Bersama Ciptakan Pemilu Presiden Bermartabat
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Bersama Ciptakan Pemilu Presiden Bermartabat

Rabu, 02 Jul 2014 16:57 WIB
Nursehan Prameswari
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Bersama Ciptakan Pemilu Presiden Bermartabat
Ilustrasi (Foto: dok detikcom)
Jakarta - Pemilihan Umum Presiden sudah di depan mata, tinggal menghitung hari untuk memilih pemimpin negeri ini 5 tahun ke depan. Pemilihan Presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia pada 9 Juli 2014 mendatang merupakan tugas berat yang harus dimaknai sebagai sebuah kegembiraan demokrasi bangsa ini untuk mengawalnya. Sukses tidaknya Pemilu 9 Juli berada di tangan masyarakat, masyarakat memiliki peran untuk menciptakan kedamaian bersama semua komponen yang terkait, baik langsung maupun tidak langsung dalam suksesnya Pilpres 9 Juli mendatang tanpa Golput, tanpa money politic dan kecurangan.

Semua pihak penting untuk selalu waspada dan bekerjasama dengan baik, mengingat sudah terjadi berbagai aksi dan tindakan yang sangat tidak terpuji belakangan ini, yang merusak dan mencoreng komitmen membangun demokrasi yang berkualitas, menciptakan pemilu damai, seperti kampanye hitam yang memfitnah dan menjelek–jelekkan calon presiden, yang berpotensi timbulnya konflik horisontal.

Berbagai kecemasan akan memuncaknya konflik dapat dipahami jika semua pihak tidak mengantisipasinya. Sekecil apapun potensi tersebut harus dicegah, untuk itu semua pihak khususnya stake holder Pemilu agar konsisten dan tegas serta adil menyikapi berbagai pristiwa-pristiwa tersebut, seperti yang terjadi di Yogyakarta, pecahnya bentrokan antara Gerakan Pemuda Kabah (GPK) yang merupakan organ underbouw PPP dengan massa PDIP.

Berkaca dari banyak negara di dunia ini, Indonesia merupakan salah satu yang sukses dan mendapat pujian banyak negara dalam menyelenggarakan pemilu. Dibanding beberapa negara lain yang melakukan pemilu dalam suasana teror dan mencekam karena terjadi kekacauan di masyarakat, Indonesia relatif damai dan kondusif dalam berpolitik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun bukan berarti ancaman konflik tidak ada, potensi tersebut tetap harus membuat kita waspada dan meningkatkan kebersamaan serta kerjasama yang lebih kuat lagi antara semua komponen masyarakat dalam menciptakan pemilu yang damai, tenang dan tanpa kekacauan politik.

Terciptanya pemilu yang damai, sebenarnya bagian dan wujud nyata karakter kita bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila sebagai dasar negara dan pijakan masyarakat dalam bermasyarakat sehari-hari serta diperkuat dengan nafas Bhinneka Tunggal Ika, walau berbeda-beda kita tetap satu, bangsa Indonesia, maka sudah seharusnya kita menghayati dan melaksanakan pesta demokrasi ini serta berbagai aktivitas dan tindakan dengan damai, santun dan bertitik tolak untuk kesejahteraan masyarakat secara jasamani dan rohani.

Sebagai negara dan bangsa yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip Pancasila serta Bhinneka Tunggal Ika, maka tanggungjawab kita bersama, baik masyarakat, pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya untuk merealisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika demi terwujudnya Indonesia yang damai.

Komisi Pemilihan Umum harus benar-benar menjaga netralitasnya, juga dengan semua pihak penyelenggara pemilu sampai kabupaten, kecamatan dan desa, harus benar-benar menjaga netralitas dan independennya, jangan ada upaya untuk memihak salah satu pihak, karena upaya pemihakan akan mencederai tujuan akhir dari pemilu ini.

