22 Desember, Sebuah Pleidoi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

22 Desember, Sebuah Pleidoi

Jumat, 27 Des 2013 18:53 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
22 Desember, Sebuah Pleidoi
Den Haag - Hari 22 Desember, ditinjau dari berbagai aspek sangat jauh berbeda dan tidak bisa disamakan dengan Hari Ibu sebagaimana di Amerika dan Eropa Barat, yang umumnya dirayakan pada "hari Minggu/Ahad kedua tiap bulan Mei". Hari Ibu yang diprakarsai oleh Anna Jarvis (1907) ini memang khusus untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa individu seorang Ibu. Kegiatannya pun latah, dari Utah sampai Den Haag, dari Milwaukee sampai Merauke sama seragam: pada hari itu Ibu dimanjakan, mendapat bouquet bunga, kartu ucapan, cadeau, dsb. Dalam masyarakat di mana kesakralan orangtua kurang penting, Hari Ibu seperti itu diperlukan sebagai semacam kompensasi. Esoknya kembali ke rutinitas biasa. Lalu di manakah nilai tambah dari Hari Ibu ala Anna Jarvis ini? Tak lebih istimewa dari hari ulang tahun seorang Ibu, bukan? Bahkan ia kehilangan aktualitasnya ketika Ibu ulang tahun berdekatan dengan Hari Ibu.

Tapi hari 22 Desember jauh lebih hebat dari gagasan Anna Jarvis itu. Hari 22 Desember adalah hari pergerakan untuk seluruh perempuan Indonesia, bukan hanya untuk kaum Ibu. Hari 22 Desember, yang berakar dari Vrouwencongres (Kongres Perempuan) di Gedung Dalem Tayadipuran, Yogyakarta, 1928, adalah hari perjuangan untuk memajukan dan meningkatkan posisi perempuan Indonesia di bidang sosial, ekonomi dan politik. Pada kongres hampir satu abad silam itu, isu-isu berikut ini sudah menjadi perhatian: pembentukan beasiswa pendidikan untuk remaja perempuan, mendesak pemerintah agar membuat kebijakan dana tanggungan untuk janda dan anak-anak yatim, membentuk satu federasi untuk seluruh perempuan Indonesia, menerbitkan majalah, disuarakan dalam kongres oleh Roekoen Waloejo (Batavia), Panti Krido Wanito (Pekalongan), Jong-Islamieten Bond, Fatayat NU dan Aisjijah. (Harian sore Het Vaderland, Selasa 22/01/1929)

Hari 22 Desember adalah hari solidaritas sesama perempuan Indonesia. Pada kongres berikutnya kegiatan dan isu-isu yang menjadi perhatian antara lain: perempuan dan pendidikan, perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, perempuan dan hak-haknya di era modern, perempuan dan agama, perempuan dan negara, perempuan dan kasih sayang, perempuan dan ibu, dll. Perhatikan: perempuan dan ibu. Ibu dalam semangat 22 Desember 1928 adalah sebuah noktah saja dari universum perempuan. Pada 1956, mereka telah mengangkat isu perempuan dan karir, mendesak pemerintah agar memperhatikan kenyamanan pekerja perempuan baik di lingkungan pemerintah maupun swasta, melindungi mereka dari pelanggaran norma-norma kesopanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian besar dari isu-isu itu bahkan masih sangat relevan sampai sekarang. Jikalau semangat perjuangan perempuan Indonesia itu tidak mengalami distorsi dan terdegradasi menjadi sekadar "pesta dan perhatian untuk Ibu", maka seharusnya 22 Desember itu selalu dijadikan momentum baru untuk isu-isu perempuan kekinian: bagaimana posisi perempuan di politik yang sudah diperjuangkan dengan susah payah sejak 1928 itu tidak menjadi nista dan dinodai oleh perempuan-perempuan koruptor, membela dan memperhatikan nasib perempuan pekerja, bahkan sampai edukasi bagaimana perempuan menjadi Ibu yang baik dan banyak lagi isu-isu perempuan lainnya. Fokusnya perempuan, perempuan dan perempuan. Perempuan lebih bermakna inklusif, sebaliknya Ibu lebih eksklusif. Perempuan yang bukan Ibu seperti tersisihkan. Itu bukan harimu.

Betul. Presiden Soekarno telah mengeluarkan Dekrit No. 316 Tahun 1953 yang menetapkan 22 Desember resmi sebagai Hari Ibu secara nasional. Tapi tidakkah nama resmi Hari Ibu itu dipilih karena pertimbangan eufimisme dan fatsoen berbahasa, di mana kata Ibu dipandang lebih halus, lebih sopan dari kata Perempuan? Sebab substansi kegiatan dan isu-isu sesudah ada dekrit itu adalah perempuan, bukan Ibu. "Kita boleh bangga bahwa perempuan Indonesia selanjutnya dapat berjuang bahu-membahu bersama kaum laki-laki di bidang ekonomi, sosial dan bidang-bidang lainnya," (Ibu Negara Fatmawati pada kongres perempuan di Surabaya 14-17 Desember 1954; De Niewsgier, Kamis 16/12/1954). Presiden Soekarno menyampaikan pidato yang menekankan peran perempuan dalam kampanye perjuangan merebut Irian Barat (Nieuw Guinea Koerier, Senin 18/12/1961). Kembalikan substansi hari perempuan 22 Desember sesuai Kongres 1928.

Beestenmarkt, 27 Desember 2013

Keterangan: Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan redaksi.


(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads