Chairul Tanjung, From Zero To Hero

ADVERTISEMENT

Kolom

Chairul Tanjung, From Zero To Hero

- detikNews
Jumat, 13 Des 2013 20:36 WIB
Jakarta - Universitas Padjadjaran, Kamis (12/12) pagi menganugerahi Chairul Tanjung, gelar Doktor Honoris Causa ( HC) bidang Ilmu Ekonomi Kewiausahaan. Penganugerahan oleh Rektor Unpad, Ganjar Kurnia, di Graha Sanusi Hardjadinata, Unpad Bandung Jawa Barat. Di depan ratusan undangan, Chairul Tanjung menyampaikan orasi " Inovasi, Kewirausahaan dan Kepemimpinan Mempercepat Indonesia Maju".

Rektor Unpad mengatakan, sebelum ini di antara penerima Doktor Honoris Causa terdapat nama- nama besar seperti Soekarno, Tito dan Mahathir Mohammad. Menanggapi itu, Chairul Tanjung menukas : berarti ( saya ) lebih kurang setara dengan tokoh- tokoh besar itu. Tapi yang mengharukan dalam acara itu ialah saat Chairul Tanjung menggenggam buket bunga, berjalan dari atas panggung, dan menyerahkan buket tanda kasih itu kepada ibunda tercinta. Prosesi itu diiringi sebuah lagu yang kabarnya diciptakan khusus oleh Rektor Unpad untuk menunjukkan pengabdian anak kepada orangtuanya.

Doktor HC yang dterima Chairul Tanjung kemarin adalah gelar doktor HC kedua. Yang pertama, gelar DR HC bidang ekonomi diterima Chairul Tanjung Agustus lalu dari Universitas Airlangga. Gelar - gelar akademik itu memang layak dikantongi oleh pengusaha sukses yang sudah 32 tahun ini bergelut di dunia usaha, dan berangkat dari bawah sekali.

Saya lupa siapa yang memperakarsai pertemuan sejumlah wartawan dengan Chairul Tanjung, di sebuah resto Jepang di Hotel Hilton, Jakarta, pada awal tahun 1998. Yang jelas, itulah perkenalan saya pertama kali dengan CT - panggilan akrab Chairul Tanjung. Settingnya, hanya beberapa bulan menjelang kejatuhan rezim Orde Baru. Suasana chaos tengah melanda negeri. Aksi unjuk rasa marak dimana-mana, setiap hari. Demonstran bahkan banyak yang sudah nekat terang-terangan menuntut Pak Harto turun. Mata uang rupiah alami depresiasi sampai ratusan persen dibandingkan dengan mata uang dolar AS. Di mana mana suasana mencekam, disulut amarah rakyat yang mungkin sudah berminggu minggu menahan lapar.

Dalam pertemuan itu, sebagai pengusaha muda CT memaparkan pandangannya mengenai situasi mutakhir tanah air. Tetapi yang paling saya “apreciate” ialah program bakti sosialnya : berbagi sejuta sembako untuk rakyat tak mampu. Ini solusi yang lebih kongkrit mengatasi kesulitan rakyat ketimbang pelbagai analisis dan seruan yang jika salah- salah mengutarakan malah menjadi provokasi yang memicu amok.

Program televisi Cek & Ricek yang baru beberapa bulan tayang di RCTI kala itu sedang menjadi favorit masyarakat. Maka itu langsung saya tawarkan kerjasama untuk penyaluran sembako di tiga wilayah : Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Suatu kali, di atas pesawat menuju Surabaya, CT mengilhami saya gagasan membuat Tabloid C&R. " Nanti kita kongsi, deh," bisiknya. Tetapi rencana patungan itu tak pernah terwujud. CT mau menunggu sampai gejolak dolar mereda baru menerbitkan tabloid. Maklum, kertas sebagai komponen terbesar, harganya melambung mengikuti dolar yang membumbung amat tinggi. Kontras dengan daya beli masyarakat yang amat merosot drastis. Beberapa grup penerbit raksasa malah menutup sejumlah tabloid dan majalahnya. Itu agaknya yang bikin CT kecut. Perhitungan bisnis CT tentu jauh lebih matang dibandingkan dengan saya. Apalagi dia sudah memiliki majalah waktu itu, " Panji Masyarakat". Tapi CT sempat menyesalkan saya menerbitkan Tabloid C&R tidak bersama dia. Dia menunjukkan angka-angka penghitungan yang cukup akurat demi meyakinkan bahwa bukan dia yang mangkir jika kerjasama tidak terlaksana.

CT terjun ke dunia bisnis dari bawah sekali, ketika masih berusia belasan tahun. Dari sebuah kios yang menawarkan jasa foto copy dan pembuatan bundel skripsi untuk mahasiswa. Sekarang ia masuk dalam kelompok orang paling kaya di dunia dengan konglomerasi yang menggurita mencakup bidang usaha keuangan, property dan multimedia. Tahun 2010 Majalah Forbes memasukkan namanya dalam daftar orang terkaya di dunia, dan urutan 11 terkaya di Indonesia.

