Slank Tidak Slenge'an
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Slank Tidak Slenge'an

Senin, 02 Jun 2014 14:51 WIB
Ardi Winangun
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Slank Tidak Slengean
Jakarta - Menjelang Kampanye dan Pemilu Presiden 2014, masing-masing tim sukses calon presiden menggaet sebanyak-banyaknya artis beken untuk menjadi bagian dari pendulang suara. Para pesohor di dunia seni itu diharap mampu mempengaruhi penggemarnya untuk memilih calon presiden sesuai dengan calon yang diusung para artis itu. Mereka diyakini mampu menjadi penarik suara yang dahsyat sebab tontonan mereka mampu menjadi tuntunan masyarakat.

Tak ada makan siang yang gratis, demikian ungkapan dalam dunia politik. Pun demikian para artis yang menjadi tim sukses itu tidak suka rela mendukung calon presiden yang diusung. Pastinya ada gemerincing uang yang membuat mereka mau menjadi tim sukses. Para artis itu berprinsip profesional. Ada uang, kontrak, dijalani, selesai.

Profesional artis yang demikian membuat mereka tidak menganggap penting apa visi dan misi calon presiden yang mengontrak dirinya menjadi tim sukses sehingga ketika mereka ditanya oleh wartawan alasan apa mereka mendukung calon presiden A, jawabannya datar atau bahkan terlalu emosional, tak menyentuh hati. Terlihat kepura-puraan mereka dalam dukungan. Wajar saja sebab dasarnya pragmatis bukan ideologi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sekian artis yang coba digaet untuk menjadi tim sukses calon presiden namun bisa bersikap kritis pada yang menawari baru Slank. Ketika Jokowi mengunjungi markas grup band yang berdiri pada 26 Desember 1983 itu, di Jl. Potlot, Jakarta, untuk mengajak menjadi tim suksesnya, ada pertemuan yang serius antara para personel dengan calon presiden yang diusung oleh PDIP, Nasdem, PKB, Hanura, dan PKPI, itu. Meski gaya grup musik yang sudah mengeluarkan puluhan album itu slenge’an, alias cengengesan dan semau gue, namun dalam masalah urusan bangsa dan negara mereka serius.

Bila artis lain yang menjadi tim sukses tak pusing dengan masukan dan harapan kepada calon presiden untuk Indonesia masa depan, Slank lain. Grup yang sudah banyak menerima penghargaan itu menyerahkan 46 nama calon menteri. Sodoran nama calon-calon menteri itu menunjukkan Slank berpikir bagaimana Indonesia ke depan lebih baik ditangani oleh orang-orang yang dirasa Slank mampu mengurai masalah itu. Nama yang disodorkan itu tentu nama yang sudah digodok jauh-jauh hari dan berdasarkan pengalaman Slank mengamati calon-calon menteri itu.

Sebagai grup musik yang konsisten dalam antikorupsi, reformis, nilai-nilai kemanusiaan, cinta, dan perdamaian, tentu Slank menyodorkan calon menteri yang bisa berbuat seperti itu. Tak mungkin grup band yang berlambang kupu-kupu itu menginginkan menteri yang tak sesuai dengan lagu-lagu yang dilantunkan.

Grup yang bergenre rock dan blues ini memiliki jutaan penggemar. Penggemar yang tersebar di banyak tempat itu disebut Slankers. Bagi artis yang sudah dikontrak oleh tim sukses calon presiden tentu dituntut agar memperngaruhi penggemarnya untuk memilih calon presiden yang diusung namun bagi Slank hal demikian tidak. Dukungan Slank kepada Jokowi masih sebatas dukungan moral dan Slank tidak mau berkampanye bagi mantan Wali Kota Solo itu (Koran Tempo, 28 Mei 2014).

Sebab berlandaskan dukungan moral maka dalam soal pilihan calon presiden, Slank mempersilahkan Slankers memilih sesuai dengan keinginan masing-masing. Sikap yang demikian membuktikan bahwa grup band ini selain bermoral juga tahu azas pemilu yakni Luber dan Jurdil.
 
Sikap Slank yang demikian menunjukkan bahwa masih ada seniman dan artis yang masih menjunjung idealisme dan taat aturan dalam pemilu. Sikap yang demikianlah yang patut diacungi jempol sebab saat ini banyak orang yang mempunyai kekuatan massa dan sarana untuk mempengaruhi massa terjebak pada upaya dukung mendukung.

Mereka yang selama ini netral dan berdiri di tengah-tengah masyarakat namun ketika ada iming-iming janji yang mengiurkan, baik cash atau setelah menang, berubah menjadi partisan. Akibatnya mengganggu pikiran masyarakat. Masyarakat menjadi bingung ketika panutan menjadi bagian dari salah satu kekuatan. Masyarakat bertanya, lho selama ini panutan itu menyerukan hal-hal yang baik kok sekarang berubah menjadi pencela dan pengumbar fitnah.

Tak ada larangan setiap warga negara berpolitik, mendukung calon presidennya, namun di sini yang perlu ditegaskan adalah bagaimana menjaga etika. Saat ini bisa jadi etika sudah lenyap sehingga sliweran yang muncul kata dan kalimat yang tidak etis. Tak hanya itu, muncul upaya penggiringan massa dengan mengedepankan tokoh masyarakat untuk menghalau para pemilih untuk memilih calon presiden yang diusung. Tokoh-tokoh itu dengan menjual sentimen keorganisasian dan kedaerahan ‘memaksa’ anggotanya turut pada mereka. Menyikapi yang demikian alangkah bijaknya mendengar apa yang dikatakan oleh Slank, pilihlah yang sesuai dengan keinginan masing-masing.

*) Ardi Winangun adalah pengamat politik, tinggal di Matraman, Jakarta Pusat.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads