KAA sendiri diselenggarakan dalam konteks di mana sebagian besar negara-negara selatan baru saja melepaskan diri dari kolonialisme. Melalui KAA 1955, negara-negara tersebut ingin menegaskan bahwa mereka berdiri sejajar dengan negara-negara utara dalam rangka menciptakan konstelasi politik yang lebih baik demi terwujudnya perdamaian dunia. Sehingga kerja sama di antara mereka adalah keniscayaan yang harus dilakukan dalam rangka mengejar ketertinggalannya.
Namun nampaknya cita-cita tersebut masih belum juga sepenuhnya terwujud. Meski saat ini semua negara di Asia dan Afrika kecuali Palestina sudah merdeka, tetapi kemerdekaan politik tersebut tidak lah sepenuhnya diikuti oleh kemerdekaan ekonomi mereka. Salah satu yang menjadi tolok ukur bagaimana dunia ini masih terpolarisasi menjadi warga dunia kelas satu dan kelas dua ialah tren kesenjangan ekonomi global, di mana negara-negara di Asia dan Afrika masih terpuruk di dasar piramida ekonomi dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timpang
Tren tersebut mengisyaratkan bahwa distribusi kue ekonomi dunia tidak jauh berbeda dengan era saat negara-negara di Asia dan Afrika masih dalam cengkeraman kolonialisme. Pola core-periphery yang menempatkan negara-negara utara sebagai inti (core) dan negara-negara selatan sebagai pinggiran (periphery) masih tetap berlangsung. Yang membedakan hanya format dan mediumnya saja.
Dalam pola ini, negara-negara pinggiran berperan sebagai penyokong kegiatan ekonomi negara-negara inti dalam bentuk bahan baku produksi serta tenaga kerja murah, serta sebagai pasar yang menyerap kelebihan hasil produksi yang diciptakan di negara-negara inti. Dengan kata lain, kegiatan penciptaan nilai tambah sebetulnya hanya terjadi di negara-negara inti. Sehingga profit global hampir seluruhnya dinikmati oleh mereka.
Memang tidak semua negara Asia-Afrika terperangkap dalam posisi pinggiran dalam perputaran ekonomi dunia, misalnya negara-negara Macan Asia Timur –sebuah istilah fenomenal yang digunakan dalam Laporan Pembangunan Bank Dunia di tahun 1995– yang berhasil mengindustrialisasi ekonominya sehingga tumbuh dengan kecepatan tinggi. Sebagai contoh adalah Korea Selatan yang pada tahun 60-an PDB per kapitanya sama dengan Indonesia, tetapi kini sudah termasuk negara berpenghasilan tinggi dengan PDB enam kali lipatnya Indonesia.
Namun demikian, negara-negara Macan Asia Timur tersebut hanyalah pengecualian dari negara-negara Asia-Afrika lainnya. Sebagian besar negara Asia-Afrika belum beranjak dari kondisi mereka saat baru saja mendapatkan kemerdekaannya. Mereka masih berkubang dalam masalah pertumbuhan ekonomi yang rendah dan diperparah dengan ketimpangan pendapatan di dalam masayaraktnya, serta rendahnya daya saing dan produktivitas mereka. Sebagai contoh, di tengah globalisasi yang bergairah dan pertumbuhan sangat cepat di negara-negara emerging market seperti China dan India, PDB per kapita negara-negara sub-Sahara Afrika saat ini tidak jauh berbeda dengan PDB per kapita mereka di tahun 1980.
Disingkirkan
Salah satu teori yang dapat menjelaskan mengapa sebagian besar negara Asia-Afrika tidak bisa mengejar ketertinggalanya adalah teori “tangga pembangunan yang disingkirkan” dari ekonom Cambridge Ha-Joon Chang dalam bukunya Kicking Away the Ladder (2002). Menurut Chang, proses pembangunan negara-negara berkembang tidak pernah lepas dari interaksi dengan negara-negara maju, baik secara langsung melalui lembaga multilateral yang dibentuk oleh mereka. Interaksi tersebut cukup dominan dan dilakukan dalam berbagai bentuk baik bantuan, pinjaman, perjanjian dagang, maupun konsultasi.
Sayangnya, menurut Chang, apa yang dikatakan oleh negara maju kepada negara berkembang justru bertolak belakang dengan apa yang negara maju tersebut lakukan saat mereka sedang tumbuh awalnya. Dalam ungkapan Chang: “do what I told not what I did”. Sayangnya dalam hal ini posisi tawar negara berkembang berada dalam posisi yang lemah terhadap negara maju, sehingga mereka dengan terpaksa ataupun sukarela akhirnya mengikuti apa yang dikatakan.
Sebagai contoh adalah kebijakan pasar bebas yang mematikan industri negara berkembang yang baru tumbuh, sebab pasar bebas meniscayakan dua pemain yang levelnya jauh berbeda bertarung di arena yang sama. Begitu pula dengan resep-resep lain seperti deregulasi, penghapusan subsidi, maupun privatisasi. Sedangkan industrialisasi meniscayakan adanya proteksi, dukungan, dan bahkan campur tangan langsung pemerintah dalam bentuk perusahaan negara agar pemain-pemain kecil bisa tumbuh, dan itulah yang dilakukan oleh Amerika, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya saat mereka pertama kali membangun industrinya.
Yang membedakan negara-negara Macan Asia Timur dengan negara-negara Afrika menurut Chang ialah negara-negara Macan Asia Timur tidak mau mengikuti sepenuhnya resep-resep dari negara maju serta memilih menggunakan caranya sendiri, sedangkan negara-negara di Afrika lebih taat mengikuti apa yang dikatakan negara patronnya.
Peluang
Bagaimanapun juga peta kekuatan sudah berubah hari ini dibandingkan 60 tahun lalu. Situasi geopolitik tidak lagi unipolar dengan satu adidaya yang mendikte percaturan global, tetapi menjadi multipolar dengan munculnya kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Selain itu tren regionalisme pun makin menguat dan seolah menjadi titik keseimbangan baru di antara tarikan dua kutub lokalisme dan globalisme.
Situasi ini semestinya menjadi window of opportunity agar negara-negara berkembang mau melepaskan diri dari kebergantungan terhadap satu pihak, sehingga pola inti-pinggiran dalam ekonomi dunia bisa diakhiri. Salah satunya adalah dengan membangun tata hubungan ekonomi antar negara yang lebih egaliter dan seimbang. Jika negara-negara Asia-Afrika bisa bersinergi dengan lebih kuat maka mereka bisa menciptakan opsi-opsi sumber pendanaan pembangunan baru, atau membentuk opsi kerjasama perdagangan yang tidak mengikat mereka dengan syarat-syarat yang bisa melemahkan industrinya.
Kita berharap Peringatan KAA ini tidak menjadi seremonial semata, melainkan momentum agar negara-negara Asia Afrika mau menggunakan tangga pembangunannya sendiri seperti yang dilakukan negara-negara Macan Asia Timur sejak setengah abad lalu. Hanya dengan cara inilah gap pendapatan antara negara maju dan negara berkembang bisa dipersempit, sehingga kesenjangan global tidak lagi menjadi mimpi buruk kita.
Keterangan Penulis:
Penulis adalah analis ekonomi dan kebijakan publik.
(es/es)











