Tidak banyak yang tahu, CT memacu hampir seluruh bisnisnya di saat Indonesia menghadapi krisis multidimensional -- krisis yang membuat banyak konglomerasi bisnis runtuh, bergelimpangan jadi mayat-mayat. Saya menganggap CT sebaik baik fenomena tokoh from zero to hero. Ia seakan sengaja diciptakan Tuhan, menjadi contoh seperti yang tertulis dalam kitab suci : di dalam kesulitan Tuhan menyediakan kemudahan. Tidak berlebihan jika sesorang kawannya pernah menjuluki CT adalah fenomena satu dalam sejuta. Sebelum reformasi, bisnis CT meski masih skala kecil tetapi termasuk sukses.

Tak mudah mengorek informasi kiat- kiat CT untuk dishare dalam tulisan. Dia bukanlah tipe seperti kebanyakan orang kita yang gemar bicara sesumbar, meski banyak bidang usahanya "menuntut" cara itu. CT juga bukan pula tipe seperti kebanyakan tokoh Indonesia yang gemar menceritakan kisah hidupnya dengan kemasan melodrama atau, bahkan dengan “mengemas” ala reality show. Reality show? Ya, kiat menonjolkan diri pribadi dengan kemasan seolah itu tak direncanakan. Fenomena itu akhir-akhir ini menjangkiti banyak tokoh Nasional kita. Tujuannya memaksa orang menelan pencitraan dirinya sebagai tokoh berkarakter kuat, langka, kerap juga dengan bumbu- bumbu cerita seolah korban pendzoliman.

Setelah masuk daftar orang terkaya dunia, Alhamdulillah CT tidak mabuk sukses. Ia tetap seperti dulu, seperti yang saya kenal : familyman. Tapi itu tidak berarti dia termasuk pria takut isteri, yang selalu khawatir sedikit saja membuat gerakan mencurigakan, akan hadapi risiko di BAP -- dibuatkan berita acara -- oleh isterinya. Sikap CT pasti karena berpegang pada kredo orang sukses, bisa dipercaya dunia karena dipercaya isteri.

Pembawaan CT memang sederhana. Bisa dilihat dari cara berpakaian sehari- hari. Rasanya dia lebih banyak mengenakan kemeja batik ke pelbagai acara ketimbang dengan stelan jas. Suatu kali ketika saya mengobrol santai dengan CT di lobby kantornya, seorang teman mengamati dari jauh. Teman itu terpana. Ternyata ikat pinggang yang dipakai CT masih kado dari kawan ini ketika CT berulang tahun beberapa waktu lalu. Padahal, untuk CT apa susahnya menggunakan ikat pinggang model terbaru. Dia pemilik puluhan butik merek dunia di Indonesia seperti HugoBoss, Atienne Aigner, Canali, dan sebagainya.

Saya kerap diundang CT ngobrol di kantornya, terutama di awal-awal persiapan siaran TransTV. “ Tapi ini bukan untuk ditulis. Nanti aja,” ucapnya tiap kali. CT tampak dengan sadar lebih memilih membiarkan karya- karyanya nanti yang berbicara banyak tentang dia, ketimbang sebaliknya : dialah yang berbicara banyak tentang karya-karyanya.

Terjunnya CT di dunia media menarik dicatat. Ayahnya A.G Tanjung, dulu wartawan yang di zaman Orde Lama memiliki surat kabar beroplah kecil. Tetapi sikap politik ayahnya berseberangan dengan penguasa, sehingga media itu akhirnya tutup. CT memasuki bisnis media sekitar 1997, ia terjun sebagai pemodal Majalah "Panji Masyarakat" milik keluarga Buya Hamka. Tetapi majalah itu tidak sampai dua tahun tutup.

Setelah reformasi CT mendirikan stasiun televisi Trans TV yang launchingnya 15 Desember 2001. Itu langkah mencengangkan di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, lebih-lebih harus berkompetisi ketat dengan media pendahulunya seperti RCTI, SCTV, Indosiar.

Tetapi CT menyiapkan TransTV dengan matang. Dia kumpulkan hampir semua tokoh terbaik industri televisi di Indonesia. Antaranya, Ishadi Sk, mantan Dirut TVRI dan Alex Kumara, mantan Direktur Operasional RCTI, serta sejumlah profesional lainnya.

"CT termasuk orang yang sangat cepat mempelajari hampir segala hal mengenai televisi" kata Alex Kumara mengenang. Alex hanya beberapa tahun mengawal Trans TV.

Ibarat bayi ajaib, Trans TV tidak terlalu butuh waktu lama untuk berlari. Lewat berbagai program hiburan inovatifnya, Trans TV sudah mencapai sukses ketika masih dalam usia kurang 3 tahun. Saya ikut bangga pada keberhasilan itu. "Kroscek" program produksi anak perusahaan Bintang Group menjadi infotainmen pertama yang mengisi televisi itu sampai 5 tahun pertama. Meski sudah lebih 3 tahun program itu stop di Trans TV, kebanggan saya tidak berkurang. Pernah merasakan suka duka ikut “mengawal” TransTV berjuang hingga eksis. Termasuk ketika menghadapi pembayaran yang kerap tersendat. Ishadi sampai memuji. “Terima kasih ya, modal Anda kuat sekali, berapa lama pun diutangin tidak sampai goyah.” kata Ishadi. “Sebenarnya tidak kuat. Tetapi mau bilang apa, CT kan kawan. Saya percaya CT. Saya harus sekuat tenaga mendukungnya”, jawab saya. Dalam sebuah pertemuan di sela-sela Hari Pers Nasional Palembang, Februari 2010, CT mengakui sepertiga penghasilan grup Trans bersumber dari program infotainmen.

Bukan itu catatan yang saya sebut menarik. Yang menarik ialah akuisisi TV7 milik Kompas Group oleh TransTV pada tahun 2008. TV7 yang kabarnya sudah bleeding, tapi ditangan CT dengan nama baru Trans 7 tidak sampai setahun kerugian TV7 berhasil kembali. Tahun kedua bahkan sudah membagi keuntungan ke pemilik lama.

TV 7 adalah milik raja media yang berpengalaman hampir 50 tahun di industri media, nyatanya selamat ditangan CT. Padahal dengan parameter “jam tayang”, jelas CT jauh tertinggal oleh Jacob Oetama, boss besar Kompas Group. Ketika JO menerbitkan Kompas 28 Juni 1965, CT bahkan belum melek huruf.

CT lahir di Jakarta 16 Juni 1962. Dia memulai bisnis ketika kuliah di FKG-UI awal tahun 1980an demi memenuhi kebutuhan kuliahnya. Ia berjualan buku kuliah stensilan, jasa foto copy, kaos. CT pernah juga membuka toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya. Selesai kuliah CT mendirikan PT Pariarti Shindutama bersama tiga rekannya pada tahun 1987 dengan modal Rp.150 juta dari Bank Exim. Perusahaan itu memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Dari sinilah keberuntungan berpihak setelah usaha toko peralatan kedokterannya bangkrut. Di perusahaan patungan bertiga kawannya itu, CT tidak bertahan lama. Karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha, CT akhirnya mendirikan usaha sendiri. Jatuh bangun di awal dia berkiprah dalam dunia bisnis rupanya menjadi "mata kuliah" yang berhasil membentuknya jadi pengusaha tangguh. Majalah Forbes telah memasukkan CT dalam peta orang kaya dunia. Kita tahu ada kultur baru dalam komunitas orang orang kaya dunia. Mereka menyadari kekayaan " haram " kepemilikannya tanpa bisa memberi kontribusi pemeliharaan peradaban lewat jalan pendidikan dan perbaikan kualitas kehidupan manusia.

Dua tahun lalu saya menulis mengenai gerakan" The Giving Pledge" di AS itu. Mengapresiasi Michael Blomberg, walikota New York yang menyumbangkan USD 250 juta atau 2.30 trilyun kepada 1400 lembaga nirlaba di seluruh dunia. Sumbangan itu senilai 60% dari kekayaannya. Blomberg bersama 40 milyarder AS memang telah berkomitmen menyerahkan separuh kekayaan mereka kepada lembaga amal. Langkah itu kabarnya diikuti para milliarder lain di dunia.

Aksi amal ini dipimpin pendiri Microsoft Bill Gates dan investor saham kenamaan Warren Buffet. Majalah Forbes memperkirakan dana untuk amal itu bakal terkumpul sekitar USD 150 milyar, lebih kurang 1400 trilyun rupiah, setara dengan APBN kita tahun 2012. Namun dalam hitungan Wall Street Jurnal dana amal yang terkumpul bisa mencapai USD 600 milyar atau Rp. 5500 trilyun.

Saya tidak tahu apakah CT mendapat undangan ikut aksi filantropis konglomerat itu. Rasanya tidak berlebihan kalau kita memimpikan suatu hari kelak dia mengikuti jejak orang-orang kaya dunia tersebut. CT lahir dan tumbuh dalam keluarga yang taat beragama. Dia pasti tahu, isi Al Quran memang paling banyak mengamanatkan urusan keperdulian terhadap golongan tak mampu. Surat Al Baqarah (QS 2:261) salah satunya bisa menjadi pijakan. Isinya : "..... perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, yang pada setiap tangkainya ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.

CT tahu sejak gerakan reformasi 1998, hingga RI dipimpin oleh empat presiden setelah Pak Harto, keadaan Indonesia tidak banyak berubah. Angka kemiskinan masih cukup tinggi. Pemerintah rezim siapapun setiap kali menghadapi jalan buntu selalu menempuh cara tidak kreatif : menaikkan BBM, padahal itu terbukti semakin menyengsarakan hidup rakyat. Keadaan itu bisa menjadi ladang amal bagi yang mengetahui, dan bisa membantu mengatasi.

Tahun 1998 CT menggebrak dengan gerakan amal sejuta sembako. Rasanya, hikmah dari gerakan itu sudah dipetik CT sekarang.


*Pemimpin Redaksi Tabloid C&R


(fjr/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT