Sosialisasi Pemilu, Apa Sudah Menyentuh Rakyat?
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Sosialisasi Pemilu, Apa Sudah Menyentuh Rakyat?

Senin, 03 Mar 2014 15:35 WIB
Suhendro
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Sosialisasi Pemilu, Apa Sudah Menyentuh Rakyat?
Jakarta - Menjelang Pemilu 2014 banyak ormas berupaya mengajak masyarakat untuk ikut dalam menyampaikan hak suaranya, hal ini disampaikan baik melalui temu ramah maupun lewat spanduk ajakan ikut Pemilu 2014. Terkait kemungkinan terjadinya situasi yang rawan dalam Pemilu 2014 ini disampaikan bahwa hal tersebut kemungkinannya cukup kecil, mengingat tingkat kepedulian masyarakat saat ini terhadap pemilu sangat kurang, bahkan bisa dikatakan tidak peduli.

Seandainya ada kepedulian hanya di tingkat internal parpol saja yang penuh dengan kepentingan. Ketidakpedulian masyarakat terhadap pemilu dapat dilihat dari beberapa pemilu maupun pilkada walikota dan bupati. Penyebab hal itu terjadi bisa dikarenakan oleh beberapa hal yaitu antara lain, tidak adanya caleg yang menjadi pilihan, tidak dikenal atau tidak layak untuk dipilih.

Manfaat pemilu secara nyata bagi masyarakat saat ini tidak banyak merubah nasib atau kehidupannya. Sosialisasi para calon yang salah, yaitu tidak menyentuh atau memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, hanya sebatas memajang foto atau gambar dan membagi-bagikan barang dan sejumlah uang supaya dipilih. Sering terjadi politik uang, sehingga terbentuk sikap dalam masyarakat, mau menyampaikan hak pilihnya apabila ada yang mau membayar, kalau tidak mereka malas untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu dalam Pemilu juga masih terdapat kecurangan dari penyelenggara di tingkat Panitia Pemungutan Suara (PPS) atau Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan bahkan KPU itu sendiri. Dengan situasi dan kondisi seperti sekarang ini, ajakan atau sosialisasi kepada masyarakat untuk memberikan hak suaranya dan datang ke TPS perlu dibuat metode yang tidak hanya sekedar mengajak, tetapi memberikan rangsangan agar keinginan masyarakat bisa timbul seperti contoh dengan mengadakan acara 'lucky draw' di TPS, melakukan undian berhadiah yaitu surat undangan pemilih (C-6) diundi untuk mendapatkan hadiah yang menarik, metode seperti ini bisa di sosialisaikan mulai dari KPU sampai ke tingkat PPS, sehingga bisa menekan angka golput.

Tingkat kepedulian masyarakat terhadap Pemilu 2014 dan metode sosialisasi yang dilakukan oleh berbagai pihak terkait, sejauh ini masih belum merubah opini dan animo masyarakat pemilu tidak memberikan perubahan buat kehidupan masyarakat. Mendorong pihak penyelenggara, peserta dan pemda serta tokoh masyarakat untuk melakukan sosialisasi pentingnya pemilu 2014 dengan metode yang lebih menarik dan realistis.

Gagasan agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram terhadap 'Money Politik' merupakan salah satu upaya meminimalisir potensi pelanggaran yang mungkin muncul dalam pelaksanaan sosialisasi/kampanye para caleg dan parpol. Dalam kaitan sosialisasi tebatas yang dilakukan oleh para caleg maupun parpol, perlu adanya keterlibatan MUI yang diharapkan dapat memberikan dorongan moral, dengan memberi fatwa tentang keharaman politik uang, karena baik yang memberi dan menerima sama-sama merusak karakter bangsa.

Caleg peserta Pemilu yang melakukan pelanggaran juga harusnya ditindak tegas oleh Penyelenggara Pemilu. Masyarakat juga wajib berpartisipasi menyukseskan Pemilu Legislatif 9 April 2014, sebab hasil Pemilu dapat mempengaruhi nasib bangsa Indonesia lima tahun ke depan. Masyarakat diminta untuk tidak golput namun justru memilih pemimpin yang cerdas berkualitas.

Perlunya KPU meningkatkan sosialisasi dan penyebaran informasi teknis pencoblosan di tempat pemungutan suara (TPS) ke tengah masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat memiliki semangat datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya. Program yang dijalankan oleh KPU untuk meningkatkan partisipasi pemilih sudah bagus yaitu adanya Relawan Demokrasi (Relasi), namun faktanya kegiatan Relasi hingga saat ini belum berjalan dengan baik dan tidak menyentuh ke seluruh lapisan masyarakat terutama petani, padahal mereka memiliki keinginan memilih cukup tinggi.

Sangat disayangkan apabila keinginan memilih masyarakat tidak dibarengi dengan pengetahuan teknis pencoblosan di TPS, sehingga bisa saja mereka melakukan kesalahan dalam pencoblosan surat suara dan suara mereka dianggap tidak sah. Dalam sosialsasi Pemilu Legislatif 2014 akan menekankan tentang pentingnya pemilu bagi masyarakat, dan fokus sosialisasi agar bisa meminimalisasi money politic.

Sosialisasi meminimalisasi money politic dalam Pemilu 2014 telah ditekankan kepada relawan demokrasi. Dalam sosialisasi sasarannya di lima kelompok masyarakat, dengan memfokuskan masalah money politic tersebut, dengan menyadarkan bagaimana pentingnya pemilu bagi keberlangsungan demokrasi dan bangsa.

Relawan Demokrasi yang dibentuk oleh KPU terbagi menjadi 5 segmen yaitu segmen pemilih pemula, segmen kelompok agama, segmen kelompok perempuan, segmen penyandang disabilitas dan segmen kelompok pinggiran/marginal. Sejauh ini, mereka telah melakukan tupoksinya mensosialisasikan pemilu ke masing-masing segmen untuk menekan angka golput.

Diharapkan sosialisasi yang gencar bisa membuat Pemilu 2014 di seluruh Indonesia, baik secara kualitas dan kuantitas. Selain itu, meminta penyelenggara pemilu lebih intensif mensosialisasikan pemilu kepada para pemilih pemula, karena masih ada yang belum paham apa arti sebuah suara yang akan diberikan dalam pemilu.

Marilah untuk bergandengan tangan membangun dan mensukseskan semua kegiatan pemerintah. Salah satunya bergandengan tangan mensukseskan Pemilu. Mensuskseskan Pemilu berarti masyarakat aktif mendatangi TPS-TPS untuk memberikan suaranya dan tidak golput. Masyarakat harus turut serta menjaga ketertiban dan keamanan menjelang dan setelah pelaksanaan Pemilu 2014. Pesan penulis, INGAT 9 April 2014, jadilah pemilih yang cerdas, bangunlah Negeri ini dengan sikap politik yang bijak dan cerdas tanpa anarkis.

*) Suhendro adalah pengamat dan pemerhati masalah bangsa

(nwk/nwk)


Berita Terkait