Tulisan ini mencoba memberikan tantangan kepada Presiden terpilih pasca pesta demokrasi medio 2014 nanti. Tantangan tersebut berupa bagaimana agar Indonesia bisa secara de facto dan de jure menjadi pemimpin kawasan, khususnya di Asia Tenggara. Apalagi dengan dicanangkannya ASEAN Community di 2015, yang seharusnya membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi pemain penentu, bukan sekadar pengikut dari arus negosiasi yang ada. Kita tidak sedang berbicara tentang Indonesia menjadi Ketua ASEAN, tapi tentang Indonesia menjadi kunci penentu dari kontestasi geopolitik dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.
Setidaknya ada 4 pra-syarat kekuatan agar Indonesia bisa menjadi negara adidaya dan berpengaruh, dalam hal ini dari konteks Indonesia terhadap dinamika Asia Tenggara. Pertama, kekuatan demografi. Indonesia telah diuntungkan oleh baby booming yang akan meningkatkan jumlah penduduk muda produktif hingga 2025. Sejarah mencatat, negara akan kuat bila memiliki jumlah penduduk yang cukup untuk menggerakkan roda ekonomi dan juga memberikan kekuatan pada militernya. Fakta ini telah dibuktikan oleh Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina (RRC). Akan tetapi, bila berbicara tentang demografi, kita tidak akan hanya berbicara dalam konteks jumlah penduduk, namun juga kualitas penduduk tersebut untuk berdaya saing. Indonesia -dalam hal ini- perlu bekerja keras dalam meningkatkan kapasitas intelektual dan daya saing penduduknya secara merata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga, daya saing konektifitas. Isu mahal dan lambatnya alur rantai pasok barang dan manusia Indonesia sudah menjadi masalah besar dalam meningkatkan leverage Indonesia dalam persaingan ekonomi dunia. Untuk itu, pembangunan infrastruktur logistik ini perlu menjadi titik tekan, baik di dalam Indonesia maupun hubungan Indonesia dengan negara tetangga. Diharapkan dengan perbaikan alur logistik ini bisa membuat biaya barang lebih murah dan akses antar kota/pulau lebih terjamin reliabilitasnya.
Keempat, tentang kepemimpinan. Ke depan, kita perlu pemimpin yang bisa mempengaruhi kebijakan global. Ia adalah sosok yang memiliki visi internasional dan juga mampu meningkatkan kebanggaan rakyat Indonesia terhadap Indonesia itu sendiri. Saya kira, Indonesia belum bisa dikatakan sukses di pentas dunia hanya dengan pernah jadi Ketua ASEAN (yang dipilih secara bergilir), menjadi tuan rumah APEC, dan menghadiri pertemuan-pertemuan di forum G-20. Indonesia sejatinya punya segala pra-syarat untuk menentukan arah musim ekonomi politik global. Tentu dengan catatan, diperlukan pemimpin yang memang memiliki kapasitas untuk menjadi wajah Indonesia di dunia.
Setelah 15 tahun pasca transisi demokrasi, sudah saatnya Indonesia berpikir lebih maju. Berbicara pemimpin kawasan bukan berarti meninggalkan kepentingan rakyat Indonesia. Justru, kita sedang menantang bagaimana kawasan Asia Tenggara bisa menjadi tempat bagi rakyat Indonesia untuk bisa hidup, berkehidupan, bahkan memberikan kehidupan bagi banyak orang. Indonesia telah memiliki semua pra-syarat untuk menjadi negara kuat. Hanya, ada satu hal yang belum dimiliki Indonesia untuk menyempurnakan upaya meningkatkan leverage-nya, yaitu pemimpin yang memiliki visi dan kapasitas besar.
Keterangan: Penulis adalah pemerhati Ekonomi Politik (es/es)











































