Berita yang ada di Tabloid Obor Rakyat yang disebut banyak bernuansa menyinggung masalah suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) serta mengandung unsur fitnah, menjadi perbincangan tersendiri di tengah isu lain dan maraknya kampanye Pemilu Presiden 2014.
Tabloid yang beredar sampai tiga nomer dan tersebar di pesantren-pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu diakui banyak merugikan kubu calon Presiden Jokowi dan dianggap sebagai kampanye hitam. Untuk itu tim sukses Jokowi mengadukan Obor Rakyat ke polisi.
Apa yang dilakukan Obor Rakyat itu tentu merupakan sebuah strategi untuk mempengaruhi massa agar citra Jokowi jelek sehingga pemilih yang sebelumnya mendukung dia menjadi beralih ke calon lainnya. Dengan demikian apa yang dilakukan oleh Obor Rakyat itu merupakan upaya-upaya pihak lain agar Jokowi kalah. Pimred Obor Rakyat Setyardi Budiyono mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan dengan salah satu pihak dan semua ongkos cetak ditanggung sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat terus terang menjadi corong partai dan beritanya sangat berpihak, menjadikan tabloid-tabloid di atas menjadi tidak efektif sebab meski beritanya bagus dan benar namun kalau tabloidnya sudah dimiliki oleh satu golongan, membuat tabloid itu tidak dibaca masyarakat.
Sebagai media kampanye salah satu pihak, tak heran bila masyarakat lain tak percaya dengan apa yang disajikan sehingga berita dan media itu menjadi sampah di jalan-jalan. Masyarakat berpikir tabloid itu milik salah satu golongan maka beritanya pun sepihak. Sehingga pesan yang disampaikan oleh pengelola tabloid tidak akan sampai ke masyarakat.
Ketika metode media massa milik partai tidak efektif, sebab kehadirannya ditolak oleh pihak yang lain, maka partai politik yang ada saat ini mensiasati dengan menggunakan media massa milik orang lain atau membuat media massa dengan tidak menggunakan nama dan unsur partai. Cara seperti ini dianggap bisa mengelabui masyarakat sebab masyarakat awam melihat media massa itu di depan mata tak menunjukkan hubungan dengan salah satu pihak meski secara diam-diam dan secara halus adalah kepanjangan tangan dari salah satu partai.
Cara-cara seperti ini saat ini sangat marak. Media massa seperti televisi, koran, radio, tabloid, media online, yang sebelum kampanye Pemilu Presiden netral dan kritis kepada semua pihak namun begitu menjadi tim sukses salah satu calon Presiden, beritanya sangat partisan bahkan berubah menjadi media milik partai.
Setiap hari, media massa itu memuji-muji calon Presiden yang didukung dan menjelek-jelekkan calon Presiden rival. Akibatnya kalau dibaca, didengar, dan dilihat orang bisa beritanya bisa membuat perut menjadi mual dan telinga menjadi panas sebab kabar yang disebar propaganda dan sangat tendensius. Bahkan judul berita dan isinya tak beda jauh dengan Obor Rakyat.
Pemilu Presiden kali ini memang membuat orang semuanya menjadi emosional kepada salah satu pihak. Semuanya terbelah tanpa kecuali termasuk media massa. Bila banyak pihak mengkritik dan tidak menyukai Obor Rakyat yang sangat jelas sekali keberpihakkannya, lalu bagaimana sikap kita terhadap media massa terbitan nasional yang jelas-jelas sekali juga keberpihakkannya kepada salah satu calon Presiden?
Koran dan tabloid umum yang ada dan Obor Rakyat, saat ini sama-sama menjadi corong salah satu pihak, yang membedakan adalah Obor Rakyat tidak memiliki badan hukum dan alamat serta pengelola yang jelas, sehingga menempatkan Obor Rakyat menjadi media gelap. Bila Obor Rakyat memiliki badan hukum dan alamat yang jelas tentu keberadaannya sama dengan media resmi lainnya. Bisakah Obor Rakyat menjadi media resmi?
Bisa saja kalau memenuhi syarat untuk membuat usaha penerbitan yakni memiliki badan hukum dan alamat dan pengelola yang jelas. Bila Obor Rakyat sudah memenuhi syarat mendirikan usaha penerbitan maka Obor Rakyat tidak berbeda dengan koran dan tabloid saat ini, yakni membuat berita dengan sangat partisan dan tendesius. Jadi tidak ada bedanya antara Obor Rakyat dengan koran serta tabloid yang beredar saat ini, tidak bisa memberi kesejukan dan berita yang imbang.
*) Ardi Winangun adalah Pengamat Politik tinggal di Matraman, Jakarta Timur
(nwk/nwk)











































