-gambar menyedihkan dari Timur Tengah, masih ada orang-orang yang menunjuki jalan menuju perubahan, keberlanjutan, berbagi peluang, keadilan dan perdamaian. Banyak generasi muda seperti juga di Indonesia saat ini mempunyai keberanian untuk menatap masa lalu. Dan itu memberi harapan bagi kemanusiaan.
Wassenaar, 7 Oktober 2015
* Penulis adalah pendiri Yayasan Sahabat Linggarjati, salah satu pendiri Indonesia-Nederland Society (INS); tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
(es/nrl)











































