Partai Demokrat Belajar Menjadi Partai
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Partai Demokrat Belajar Menjadi Partai

Senin, 26 Mei 2014 11:11 WIB
Ardi Winangun
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Partai Demokrat Belajar Menjadi Partai
Jakarta - Ketika partai politik sudah merapat ke kedua kubu calon presiden, Prabowo dan Jokowi, Partai Demokrat dengan santainya menyatakan sikap kenetralannya. Partai berlambang Mercy itu menyebut dirinya tidak ke Prabowo maupun Jokowi.
Β 
Sebagai partai yang bertarung dalam Pemilu Legislatif 2014, perolehan suara Partai Demokrat terjun bebas dibanding perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2009. Faktor banyaknya kader yang terlibat dalam tindak korupsi diduga sebagai faktor anjloknya suara. Meski suara pada pemilu tahun ini turun namun suara yang didulang masih terbilang lumayan, 12 juta pemilih, 11 persen, dan 61 kursi di DPR. Perolehan suara yang demikian menempatkan Partai Demokrat berada pada urutan 4 di bawah PDIP, Partai Golkar, dan Gerindra.

Dengan perolehan suara yang demikian membuat partai yang menggunakan seragam warna biru itu menjadi sasaran ajakan koalisi dari calon presiden, terutama Prabowo dan Aburizal Bakrie, namun entah kenapa ajakan itu tidak diiyakan atau disanggupi oleh Partai Demokrat. Keengganan partai itu berkoalisi bisa jadi karena tidak mempunyai nilai jual dari suara yang diperoleh dan rendahnya elektabilitas peserta konvensi.

Meski bukan sebagai pemenang pemilu, hanya berada pada peringkat ketiga, namun Gerindra bisa mengajukan Ketua Dewan Pembina Prabowo sebagai calon presiden. Hal demikian bisa terjadi sebab Prabowo mempunyai elektabilitas yang tinggi. Pun sebaliknya Partai Golkar yang mempunyai peluang mengusung kadernya sendiri menjadi calon presiden namun Ketua Umum Aburizal Bakrie tidak mempunyai elektabilitas membuat partai berlambang beringin itu rela tidak merealisasikan keputusan Munas yang mengamanatkan Aburizal sebagai calon presiden.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sini kuncinya adalah elektabiltas calon presiden bukan perolehan suara. Pada tahun 2004, perolehan suara Partai Demokrat tak besar namun SBY memiliki elektabilitas yang tinggi sehingga banyak partai merapat ke Partai Demokrat. Di tahun 2009, partai ini menjadi pemenang dan elektabilitas SBY tinggi sehingga pemilu tahun itu dahsyat bagi Partai Demokrat dan SBY. Hal demikian sekarang tidak dimiliki oleh Partai Demokrat dan SBY.Partai Demokrat memilih sikap netral bisa pula disebabkan karena Ketua Umum SBY tidak merasa nyaman berada di kubu Jokowi dan Prabowo. Entah karena alasan politis, dendam sejarah, atau tawaran kursi yang belum disepakati.

Mengambil sikap netral bagi sebagian orang bisa jadi dianggap yang tepat, menunjukkan sikap arif, namun sikap netral yang ditempuh Partai Demokrat mengingkari definisi dan pengertian akan arti partai politik. Guru besar ilmu politik semacam Carl J Friendrich, RH Soltou, Sigmund Neumann, menarik garis kesimpulan yang sama bahwa partai politik adalah kumpulan orang yang terorganisasi yang bertujuan meraih dan mempertahankan kekuasaan yang selanjutnya mengelola kekuasaan. Simak apa yang dikatakan, Soltou, partai politik adalah sekelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisir yang bertindak sebagai satu kesatuan politik yang dengan memanfaatkan pemilih bertujuan menguasai pemerintah dan melaksanakan kebijakan umum mereka.

Dengan pengertian di atas partai politik harus aktif mempengaruhi dan menggalang dukungan dari rakyat agar mampu memperoleh dukungan dalam pemilu yang konstitusional yang selanjutnya partai itu memperjuangkan aspirasi mereka. Bila Partai Demokrat menyatakan netral berarti secara logika Partai Demokrat menyimpang dari logika definisi dan maksud dari partai politik.

Rakyat sekarang menginginkan seorang calon presiden yang mampu membawa Indonesia yang lebih baik. Tentu Partai Demokrat bisa membaca dan menganalisa mana calon presiden yang demikian. Aspirasi pemilih yang disalurkan kepada Partai Demokrat seharusnya diteruskan dengan mendukung salah satu calon presiden yang dirasa akan membawa Indonesia ke alam yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya.

Bila Partai Demokrat tidak menentukan siapa calon presiden yang didukung, dirinya selain tidak memfungsikan dirinya seperti definisi di atas juga melakukan penyumbatan aspirasi rakyat. Selain aspirasi rakyat tidak disalurkan juga akan menimbulkan keengganan pendukung Partai Demokrat pergi ke bilik suara alias golput. Jadi Partai Demokrat sebagai partai yang pernah berkuasa harus memberi contoh yang baik kepada masyarakat.

Sikap Partai Demokrat yang mengambil jalan netral atau tidak memihak kepada salah satu calon presiden bisa jadi menunjukkan sikap kekanak-kanakan. Apa yang dimaui harus dituruti. Menyikapi sikap kekanak-kanakan Partai Demokrat, kita memaklumi saja sebab partai ini baru berumur sepuluh tahun. Umur 10 tahun kalau pada manusia ia masih terbilang anak-anak, tak heran bila sikapnya masih seperti itu.

Sikap Partai Demokrat yang demikian merupakan proses perjalanan waktu bagi Partai Demokrat untuk menjadi partai. Asam dan garam yang dirasakan kelak akan membuat Partai Demokrat ke depannya lebih matang. Saat ini partai ini masih goyang kanan, goyang kiri, kadang menjadi partai, kadang menjadi ormas. Saat ini Partai Demokrat seperti ormas kebanyakan yang menyatakan netral dalam Pemilu Presiden.

*) Ardi Winangun adalah pengamat politik, tinggal di Matraman, Jakarta Timur.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads