Prabowo vs Jokowi, Pertarungan Persepsi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Prabowo vs Jokowi, Pertarungan Persepsi

Jumat, 23 Mei 2014 20:28 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Prabowo vs Jokowi, Pertarungan Persepsi
Jakarta -

Akhirnya jelas sudah. Hanya ada dua pasangan, Joko Widodo-M. Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang akan bersaing untuk memperebutkan posisi Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019. Di belakang mereka mengekor gerbong partai politik peserta pemilu yang relatif gemuk. Pertanyaan menarik untuk diperhatikan adalah pertarungan seperti apa yang akan disajikan oleh kedua pasangan ini?

Dalam politik, kita mengenal istilah pencitraan untuk merekayasa persepsi publik. Cara ini sah dan wajar saja, karena dalam pertarungan politik, seseorang diuji kemampuannya untuk bisa meyakinkan publik dan publik memilih berdasarkan persepsi yang terbentuk.

Pertarungan persepsi ini bukan hal baru dalam demokrasi, apalagi di era internet sekarang ini. Di Amerika Serikat bahkan sudah pernah digelar debat ‘live’ pertama di dunia melalui media televisi pada 26 September 1960. Saat itu, John F. Kennedy mampu memberikan persepsi sebagai sosok energik, muda, dan segar gagasan. Sebaliknya Richard M. Nixon karena usianya sudah relatif tua dan baru keluar dari rumah sakit, terpersepsikan sebagai sosok tua, pilu, dan tidak bersemangat. Singkat cerita, fenomena telepolitics ini mengantarkan Kennedy ke Gedung Putih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia benar-benar menikmati gelombang ‘politik media’ sejak pemilu 2009 dan semakin berkembang pada pemilu tahun ini. Keberadaan media arus utama seperti televisi sebagai ‘alat rekayasa persepsi’ ternyata dirasakan memberi hasil cukup baik pada beberapa partai atau dinamika media sosial dalam masyarakat urban, yang memicu diskusi hangat setiap saat mengenai politik.

Saya memahami bahwa persepsi yang diharapkan diterima oleh publik bisa direkayasa sedemikian rupa sehingga menarik simpati. Begitu juga para calon Presiden dan Wakil Presiden ini, mereka tentu dengan sadar memunculkan kesan tertentu untuk bisa meyakinkan pilihan publik. Jokowi-Jusuf Kalla menampilkan persepsi karakter, sedangkan Prabowo-Hatta Rajasa menampilkan persepsi intelektual. Tentu dengan catatan, bukan berarti Jokowi-Jusuf Kalla tidak intelek atau Prabowo-Hatta Rajasa tidak berkarakter, tapi ini menjelaskan tentang persepsi utama apa yang mereka tonjolkan.

Persepsi karakter adalah pencitraan yang berkaitan dengan sifat, karakter, atau perilaku tertentu. Biasanya seorang kandidat memunculkan citra yang dekat dengan rakyat, memiliki kebiasaan yang tidak berbeda dengan rakyat pada umumnya, atau sifat tertentu yang kini disenangi oleh publik seperti cepat bertindak, tidak banyak wacana, dan terbuka. Persepsi ini melekat pada Jokowi-Jusuf Kalla.

Sedangkan persepsi intelektual dikedepankan oleh pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Sejak masa kampanye legislatif lalu, Prabowo dengan Partai Gerindranya selalu mengkampanyekan 6 program aksi partai berlambang garuda tersebut. Ia mencoba mengajak publik berdiskusi dengan gagasan dan ide yang mereka nilai cocok untuk membangun Indonesia. Pun Hatta Rajasa yang dikenal sebagai pengusung MP3EI di Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan SBY-Boediono. Hatta juga banyak berbicara tentang ekonomi di berbagai forum nasional maupun internasional. Secara sistemik, kedua orang ini menonjolkan sisi intelektual mereka ketimbang sisi karakternya.

Dalam sejarah demokrasi, popularitas bisa didapatkan dari akumulasi karakter maupun intelektual. Contohnya, Kennedy yang cenderung persepsi karakter dan Obama yang cenderung persepsi intelektual. Artinya, untuk menjadi pemimpin populer, seorang bisa memilih ingin menonjolkan persepsi yang mana.

Pertarungan persepsi ini bisa jadi adalah sebuah fenomena baru dalam demokrasi Indonesia. Sebuah tahapan baru pasca demokrasi pragmatis-transaksional. Bagi para pelaku demokrasi, saya kira arena persepsi ini bukan hal mudah untuk dikelola, peran media akan semakin sangat penting dalam memainkan persepsi publik. Maka, sangat wajar, bila para pakar menempatkan media sebagai pilar keempat demokrasi.

Pada akhirnya rakyat Indonesia yang akan membuktikan persepsi mana yang dapat efektif menyentuh mereka, apakah karakter atau intelektual?

Keterangan Penulis:
Penulis adalah pemerhati ekonomi politik dan co-founder Bandung Strategic Leadership Forum (BSLF)

(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads