Pentingnya Menyadarkan Pendukung Kandidat Capres-Cawapres
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Pentingnya Menyadarkan Pendukung Kandidat Capres-Cawapres

Kamis, 17 Jul 2014 20:26 WIB
Amril Jambak
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Pentingnya Menyadarkan Pendukung Kandidat Capres-Cawapres
Jakarta - Pemilihan presiden (Pilpres) usailah sudah. 190.307.134 orang yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) sudah menyalurkan hak suaranya pada pencoblosan Pilpres 9 Juli 2014 lalu. Hingga saat ini belum ada data resmi persentase jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya dalam pilpres tersebut.

Penulis tidaklah fokus pada angka tersebut, karena angka pastinya akan diperoleh setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat mengumumkan hasil resmi pada 22 Juli mendatang (Senin, red).

Kita ketahui bersama, penghitungan cepat (quick count) pasca pencoblosan hasilnya beragam. Dimana quick count memenangkan dua pasangan capres-cawapres, yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Tentunya kemenangan ini dirayakan dengan sujud syukur oleh masing-masing pasangan, pendukung dan simpatisan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pastinya ini hasil yang sangat membingungkan bagi rakyat Indonesia. Bahkan di jejaringan sosial bermunculan macam-macam tanggapan lucu, salah satunya adalah: Demi keutuhan NKRI Setuju tidak klo Presiden 2014-2019 dibagi menjadi 2 shift. Pak Prabowo shift pagi dan Pak Jokowi shift malam. Jadi Rakyat dilayani 24 jam. Rasanya ini sudah banyak beredar di jejaringan sosial, seperti facebook dan lain sebagainya.

Jika dicermati dari bahasa tersebut, menurut pengamatan penulis, tulisan tersebut setidaknya menyadarkan kita untuk lebih bersikap arif dan bijaksana dalam mengarungi perjuangan yang dilakukan.

Khususnya kepada kandidat, pendukung dan simpatisan. Hendaknya menyadari bahwa rakyat Indonesia memiliki keinginan Negara Kesatuan Republik Indonesa (NKRI) utuh. Mereka tidak mau terkotak-kotak setelah pilpres digelar.

Yang pastinya, kita tetap bagian dari negara ini, kita tetap memiliki keinginan untuk tinggal di negara ini dan kita ingin merasakan kenyamanan dan kedamaian tinggal di negara yang kita cintai ini. Apa masih kurang?

Kalah menang hal yang biasa. Meskinya hal ini yang harus dikedepankan oleh dua pasangan capres-cawapres beserta pengikutnya. Diakui, menerima kekalahan memang tak semudah membalik telapak tangan. Hanya saja diperlukan kebesaran jiwa dan keikhlasan dalam menerima setiap kekalahan.

Sakit hati dan tak terima tentu saja ada dan akan terus membayangi jika tak segera diambil tindakan tegas. Bangkit dari kekalahan meskipun tidak mudah tetapi harus terus dilakukan agar rasa sakit dan tak terima segera terkalahkan. Berpikir positif dan mencari hikmah dalam suatu kekalahan merupakan langkah awal yang harus segera diambil. Karena didalam kekalahan menyimpan suatu kemenangan.

Terkait hal ini, semua rakyat memiliki kesepakatan di hati nurani mereka. Siapapun yang memenangi Pilpres melalui pengumuman resmi (real count) KPU Pusat pada 22 Juli mendatang, capres-cawapres tersebutlah yang memperoleh mandat dari rakyat.

Mungkin mereka tidak memilih capres-cawapres tersebut. Tapi mereka akan mengakui bahwa itulah capres-cawapres terpilih untuk periode lima tahun mendatang.

So, penulis memiliki harapan besar kepada capres-cawapres melakukan langkah antisipasi untuk menyadarkan pendukung dan simpatisannya untuk tidak berbuat anarkis serta tindakan yang melawan hukum negara ini.

Rasanya sudah tidak zamannya lagi kita melakukan 'perang' kala capres-cawapres yang didukung kalah. Lebih baiknya bagaimana kita mengontrol bersama-sama jalannya roda pemerintahan yang akan datang agar tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Bagi capres-cawapres yang memenangi pilpres, diharapkan tidak euforia atas kemenangannya. Karena capres-cawapres harus memikirkan bagaimana bangsa dan negara ini lebih baik sehingga kehidupan rakyat meningkat dari tahun ke tahun selama kepemimpinannya.

Buktikan komitmen untuk membangun negara ini dan jalankan visi dan misi yang telah didengung-dengungkan. Karena rakyat tidak butuh janji, yang dibutuhkan adalah bukti dari visi dan misi yang diusung.

*) Amril Jambak, peneliti Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads