Jika tidak ada halangan, rasanya bulan ini rakyat Indonesia sudah punya pemimpin baru. Presiden baru yang akan mengendalikan biduk negeri ini di lima tahun mendatang. Sebuah biduk yang sarat penduduk, sarat beban, sarat kepercayaan, sarat potensi, di tengah dunia global yang menuju asas humanisme universal.
Tatanan dunia baru membutuhkan solidaritas antar-bangsa. Penghargaan terhadap sesama adalah roh yang menafaskan sebagai sesama manusia yang hidup di dunia. Setidaknya itu kemasan yang memberi ruang bagi terjalinnya hubungan antar-negara, antar-bangsa, dan tentu antar-manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangsa yang akan eksis adalah bangsa yang berkebudayaan. Negara yang akan survival adalah yang lentur. Lentur bukanlah inferior. Juga jauh dari makna kata βmbebekβ, hanya mengikuti arus global. Lentur itu adalah pola pengambil keuntungan yang tidak merugikan pihak lain. Yang dalam strategi Jawa disitilahkan dengan βmenang ora ngasorake, kalah ora ngisin-isiniβ. Menang tidak merendahkan yang kalah, dan kalau kalah tidak malu-maluin.
Senjata menuju bangsa besar dan negara besar itu bukan bedil atau nuklir. Itu adalah diplomasi. Kemampuan berpikir strategis. Kejelian dan kepekaan terhadap yang terjadi (sidik paningale). Hingga lahir aksi yang bernuansa 'weruh sak durunge winaruh, weruh sak durunge winarah', tahu sebelum sesuatunya terjadi. Itulah kemampuan yang harus dimiliki presiden negeri ini mendatang. Dan juga harus mengilhami sebagian besar rakyat negeri ini.
Pilihan presiden yang digelar awal bulan ini telah memberi pengalaman baru bagi rakyat negeri ini. Rakyat disadarkan akan hak dan kewajibannya. Politik uang memang masih kental terlihat, tetapi tidak benar-benar mujarab membeli suaranya. Provokasi dan propaganda terbukti belum mampu membunuh nurani, kebenaran hakiki.
Teknologi informasi telah mengacak-acak kebenaran itu. Masing-masing capres mengklaim sebagai pemenang. Dengan perangkat lembaga survei dan media yang partisan, segalanya bias. Seakan semuanya unggul. Semuanya pilihan rakyat. Padahal di hati yang terdalam sama-sama merasakan siapa yang kalah dan siapa pemenangnya.
Kebenaran hakiki memang bukan wacana. Kebenaran itu universal. Bisa dirasakan, dan seharusnya tidak sulit didefinisikan. Adagium politik βkebenaran wajib diperjuangkan agar menjadi benarβ serasa mudah dilakukan. Itu jika nurani yang menjadi panglima, dan naluri sebagai pandomnya.
Namun jika itu tidak mengejawantah, maka risiko terbelahnya nasionalisme akan mengemuka. Konflik adalah konsekuensinya. Kondisi chaos yang mungkin berdarah-darah adalah bagian lain dari drama itu. Sebagai sebuah tragedi yang tidak diinginkan kita semua.
Kita yakin KPU akan mengumumkan hasil pilpres ini sesuai dengan βkebenaranβ itu. Berbagai lembaga telah ikut mengawal. Untuk menjamin, kebenaran yang mengendap di hati rakyat adalah kebenaran sejati. Kebenaran yang riuh jika hanya sekadar diperdebatkan, tetapi sejuk kalau diendapkan dalam hati yang terdalam.
Dalam tradisi Jawa yang otokratis, penguasa itu juga disebut kanjeng, kang jumeneng. Dia yang naik tahta sebagai penguasa. Kekuasaannya yang berasal dari rasi keluarga itu menyemai di hati rakyat kalau βsinuhun, susuhunan, sunanβ memberi tauladan keprawiraan dan kesusilaan. Dalam situasi chaos atau damai, raja dan pangeran yang mendapat legitimasi rakyat itu disebut sebagai pamong, pamomong. Pemangku, yang memangku jabatan pemimpin alam nyata dan alam batin, yang mampu membawa rakyat mengatasi segalanya.
Maka di tengah penantian menunggu datangnya sosok yang madeg keprabon, kita berharap bahwa presiden mendatang adalah figur yang berpikir jauh ke depan. Sebuah pikiran yang diperlukan untuk membawa negara dan bangsa ini memasuki Zaman Kalasuba, zaman kecemerlangan. Menjalankan tata pemerintahan yang adil dan berkeadilan. Membawa kesejahteraan rakyat. Menyiapkan bangsa dan negara ini eksis di percaturan global.
Akankah pengumuman pemenang pilihan presiden nanti akan disusul dengan kegaduhan? Saya yakin kok tidak. Dinamisme politik memang sedikit meninggi. Tapi itu tidak akan menyulut terjadinya geger kepati-pati. Ribut yang berlarut-larut. Insyaallah!
*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya. Penulis tinggal di Jakarta.
(nwk/nwk)











































