Kolom

Memimpikan Program Religi yang Religius

Puji Hariyanti - detikNews
Selasa, 30 Jun 2015 12:13 WIB
Jakarta - Ramadan selalu istimewa bagi umat muslim di belahan dunia manapun. Bagi masyarakat Indonesia, bulan Ramadhan bukan hanya masalah ibadah puasa, tetapi juga sudah menjadi ritual dan budaya tersendiri. Masyarakat seolah berlomba menyiapkan segala sesuatu untuk ibadah terbaik mereka di bulan penuh berkah ini.

Selalu tampak euforia yang masif dalam menyambut Ramadan di negeri ini, mulai dari ibu-ibu rumah tangga yang sibuk menata menu santapan sahur dan buka, toko-toko yang penuh dengan aneka makanan dan minuman khas bulan puasa, pedagang-pedagang takjil kagetan, kelompok-kelompok atau organisasi Islam yang memasang spanduk dan baliho sepanjang jalan bertuliskan "Marhaban ya Ramadhan", info tabligh akbar, buka bersama, dan tarawih keliling. Dan masih banyak serba-serbi Ramadan lainnya yang membuat negri ini mendadak tampak lebih religius.

Dan yang tidak pernah ketinggalan menyambut Ramadan adalah media massa kita. Membicarakan bulan Ramadan tidak bisa hanya berhenti pada berbicara masalah spiritualitas umat muslim yang menjalankan ibadah puasa wajib setahun sekali. Tidak hanya tentang menu sahur dan berbuka. Tetapi juga berbicara tentang ritual media massa kita terutama televisi menyambut Ramadan dengan sajian tayangan spesial Ramadan.

Jam tayang utama yang pada hari-hari biasa adalah pukul 20.00-22.00, maka berubah menjadi dini hari sekitar pukul 02.00-04.30 pada saat sahur sampai subuh dan pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa sampai magrib. Waktu tayang dini hari yang biasanya sepi penonton (kecuali pada saat tayangan pertandingan bola) menjadi ramai penonton, karena pada jam itu umat muslim melaksanakan sahur yang kebanyakan dilakukan sambil menonton televisi. Hal ini yang membuat televisi kita berlomba-lomba menayangkan program spesial sahur.

Tahun 2014, beberapa stasiun televisi swasta terpaksa menelan pil pahit karena tayangan sahur andalannya – yang bahkan sempat menduduki rating tertinggi – terpaksa harus dihentikan tayangnya oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena banyaknya protes dari masyarakat dan lembaga Islam karena program tersebut dianggap tidak mendidik dan tidak layak ditayangkan apalagi di bulan Ramadan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang melakukan pemantauan program sahur juga menyampaikan bahwa program Ramadan di televisi khususnya yang berupa variety show masih minim konten dakwah, secara durasi juga masih jauh lebih sedikit dibanding lawakannya. Menurut MUI ada beberapa program sahur yang masuk kategori konyol dan jauh dari konsep religi dengan kata lain tidak sesuai ditayangkan pada bulan Ramadan.

Seperti yang diberitakan www.muslimdaily.net1 bahwa program sahur yang masuk kategori konyol karena isi programnya penuh gelak tawa yang berlebihan, saling ledek dengan menyebutkan kekurangan fisik, penuh omelan, pertengkaran, sindiran, tudingan dengan kata-kata bernada negatif, memasukkan makanan ke mulut sampai melemparkan tepung ke wajah, pemeran pria bergaya seperti wanita, menirukan anak-anak berkebutuhan khusus, dan masih banyak lagi lainnya. Yang mana semua itu tidak sesuai dengan ajaran Islam dan tidak layak dijadikan tontonan apalagi tuntunan bagi masyarakat.

Ramadan tahun 2015 ini, beberapa stasiun televisi nasional menayangkan program sahur yang senada dengan tahun lalu berupa variety show (Trans TV dan Trans7), kajian keislaman (Metro TV dan ANTV), tabligh akbar (TVOne), sinetron dan film religi (RCTI, SCTV, dan MNCTV) dan ajang pencarian bakat/da’i (Indosiar). Sementara Global TV hanya menayangkan ulang program regulernya.

Yang nampak berbenah adalah stasiun TV di bawah naungan Transcorp. Trans TV yang tahun lalu harus menghadapi kenyataan programnya dihentikan, tampak menyajikan program sahur yang “agak berbeda” dengan program sahur tahun lalu. Yang tampak jelas adalah tidak lagi marak program joged atau goyangan layaknya Ramadan tahun lalu. Mengadaptasi program religi yang tayang di waktu reguler, Trans TV menyuguhkan program berupa variety show yang lebih santun.

Secara keseluruhan program sahur Ramadan di televisi tahun ini terkesan lebih religius. Hal ini juga tidak lepas dari peran lembaga-lembaga yang mengawasi konten siaran televisi kita. Seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sudah siap dengan tim pemantau siaran televisinya. KPI membuat surat edaran yang meminta seluruh stasiun televisi menyajikan program yang mendidik selama Ramadan.

KPI memberikan batasan program yang tidak boleh tayang selama Ramadhan, di antaranya: goyangan yang erotis dan mengeksploitasi bagian-bagian tubuh wanita seperti dada, paha dan bokong. Adegan-adegan yang seronok atau vulgar. Pakaian yang minim dan memperlihatkan bagian-bagian tubuh wanita seperti dada, paha dan bokong. Pria berperilaku dan berpakaian kewanitaan. Adegan kekerasan dan candaan kasar. Mengungkapkan secara terperinci aib/kerahasiaan seseorang. Konflik secara eksplisit dan provokatif.

Siaran yang bermuatan mistik, horror dan supranatural yang menimbulkan ketakutan dan kengerian pada khalayak di bawah pukul 22.00 waktu setempat. Walaupun ditayangkan di atas pukul 22.00, Lembaga Penyiaran wajib mematuhi ketentuan pelarangan dan pembatasan program siaran yang bermuatan mistik, horror dan supranatural. Atau adegan yang mengarah kepada hubungan seks atau keintiman pria dan wanita seperti ciuman. Menyisipkan iklan niaga pada saat azan.

Kita patut memberikan apresiasi kepada stasiun televisi yang masih memiliki itikad baik untuk menayangkan program religi di bulan Ramadan. Karena program religi tidak hanya bisa menambah nuansa religius Ramadan tetapi juga memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan keislaman bagi masyarakat awam yang selama ini mungkin kurang memiliki akses untuk mengikuti pengajian atau kajian keislaman. Dengan banyaknya variasi tayangan religi maka masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan semata tetapi juga mendapatkan nilai tambahan berupa siraman rohani dan wawasan keislaman.

Namun berkaca dari beberapa tahun terakhir, program religi yang tayang di televisi memang belum maksimal dilihat dari komposisi durasi dan konten dakwahnya. Banyaknya program religi yang diisi oleh mubaligh plus pelawak mengaburkan nuansa religius program tersebut. Seolah-olah juga menempatkan fungsi agama hanya sebagai “hiburan” atau “seni pertunjukkan” sebagaimana komoditas hiburan lainnya. Sehingga teks keagamaan juga harus mengikuti selera produser yang sudah tentu harus sesuai dengan selera pemodal.

Dampaknya pada sebagian masyarakat yang menjadi audiens pasif, ditakutkan hanya menjadikan pengalaman dan praktek religius yang ditayangan di televisi sebagai komoditas hiburan pengisi waktu sahur dan penghilang kantuk tanpa mendapatkan masukan nilai religiusnya. Terkait program religi, Neil Postman menyatakan ada tiga prinsip dalam program televisi.

Pertama, engkau tak memerlukan pengetahuan bahkan perilaku awal. Tiap program religi tidak memerlukan pengetahuan mendalam untuk memahaminya, sehingga program dikemas berbentuk sajian ringkas, cepat, dan tidak mendalam.

Kedua, engkau tidak boleh menyebabkan kebingungan. Prinsip ini membuat program religi tidak harus diingat, dipelajari, dan dipraktekkan, yang terpenting adalah menghibur.

Ketiga, visualkan semua hal. Tema apapun harus divisualisasikan dengan jelas, tidak ada yang gaib dalam televisi, sehingga terkadang ada beberapa ajaran tentang yang gaib tetap ditampilkan di layar kaca.

Ketiga prinsip di atas menunjukkan dengan jelas bahwa menyatukan agama yang sakral dengan industri budaya adalah mustahil. Karena jika dicermati lebih lanjut, prinsip-prinsip yang di kemukakan Neil Postman bertentangan dengan ajaran agama.

Namun dalam masyarakat yang menjadikan televisi sebagai kebutuhan primer setiap harinya, program religi menjadi keniscayaan, semacam oase di antara program-program lain yang hanya menawarkan hiburan semata. Hanya saja nampaknya memang televisi kita harus terus dikawal dalam penayangan program-program religinya. Tidak hanya oleh lembaga Islam atau lembaga pemantau penyiaran, tetapi juga masyarakat. Karena dari beberapa kasus masyarakatlah yang dengan cerdas mengkritisi program mana yang bermanfaat bagi mereka dan mana yang hanya mendatangkan mudharat, sehingga program yang tidak layak bisa dihentikan penayangannya.

Dan program religi yang ada perlu ditingkatkan durasi dan konten dakwahnya, sehingga menonton program religi yang benar-benar religius tidak lagi sebatas mimpi. Stasiun televisi tidak selayaknya takut program religinya tidak laku apalagi masyarakat muslim di Indonesia saat ini sedang mengalami lonjakan gairah keberagamaan yang luas biasa. Momentum ini sebaiknya bisa dimanfaatkan oleh stasiun televisi untuk menayangkan program religi terbaiknya.

*) Puji Hariyanti adalah Dosen Ilmu Komunikasi FPSB Universitas Islam Indonesia

Halaman

(nwk/nwk)