Suasana demokrasi yang begitu indah, tentunya tidak didapatkan dengan mudah, tetapi lewat pengorbanan yang luar biasa. Banyak negara yang gagal dalam bertransformasi demokrasi.
Masih segar dalam ingatan kita bagaiamana perjuangan masyarakat di negara-negara Timur Tengah, seperti Suriah, Yaman, Irak, Mesir, dan seterusnya. Masyarakat di negara-negara tersebut mengalami keterpurukan dalam memperjuangkan demokrasi, dan sampai sekarang belum tuntas, bahkan dalam bulan Mei kemarin, perdana menteri Thailand dikudeta oleh militer. Sehingga transformasi demokrasi Indonesia yang indah dapat menjadi contoh dan prototype transformasi Negara berkembang menjadi Negara maju yang sangat layak dibanggakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asas Pemilu Luber dan Jurdil mengandung pengertian bahwa pemilihan umum harus diselenggarakan secara demokratis dan transparan, berdasarkan pada asas-asas pemilihan yang bersifat langsung, umum, bebasΒ danΒ rahasia,Β sertaΒ jujurΒ danΒ adil. Dengan pelaksanaan pemilihan pemimpin yang luber dan jurdil, akan menyebabkan terwujudnya kepemimpinan nasional yang berkesinambungan dan sekaligus menjamin terlahirnya pemimpin nasional yang berwujud atas kedaulatan bangsa dan rakyat secara keseluruhan. Dengan modal demokrasi yang demikian itu, akan mengantarkan rakyat Indonesia mencapai cita-cita nasional menjadi bangsa yang maju, sejahtera dan disegani dalam percaturan internasional.
Indonesia merupakan negara terbasar di wilayah ASEAN, sehingga pemilihan presiden di Indonesia, bukan hanya menjadi perhatian masyarakat dalam negeri Indonesia, ataupun hanya sebatas wilayah Asia Tenggara, tetapi juga menjadi sorotan dunia internasional. Karena kedudukan Indonesia sebagai negara ketiga demokrasi terbesar di dunia, negara muslim terbesar di dunia, dan juga karena merupakan negara terbesar keempat dalam segi jumlah penduduk, maupun karena menjadi negara terbesar kesepuluh dalam konteks, kekuatan ekonominya. Sehingga proses domokrasi dalam penentuan keputusan pemilihan presiden Republik Indonesia, juga menjadi perhatian dunia.
Ini semua tidak terlepas atas 3 isu utama dunia dewasa ini, yaitu: Demokratisasi, HAM (Hak Asasi Manusia), Lingkungan hidup. Sehingga dalam pemilihan presiden Republik Indonesia, seharusnya tetap memperhatikan arus isu global tersebut. Dengan demikian pertarungan perebutan posisi presiden Indonesia, yang akan digelar 9 Juli 2014 mendatang, tentunya menjadi sorotan dan perhatian dunia internasional. Kedua kandidat presiden dalam kampanyenya, juga tidak lepas dari ketiga isu-isu global tersebut.
Pertarungan perebutan posisi presiden Indonesia semakin sengit mendekati detik-detik pemilihan presiden. Ada 2 kandidat Presiden yang bertarung yaitu Joko Widodo berpasangan dengan HM Jusuf Kalla (Koalisi PDIP, NASDEM, PKB, HANURA) berhadapan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa (Koalisi Partai GERINDRA, GOLKAR, PAN, PPP, PKS).
Kedua calon presiden dan wakil presiden berkompetisi secara ketat. Karena keduanya memiliki grand issue yang berbeda dan sekaligus diyakini sebagai kedua kepentingan yang sangat besar dari mayoritas masyarakat dan rakyat Indonesia.
Jika Prabowo-Hatta, dalam menjual jargon-jargon politiknya memiliki keberpihakan yang sangat besar terhadap kelompok ekonomi menengah ke atas (yang mengusung kepentingan elit politik dengan big koalisinya). Sebaliknya pasangan Jokowi-JK memperjuangkan kelompok ekonomi menengah ke bawah (mengusung isu kerakyatan, dan sangat terkenal dengan gerakan blusukan).
Dalam kampanye kedua kontestan ini, kita saksikan beberapa isu mendasar seperti: sains dan teknologi, inovasi, pendanaan penelitian, kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, lapangan kerja, penerapan pajak dan isu lainnya, belum banyak mendapat perhatian, padahal isu-isu tersebut sangat berpengaruh terhadap keberpihakan para pemilih dan rakyat Indonesia.
Demikian pula, isu-isu internasional belum tersentuh dengan baik. Kedua kandidat belum memperlihatkan visi dan misi yang jelas yang bertujuan dan menyuarakan propaganda politik luar negeri Indonesia. Padahal isu kebijakan dan kerja sama internasional menjadi perhatian yang besar dalam era global dewasa ini.
Namun sepertinya Prabowo-Hatta akan mempertahankan kebijakan luar negeri yang sedang berlangsung, seperti: akan tetap menjaga hubungan baik dan harmonis dengan negara-negara di dunia, khususnya dengan membangkitkan semangat ASEAN, dan kerjasama selatan-selatan. Dan di lain pihak, Jokowi-JK akan semakin meningkatkan kerjasama dengan negara-negara Timur Tengah, hal ini karena posisi calon wakil presiden yang diusung oleh kubu Jokowi mempunyai kekuatan lobi dengan negara-negara Timur Tengah dan muslim.
Isu-isu global seperti HAM, pasar bebas, liberalisasi perdagangan internasional, serta isu lingkungan hidup belum tersentuh oleh kedua calon presiden tersebut. Sehingga lewat tulisan ini, kami mengimbau kepada kedua kontestan untuk selain isu-isu domestik, lokal, regional, perlu juga memaparkan visi internasionalnya.
Dengan pemaparan grand issue internasional dan politik luar negeri di atas, maka wajah Indonesia di mata dunia internasional, secara langsung ataupun tidak langsung akan mewarnai pertarungan global yang tidak bisa dihindari lagi. Demikian pula berharap, semoga pemilihan presiden akan memilih pemimpin nasional, yang mampu mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju serta disegani oleh dunia internasional, dan menjadikan Indonesia menjadi pemenang dalam pertarungan global.
*) Dr. Taruna Ikrar adalah akademisi di University of California, AS dan Wakil Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional
(nwk/nwk)











































