Salah satu bukti menguatnya perekonomian nasional adalah dilansirnya data Bank Indonesia per 7 Maret 2014 menyebutkan, cadangan devisa pada akhir Februari 2014 diperkirakan mencapai kisaran US$102 miliar. Angka tersebut naik dari posisi sebelumnya yang hanya sebesar US$100,6 miliar. Kenaikan tersebut dikarenakan kondisi perekonomian secara keseluruhan lebih bagus dari bulan sebelumnya. Oleh sebab itu, aliran modal masuk (capital inflow) lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Tercatat aliran modal yang masuk dalam bentuk surat utang negara (SUN) sebesar Rp36 triliun, akibat ada kepercayaan pelaku usaha terhadap pasar keuangan di dalam negeri. Di samping itu, nilai tukar rupiah menguat cukup stabil atau lebih baik dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Hal ini terjadi seiring dengan penurunan defisit transaksi berjalan atau current account deficit. Sedangkan cadangan devisa per 31 Desember 2013 sebesar US$99,3 miliar dan naik menjadi US$100,65 miliar pada akhir Januari 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun beberapa pengamat dalam negeri berpendapat, meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat karena tren dolar index jatuh, namun ruang penguatan rupiah semakin terbatas. Cadangan devisa yang diumumkan naik menambah ekspektasi penguatan rupiah. Akibat pelemahan dolar AS yang berlanjut, seluruh mata uang di Asia juga menguat tajam. Namun perlu diwaspadai terkait data penyerapan tenaga kerja AS yang membaik melebih ekspektasi, sehingga akan membuat kondisi seketika berbalik.
Data Bloomberg Dollar Index menyebutkan, pada perdagangan non-delivery forward (NDF) Rupiah dibuka menguat 32 poin atau 0,28% ke posisi Rp11.549 per dolar AS dari sebelumnya Rp11.586 per dolar AS. Arus modal asing yang terus masuk menandakan optimisme yang begitu tinggi, bahkan sentimen negatif dari neraca perdagangan Januari 2014 yang defisit hampir tidak terlihat.
Hampir semua mata uang di Asia juga menguat terhadap dolar AS. Sementara itu, dapat diterjemahkan juga bahwa laju nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menguat, bahkan lebih tinggi dari pencapaian di awal pekan. Hal tersebut setelah dipicu kembali meningkatnya aksi beli pelaku pasar terhadap aset-aset berisiko, termasuk rupiah.
Masih Ada Ancaman dan Tantangan
Pasca pelaksanaan Pemilu 2014, khususnya memasuki tahun 2015 mau tidak mau Indonesia akan masuk dalam tahap penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC), sehingga tahap ini jelas menghasilkan ancaman sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia untuk tetap eksis ke depan.
Menurut pengamat tenaga kerja dari Universitas Krisna Dwipayana, Payaman Simanjuntak menilai, kesiapan tenaga kerja nasional dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 masih kurang. Tenaga kerja nasional diperkirakan hanya akan unggul di beberapa jenis pekerjaan kategori berkemahiran rendah dan tidak berkemahiran (unskilled labour).
Rendahnya daya saing tenaga kerja nasional dapat dilihat dari penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri yang hanya dapat memperoleh pekerjaan pada level kemahiran rendah dan sedang (low skill & middle skill). Menurut Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Reyna Usman mengatakan, pemerintah sedang menyiapkan aturan untuk mengklasifikasi jenis pekerjaan yang boleh dijabat oleh tenaga kerja asing sebagai upaya melindungi tenaga kerja lokal saat implementasi MEA 2015.
Implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015 dapat mengurangi serapan tenaga kerja dalam negeri, karena pengusaha Indonesia kemungkinan lebih memilih pekerja asing dari ASEAN yang dinilai lebih produktif dan menguntungkan, hal ini disebabkan karena kemampuan tenaga kerja Indonesia bersifat generalist atau tidak memiliki keahlian khusus, padahal sebagian besar perusahaan internasional lebih menghargai SDM yang berspesifikasi (human resources specialists).
Pelaksanaan MEA juga diprediksikan banyak kalangan akan mengancam pasar tenaga kerja Indonesia, karena tingkat pendidikan masih rendah. Hanya 9,8% warga Indonesia lulusan perguruan tinggi, sedangkan 40% lebih didominasi lulusan SD hingga SMP dan SMA. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah kesenjangan keterampilan tenaga kerja, pemerintah harus segera meningkatkan pelatihan keterampilan. Jika perlu, pusat pelatihan harus tersedia di setiap wilayah administrasi tingkat rukun tetangga dan rukun warga (RT/RW). Dengan demikian, akan ada peningkatan kompetensi terhadap tenaga kerja Indonesia.
Di samping adanya potensi ancaman terkait pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015, di sisi yang lainnya juga menimbulkan tantangan dan peluang tersendiri yaitu:
Pertama, masyarakat Indonesia harus segera memicu reformasi birokrasi baik di bidang pelayanan, birokrasi pemerintahan sampai kepada birokrasi pertahanan dan keamanan, karena perkembangan ekonomi nasional yang semakin baik membutuhkan alat dan sistem pertahanan yang memadai. Oleh karena itu, sudah tidak dapat ditolerir adanya upaya-upaya KKN ataupun mark up terkait reformasi birokrasi dalam segala aspeknya ini. Inilah tantangan berat kita bagaimana menghapus “moral hazard” yang diakui atau tidak, tumbuh di berbagai kalangan menjadi energi positif untuk mendukung pembangunan.
Kedua, keberhasilan dan kelancaran Pemilu 2014 menjadi sebuah keniscayaan, harga mati dan tidak dapat ditawar-tawar. Sehingga pihak manapun baik asing terutama dalam negeri yang mencoba untuk memboikot Pemilu atau menggagalkan Pemilu harus ditindak secara tegas, karena sudah masuk kategori subversi politik dan musuh negara atau 'enemy of the state'. Dengan landasan pemikiran yaitu kegagalan Pemilu 2014 tidak hanya membuat setback situasi dan kondisi politik di dalam negeri, namun juga dapat mengembalikan lagi masa-masa Indonesia di bawah rezim otoriter, dan tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan “political turbulence” yang dapat berpengaruh pada kawasan-kawasan lainnya.
Sehingga tampaknya peran asing untuk menggagalkan Pemilu 2014 sangat kecil, karena kekacauan di Indonesia akan merugikan mereka. Kemungkinan besar, kepentingan asing dalam Pemilu 2014 adalah menjaga aset dan investasi yang sudah banyak ditanam agar tidak terganggu.
*) Toni Sudibyo adalah peneliti di Forum Dialog (Fordial), Jakarta.
(nwk/nwk)











