Pihak media, sebagai pilar demokrasi lainnya, memiliki peran yang sangat vital menciptakan pemilu damai dan menciptakan kedamaian di masyarakat. Media harus cerdas dalam menayangkan berita-berita ke masyarakat. Harus memilah mana berita yang layak konsumsi mana berita yang tidak layak, jangan hanya gara-gara kejar rating dan keberpihakannya, maka semua berita-berita diturunkan yang ujungnya akan menciptakan ketidakstabilan situasi politik di masyarakat.

Aparat pemerintah, baik sipil maupun militer juga harus benar-benar netral, sebagai abdi negara. Sistem birokrasi harus netral, jangan menggunakan kekuatan sistem tersebut untuk memihak salah satu kandidat, karena akan merusak upaya menciptakan pemilu damai. Hal tersebut juga ditegaskan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman bagaimana agar pemilu dapat berjalan damai, menyatakan "Pemilih jangan sampai merasa bahwa Pemilu 9 Juli itu sesuatu yang meresahkan dan menakutkan. Mereka harus merasakan bahwa melalui pemilu ini, mereka punya harapan untuk kondisi Indonesia yang lebih baik".

Marciano juga meyakinkan kalau BIN berkomitmen untuk tetap bertindak profesional dan netral mengawal proses demokrasi ini. Menurutnya antisipasi sudah dilaksanakan optimal, masyarakat tidak usah ragu kepada intelijen, Polri, dan TNI dalam mendukung kesuksessan pemilu yang damai.

Kepala BIN juga mengingatkan pemilu kali ini, merupakan periode transisi yang akan menentukan Indonesia menjadi negara demokrasi ideal yang menjadi model bagi bangsa lain. Beliau mengakui, ada pihak-pihak yang menduga intelijen tidak netral, terlebih dengan adanya beberapa mantan kepala BIN yang menjadi tim sukses di setiap calon Presiden. “Saya berpihak kepada rakyat Indonesia untuk pemilu damai dalam wawancara Kompas, Rabu (25/6).

Pesan kepala BIN ini sangat penting untuk kita ingat bersama, bagaimana kita rayakan pesta demokrasi ini sebagai suatu pesta yang santai, tenang, santun dan damai, dalam suasana kegembiraan berdemokrasi agar tercipta pemilu yang damai dan bermartabat tanpa kekerasan, kecurangan dan money politic guna melahirkan pemimpin yang menjalankan amanat masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin Bangsa Indonesia.

Kita harus tunjukkan kepada dunia kalau Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia mampu melewati pesta demokrasi ini dengan baik dan tanpa kekerasan, kita harus mampu menepis banyak anggapan dan kekhawatiran kalau Pemilu 2014 ini akan terjadi konflik.

Namun tugas kita semua khususnya masyarakat yang harus mampu membuktikan, kalau kekhawatiran dan pendapat tersebut merupakan pendapat yang prematur, dan absurd, karena kita yakin akan mewujudkan Pemilu 2014 yang santun, damai, tenang dan sesuai dengan spirit pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita yakinkan semua pihak, kita yakinkan dunia internasional kalau kita masyarakat Indonesia siap mewujudkan pemilu yang damai. Apalagi Pemilu 2014 akan dilaksanakan dalam situasi bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Mari kita sampaikan pesan moral ini kepada masyarakat luas, sukseskan pemilu damai dan bermartabat sebagai bagian dari ibadah kita, sebagai upaya kita masyarakat Pancasila yang berkeyakinan untuk bersama-sama menciptakan keharmonisan dan kedamaian di hati, kedamaian di masyarakat dan kedamaian semua umat di dunia.

Untuk itu Pemilu damai dan bermartabat sebagai harga mati yang harus kita perjuangkan dan wujudkan, siapapun pemenangnya adalah saudara kita yang harus kita hormati dan bagi yang kalah juga merupakan saudara kita yang harus dihormati sebagai putra terbaik yang peran dan kontribusinya tetap harus diakomodir guna mensukseskan pembangunan nasional menuju masyarakat adil dan sejahtera.

*) Nursehan Prameswari adalah peneliti muda pada Lembaga Informasi Arus Demokrasi dan pemerhati masalah sosial politik.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads